beritahariini.news – Dalam sebulan terakhir, harga beras di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Untuk beras medium jenis IR 64, harga kini menyentuh angka Rp14.000 per kilogram, sementara beras premium seperti menthik dan beras wangi meroket hingga Rp17.000 per kilogram. Kenaikan ini tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga dikeluhkan oleh para pedagang di pasar tradisional.
Ironisnya, meski stok beras di gudang Bulog wilayah Ngawi melimpah, belum ada intervensi pasar secara langsung guna menekan harga. Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan DKPP Ngawi, Dwi Rahayu Puspitaningrum, mengonfirmasi bahwa ketersediaan beras tidak menjadi masalah. Stok Bulog mencapai 38.700 ton, tersebar di dua gudang besar di Keniten dan Geneng.
Mengapa Bulog Belum Intervensi Pasar Beras Ngawi?
Meskipun kondisi stok beras berlimpah, upaya intervensi pasar belum dapat dilakukan. Hal ini disebabkan oleh belum adanya instruksi resmi dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), yang menjadi pemegang kewenangan untuk mengatur penyaluran beras di bawah program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Also Read
“Kami belum dapat melakukan intervensi karena kebijakan penyaluran masih menunggu perintah dari Bapanas,” ujar Rahayu.
BACA JUGA: Harga Beras di Cirebon Naik Bertahap: Stok Cukup, Produksi Turun, Petani Tertekan
Beras SPHP merupakan program yang dirancang pemerintah untuk menstabilkan harga dan menjaga daya beli masyarakat, dengan menyuplai beras kualitas medium ke pasar tradisional dan retail modern dengan harga terjangkau. Namun, ketiadaan distribusi beras SPHP dalam beberapa bulan terakhir menambah tekanan terhadap harga beras di pasaran.
Respons DKPP Ngawi: Kirim Surat Permohonan ke Bapanas
Melihat kondisi yang kian dikeluhkan masyarakat, pihak DKPP Ngawi telah mengirimkan surat resmi kepada Bapanas untuk meminta izin penyaluran beras SPHP atau cadangan Bulog ke pasar. Diharapkan instruksi tersebut dapat keluar pada akhir Juni 2025, sehingga pemerintah daerah dapat segera melakukan operasi pasar guna menekan harga.
“Harapannya akhir bulan Juni ini sudah ada jawaban. Sehingga segera bisa dilakukan upaya untuk menurunkan harga beras di pasaran,” kata Rahayu.
Kenaikan Harga Gabah: Faktor Pendorong Kuat?
Dari sisi pedagang, seperti yang disampaikan Sutini, penjual beras di Pasar Besar Ngawi, kenaikan harga terjadi baik untuk jenis medium maupun premium. Ia menyatakan bahwa harga IR 64 naik dari Rp13.000 menjadi Rp14.000, sedangkan beras premium naik dari Rp15.000 menjadi Rp17.000 per kilogram.
Meskipun pedagang tidak secara pasti mengetahui penyebab utama, kenaikan harga gabah dari petani diduga menjadi faktor dominan. Saat harga gabah di tingkat petani naik, biaya produksi beras turut meningkat, yang akhirnya berdampak langsung pada harga jual di tingkat konsumen.
Kondisi Harga Beras dan Dinamika Pasar Regional
BACA JUGA: Harga Minyak Dunia Diramal Tembus US$110 Jika Iran Tutup Selat Hormuz
Fenomena kenaikan harga beras di Ngawi sebenarnya tidak berdiri sendiri. Secara nasional, harga beras memang mengalami fluktuasi akibat beberapa faktor seperti:
-
Penurunan produksi akibat cuaca ekstrem (El Nino)
-
Keterlambatan masa panen di sejumlah daerah
-
Kenaikan biaya distribusi dan transportasi
-
Minimnya suplai beras SPHP di pasaran
Ngawi sebagai salah satu sentra pertanian di Jawa Timur pun tak luput dari tekanan tersebut, terutama karena beras hasil panen lokal mengalami penurunan pasokan akibat pengaruh musim tanam yang tidak ideal.
Dampak bagi Konsumen dan Pelaku Usaha Kecil
BACA JUGA: Harga Emas Antam Turun ke Rp 1.924.000 per Gram per 26 Juni 2025, Buyback Juga Turun
Kenaikan harga beras tentu memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya rumah tangga dan pelaku usaha mikro seperti warung makan dan pedagang nasi. Komoditas beras adalah komponen utama konsumsi harian, dan fluktuasi harga beras memberikan dampak langsung pada tingkat inflasi pangan daerah.
Jika intervensi pasar tidak segera dilakukan, maka dikhawatirkan:
-
Daya beli masyarakat akan menurun
-
Tingkat konsumsi beras berpotensi turun
-
Pedagang kecil kesulitan menjaga margin keuntungan
Harapan ke Depan: Peran Bapanas dan Distribusi yang Efisien
Dalam situasi seperti ini, peran Badan Pangan Nasional menjadi sangat strategis. Kecepatan Bapanas dalam memberikan instruksi penyaluran beras cadangan ke pasar sangat menentukan keberhasilan intervensi harga. Bila intervensi pasar melalui operasi pasar beras SPHP segera dilakukan, maka harga bisa kembali normal dalam waktu singkat.
Stok Melimpah Tak Cukup, Koordinasi Kebijakan Diperlukan
Kondisi yang terjadi di Ngawi menunjukkan bahwa stok pangan yang cukup di gudang Bulog tidak serta-merta mampu menahan laju kenaikan harga di pasar. Tanpa dukungan kebijakan penyaluran dari otoritas pusat, upaya pemerintah daerah untuk menstabilkan harga beras masih terbatas.
Diperlukan koordinasi cepat antar lembaga, mulai dari Bapanas, Bulog, hingga dinas pangan daerah, agar solusi jangka pendek dan menengah dapat segera dieksekusi. Masyarakat menantikan langkah nyata pemerintah untuk menjaga harga beras tetap terjangkau, dan memastikan bahwa kebutuhan pangan pokok tetap terpenuhi tanpa memberatkan kantong rakyat.















