beritahariini.news – Makanan tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi bagi tubuh, tetapi juga memiliki peran besar terhadap kesehatan mental dan emosional. Hubungan antara sistem pencernaan dan otak yang bersifat dua arah menjadikan makanan sebagai faktor penting dalam menentukan kualitas kesehatan mental seseorang. Tidak heran jika usus kerap dijuluki sebagai “otak kedua” manusia.
Namun, tidak semua jenis makanan memberikan efek positif. Beberapa di antaranya justru dapat memicu kelelahan, memperburuk suasana hati, hingga meningkatkan risiko stres. Berdasarkan kajian yang disampaikan oleh Dr. Uma Naidoo, pakar nutrisi dan psikiater nutrisi, setidaknya ada lima jenis makanan yang sebaiknya diwaspadai karena berpotensi merugikan kesehatan mental dan emosional.
1. Makanan Olahan: Nikmat Sesaat, Risiko Jangka Panjang
Produk makanan olahan seperti kue kemasan, keripik, permen, soda, hingga roti pabrikan memang digemari karena rasanya yang lezat dan praktis. Namun, sebagian besar makanan ini kaya akan gula tambahan, termasuk sirup jagung tinggi fruktosa.

Also Read
Konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang dapat memicu peradangan pada otak. Peradangan ini berkaitan erat dengan munculnya depresi, kecemasan, serta kelelahan kronis. Aliran energi yang dihasilkan dari gula olahan juga bersifat tidak stabil: naik dengan cepat lalu turun drastis, sehingga menimbulkan rasa lemas setelahnya.
Alih-alih mengandalkan makanan olahan, pola makan sehat sebaiknya diarahkan pada konsumsi makanan segar dan utuh. Buah-buahan, sayuran hijau, daging organik, dan ikan segar terbukti lebih bermanfaat dalam menjaga keseimbangan energi dan kestabilan suasana hati.
2. Minyak Olahan: Tinggi Omega-6, Rendah Omega-3
Industri pangan modern banyak memproduksi minyak olahan yang murah dan mudah diakses, seperti minyak jagung, kedelai, bunga matahari, maupun minyak sawit. Meski sering digunakan dalam memasak sehari-hari, kandungan asam lemak omega-6 yang tinggi pada minyak ini berpotensi menimbulkan peradangan dalam tubuh.
Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan konsumsi tinggi omega-6 lebih berisiko mengalami depresi dibandingkan mereka yang lebih banyak mengonsumsi omega-3. Hal ini karena omega-6 cenderung merangsang proses inflamasi, sementara omega-3 justru bersifat anti-inflamasi.
Untuk menjaga kesehatan mental, para ahli menyarankan mengganti minyak olahan dengan minyak zaitun extra virgin atau minyak alpukat. Kedua minyak ini kaya akan lemak sehat yang mendukung fungsi otak sekaligus mengurangi risiko stres dan depresi.
BACA JUGA : Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan pada Anak yang Sering Terabaikan
3. Gula Tambahan dan Gula Rafinasi: Pemicu Peradangan dan Ketergantungan
Banyak orang mengira gula hanya terdapat pada makanan manis seperti kue atau permen. Faktanya, gula tambahan tersembunyi dalam berbagai produk, mulai dari saus tomat, saus salad, hingga makanan gurih seperti kentang goreng.
Konsumsi gula berlebihan menyebabkan kadar gula darah melonjak di atas kebutuhan tubuh. Akibatnya, tubuh mengalami peradangan yang meningkatkan risiko suasana hati tidak stabil, kecemasan, hingga depresi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, gula memiliki sifat adiktif yang membuat seseorang semakin sulit mengendalikan konsumsinya. Dengan kata lain, semakin banyak gula yang dikonsumsi, semakin tinggi pula keinginan untuk mengulanginya.
Solusi terbaik adalah memperbanyak konsumsi makanan utuh yang tidak diproses dengan tambahan gula. Semakin rendah asupan gula, semakin mudah tubuh menstabilkan energi dan emosi.
4. Makanan yang Digoreng: Lezat, tetapi Mengancam Kesehatan Mental
Siapa yang tidak tergoda dengan makanan gorengan yang gurih dan renyah? Meski memberikan kepuasan rasa, konsumsi makanan gorengan dalam jumlah berlebihan ternyata berdampak buruk bagi kesehatan mental.
Sebuah studi pada 2016 yang melibatkan lebih dari 700 pekerja pabrik menunjukkan bahwa mereka yang sering mengonsumsi makanan gorengan lebih berisiko mengalami depresi sepanjang hidupnya. Hal ini berkaitan dengan penggunaan minyak tidak sehat dalam proses penggorengan yang memicu inflamasi serta menurunkan kualitas kesehatan otak.
Makanan yang digoreng umumnya tinggi lemak trans dan lemak jenuh, yang tidak hanya berbahaya bagi jantung, tetapi juga memengaruhi kestabilan suasana hati. Karena itu, membatasi konsumsi gorengan menjadi langkah penting untuk mencegah kelelahan mental dan emosional.
5. Pemanis Buatan: Alternatif Gula yang Menjadi Ancaman
Dalam upaya mengurangi konsumsi gula, banyak orang beralih pada pemanis buatan yang terdapat dalam produk diet maupun makanan “sehat”. Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa pemanis buatan dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan mental.
Beberapa studi mengungkap bahwa konsumsi pemanis buatan, terutama pada minuman rendah kalori, berkorelasi dengan tingkat depresi yang lebih tinggi. Lebih buruk lagi, pemanis buatan berpotensi mengubah konsentrasi neurotransmitter yang berperan dalam mengatur suasana hati, sehingga berisiko merusak kestabilan emosi.
Selain itu, beberapa jenis pemanis buatan bahkan dinilai beracun bagi sel otak. Efek jangka panjang dari konsumsi berlebihan dapat mengganggu fungsi kognitif serta memperburuk kondisi stres.
BACA JUGA : PM Singapura Perketat Aturan Vape, Perlindungan Kesehatan Generasi Muda Jadi Prioritas
Hubungan Usus dan Otak: “Otak Kedua” Manusia
Semua jenis makanan yang dikonsumsi manusia akan melewati sistem pencernaan. Hubungan erat antara usus dan otak membuat pola makan tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik, tetapi juga mental. Ketidakseimbangan mikrobiota usus akibat pola makan buruk dapat mengganggu komunikasi antara usus dan otak, memicu inflamasi, hingga mengubah suasana hati.
Karena itu, menjaga pola makan seimbang dengan nutrisi berkualitas tinggi sangat penting dalam menjaga kesehatan mental. Konsumsi makanan kaya probiotik seperti yoghurt, tempe, atau kimchi dapat membantu menyeimbangkan flora usus sehingga mendukung kestabilan emosi.
Alternatif Pola Makan untuk Energi dan Kesehatan Mental
Untuk menghindari dampak negatif dari lima jenis makanan pemicu stres tersebut, para ahli menyarankan beralih ke pola makan berbasis makanan alami dan minim proses. Beberapa rekomendasi di antaranya:
-
Perbanyak buah dan sayuran segar kaya antioksidan untuk menangkal radikal bebas dan peradangan.
-
Konsumsi ikan berlemak seperti salmon, sarden, atau tuna yang kaya omega-3 untuk mendukung fungsi otak.
-
Pilih sumber protein sehat seperti kacang-kacangan, telur, dan daging tanpa lemak untuk menjaga energi stabil.
-
Gunakan minyak sehat seperti minyak zaitun atau minyak alpukat untuk memasak.
-
Batasi konsumsi kafein dan gula, karena keduanya dapat memperburuk gangguan tidur dan suasana hati.
Makanan bukan sekadar bahan bakar tubuh, melainkan juga faktor penting yang memengaruhi kesehatan mental dan emosional. Konsumsi berlebihan makanan olahan, minyak olahan, gula rafinasi, gorengan, dan pemanis buatan terbukti dapat memicu kelelahan, memperburuk stres, bahkan meningkatkan risiko depresi.
Sebaliknya, pola makan alami dengan bahan segar dan minim proses mampu menjaga kesehatan usus sekaligus meningkatkan keseimbangan otak. Dengan kesadaran memilih makanan yang tepat, kualitas hidup dapat ditingkatkan, energi tetap stabil, dan risiko stres berlebihan dapat ditekan.

















