Lainnya

World Suicide Prevention Day 2025: Harapan Selalu Ada, Dukungan Kecil Bisa Menyelamatkan

beritahariini.news – Setiap tanggal 10 September, dunia memperingati World Suicide Prevention Day sebagai pengingat bahwa setiap kehidupan bernilai dan selalu ada harapan di tengah kesulitan. Tahun 2025, peringatan ini kembali menjadi sorotan di Indonesia, dengan fokus pada pentingnya dukungan sosial, keluarga, dan layanan psikologis dalam mencegah kasus bunuh diri.

Dalam kegiatan Workshop Upaya Pencegahan Bunuh Diri Melalui Pemberitaan Bertanggung Jawab di Media Massa dan Media Sosial di Jakarta, dr. Imran Prambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, menegaskan bahwa setiap individu dapat berperan sebagai penolong pertama bagi orang-orang di sekitarnya.

“Dukungan sederhana, seperti mendengarkan dan memberi empati, bisa menjadi penyelamat,” kata Imran.

Keluarga Sebagai Penopang Utama

Keluarga idealnya menjadi ruang paling aman untuk kembali ketika seseorang menghadapi tekanan. Namun, realita menunjukkan fakta berbeda. Menurut data layanan darurat, masalah keluarga justru menjadi faktor dominan yang mendorong individu menghubungi nomor bantuan krisis.

Imran menekankan pentingnya pengasuhan positif di lingkungan rumah. Orangtua dituntut untuk:

  • Mengelola emosi secara sehat,

  • Berkomunikasi efektif dengan anak,

  • Memberikan disiplin tanpa kekerasan.

BACA JUGA : 5 Kebiasaan Sepele yang Bisa Menyebabkan Gagal Ginjal, Waspada Sebelum Terlambat

Lingkungan keluarga yang penuh kasih dan terbuka akan menciptakan rasa aman. Dengan demikian, anggota keluarga yang mengalami tekanan psikologis tidak merasa sendirian dan lebih berani menyampaikan masalah yang mereka hadapi.

“Banyak orang menelepon karena masalah keluarga. Padahal keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang,” ujar Imran.

Kehangatan dalam keluarga dapat mengurangi risiko isolasi emosional yang kerap menjadi pemicu tindakan ekstrem.

Peran Teman dan Komunitas dalam Pencegahan

Selain keluarga, teman sebaya dan komunitas sering menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan perilaku seseorang. Melalui program Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP), masyarakat didorong untuk memiliki keterampilan dasar dalam mendampingi individu yang sedang berada dalam krisis mental.

Tujuan utama P3LP adalah:

  1. Membantu menenangkan individu yang sedang panik,

  2. Memberikan ruang aman untuk berbicara,

  3. Menghubungkan mereka dengan tenaga profesional.

“Kadang orang hanya butuh diajak ngobrol supaya lebih tenang. Itu bisa dilakukan siapa saja, bukan hanya psikolog,” jelas Imran.

Lingkungan sosial yang suportif terbukti mampu mengurangi tingkat stres dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Komunitas yang aktif peduli dapat memberikan pengaruh positif, sehingga orang yang rentan merasa lebih diterima dan tidak terisolasi.

BACA JUGA : Asupan Makanan yang Memicu kesehatan mental dan emosional: Waspadai 5 Jenis Ini

Layanan Konseling Gratis Sebagai Ruang Aman

Pencegahan bunuh diri juga diperkuat dengan keberadaan layanan konseling gratis. Di Indonesia, masyarakat dapat menghubungi 119 ekstensi 8 untuk berbicara dengan petugas, baik dalam kondisi darurat maupun sekadar untuk mencari teman curhat.

Imran mengungkapkan bahwa dalam sehari, layanan ini bisa menerima 200–300 panggilan. Mayoritas penelepon berasal dari kelompok usia 21–30 tahun, dengan sekitar 70 persen di antaranya adalah perempuan.

Menariknya, sebagian besar panggilan tidak selalu terkait krisis mendesak, melainkan lebih banyak berhubungan dengan konflik keluarga. Fakta ini menunjukkan bahwa banyak individu membutuhkan ruang aman untuk didengarkan tanpa harus menunggu hingga kondisi mencapai titik krisis.

Layanan konseling semacam ini membuktikan bahwa akses komunikasi yang cepat, ramah, dan mudah dijangkau dapat menjadi penyelamat. Pesan yang ingin disampaikan jelas: tidak ada seorang pun yang benar-benar sendirian menghadapi masalahnya.

Kesadaran Kolektif Masyarakat Meningkat

Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran publik tentang pentingnya kesehatan mental semakin menguat. Pemerintah bersama berbagai organisasi meluncurkan sejumlah program pencegahan bunuh diri, antara lain:

  • Penguatan pengasuhan positif di sekolah melalui kurikulum pendidikan,

  • Pelatihan pertolongan pertama psikologis bagi tenaga pendidik, aparat, dan komunitas,

  • Layanan darurat dan hotline nasional yang mudah diakses kapan saja.

Kemenkes RI menegaskan bahwa kehidupan setiap individu berharga. Oleh karena itu, langkah kolektif diperlukan agar mereka yang sedang terpuruk tidak merasa sendirian.

“Hidup itu berharga dan setiap orang berhak mendapat dukungan,” tegas Imran.

BACA JUGA : Mahasiswa Unpad Ciptakan “Incensory”, Terapi Fobia dengan Perpaduan Kemenyan dan Teknologi Virtual Reality

Peran Media dalam Pencegahan Bunuh Diri

Workshop yang digelar bertepatan dengan World Suicide Prevention Day juga menyoroti tanggung jawab media massa dan media sosial. Pemberitaan yang tidak tepat dapat memperburuk kondisi psikologis individu rentan. Oleh karena itu, jurnalis dan pengelola platform diingatkan untuk mengedepankan etika dalam melaporkan kasus bunuh diri.

Media didorong untuk:

  • Menghindari detail metode bunuh diri,

  • Menyediakan informasi bantuan,

  • Mengangkat kisah pemulihan dan harapan, bukan sekadar tragedi.

Dengan cara ini, media dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan, bukan justru menjadi pemicu meningkatnya kasus.

Mengubah Empati Menjadi Aksi Nyata

Peringatan World Suicide Prevention Day 2025 membawa pesan bahwa setiap orang memiliki peran. Dukungan sederhana—sekadar mendengarkan, menemani, atau menunjukkan empati—dapat menjadi penyelamat bagi seseorang yang tengah berada di ambang keputusasaan.

Empati perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari keluarga, pertemanan, hingga komunitas sosial, semuanya bisa menjadi lingkaran perlindungan bagi individu yang rentan.

World Suicide Prevention Day 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen kolektif dalam menjaga kesehatan mental masyarakat. Dari keluarga hingga komunitas, dari layanan konseling hingga media, semua pihak memiliki peran vital dalam mencegah terjadinya bunuh diri.

Pesan utama yang harus selalu diingat adalah bahwa harapan selalu ada. Dukungan sederhana, seperti mendengarkan dan memberi empati, bisa menjadi benteng yang menyelamatkan nyawa. Setiap kehidupan berharga, dan setiap individu berhak mendapat dukungan untuk bangkit kembali.

Priscilla Austin

Recent Posts

Pemerintah Pastikan BBM Tak Naik di Tengah Isu Kenaikan Harga

beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…

6 bulan ago

Kejari Karo Bongkar Pola Dugaan Korupsi Jasa Videografi, Amsal Sitepu Jadi Tersangka

beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…

6 bulan ago

Gol yang Lama Dinanti Paul Pogba Akhiri Puasa Empat Tahun

beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…

6 bulan ago

Pejabat Tertinggi Garda Revolusi Iran Gugur dalam Serangan Israel di Bandar Abbas

beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…

6 bulan ago

Trump Manuver Diplomatik Lewat Pakistan, Dorong Gencatan Senjata dengan Iran

beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…

6 bulan ago

Sejarah Baru Moto3 Honda Team Asia Soroti Debut Fantastis Veda Ega Pratama

beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…

6 bulan ago