beritahariini.news – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Goldman Sachs, dalam laporan riset terbarunya, memproyeksikan bahwa harga minyak mentah dunia dapat melonjak hingga US$110 per barel apabila Iran benar-benar menutup Selat Hormuz salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.
Selat Hormuz: Jalur Vital Pasokan Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan koridor laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini menjadi rute ekspor utama minyak mentah dari negara-negara produsen besar seperti Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Irak menuju pasar utama di Asia, Eropa, dan Amerika.
Lebih dari 20 juta barel minyak per hari (bpd)—sekitar 30% dari konsumsi global dan lebih dari 50% ekspor minyak dari Timur Tengah—melewati selat ini. Maka, gangguan sekecil apapun di jalur ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak secara global.
Prediksi Goldman Sachs: Brent Tembus US$110 Jika Hormuz Ditutup
Dalam riset yang dirilis Minggu (22/6/2025) dan dikutip Reuters sehari sesudahnya, Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu akibat tindakan Iran, maka:
Harga Brent diprediksi mencapai puncak sebesar US$110 per barel
Setelahnya, harga minyak akan stabil di kisaran US$95 per barel pada kuartal IV tahun 2025
Jika Iran memangkas produksi hingga 1,75 juta bpd selama enam bulan, harga Brent akan naik ke level US$90 per barel
Bila gangguan berlangsung lebih lama, harga diperkirakan bertahan di kisaran US$70–US$80 per barel pada 2026
Pemicu Ketegangan: Persetujuan Iran untuk Tutup Selat Hormuz
Walaupun belum terealisasi secara resmi, parlemen Iran telah memberikan persetujuan terhadap opsi penutupan Selat Hormuz. Langkah ini merupakan respons terhadap serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran, yang telah memicu eskalasi situasi di kawasan.
Dengan adanya keputusan parlemen tersebut, 52% dari total pasokan minyak dunia kini berada dalam kondisi rawan, menciptakan atmosfer pasar yang sarat ketidakpastian.
Dampak Lanjutan pada Energi Global: Pasar Gas Alam Juga Terpengaruh
Selain minyak mentah, Goldman Sachs juga menyoroti potensi gangguan pada pasar gas alam, terutama di kawasan Eropa:
Indeks acuan gas alam TTF Eropa diperkirakan melonjak mendekati €74 per megawatt-jam (setara dengan US$25 per MMBtu), akibat ketidakpastian suplai energi dari kawasan Teluk.
Namun di sisi lain, harga gas alam di Amerika Serikat diprediksi stabil, karena kapasitas ekspor LNG yang kuat serta minimnya ketergantungan terhadap impor gas.
Insentif Global untuk Menjaga Stabilitas Selat Hormuz
Meskipun ancaman penutupan Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran besar, Goldman Sachs tetap optimis bahwa kekuatan ekonomi utama seperti Amerika Serikat dan China akan berupaya keras mencegah gangguan besar yang bersifat berkepanjangan.
Dua negara tersebut memiliki kepentingan strategis dan ekonomi yang besar dalam menjaga stabilitas pasokan energi dunia. Intervensi diplomatik dan tekanan ekonomi internasional diyakini akan digunakan untuk meredakan potensi konflik yang dapat menyebabkan krisis energi global.
Dampak Langsung ke Indonesia dan Asia Tenggara
Jika harga minyak melonjak ke angka US$110 per barel:
Biaya impor minyak Indonesia dan negara Asia lainnya akan membengkak
Harga BBM dan gas elpiji domestik berpotensi naik, menciptakan tekanan inflasi
Subsidi energi pemerintah akan membesar, berpotensi menekan anggaran fiskal
Sektor transportasi, manufaktur, dan logistik akan terkena imbas biaya operasional yang lebih tinggi
Kesimpulan
Potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran bukan sekadar ancaman lokal, melainkan krisis energi global yang dapat memicu lonjakan harga minyak hingga US$110 per barel. Prediksi Goldman Sachs ini menjadi peringatan bagi seluruh dunia akan pentingnya menjaga stabilitas geopolitik di kawasan Teluk.
Di tengah ketidakpastian global, negara-negara konsumen energi, termasuk Indonesia, perlu menyiapkan langkah mitigasi yang tepat untuk menjaga daya beli masyarakat dan keberlanjutan fiskal. Upaya diversifikasi energi dan penguatan cadangan strategis semakin relevan untuk menghadapi skenario terburuk yang mungkin terjadi.
beritahariini.news – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menetapkan susunan baru pimpinan dan subkomisi untuk periode 2022–2027. Keputusan ...
beritahariini.news – Kasus yang menimpa Salsa Anindya, guru honorer asal Jember, Jawa Timur, menjadi perbincangan publik setelah rekaman pribadinya tersebar ...
beritahariini.news – Warga Desa Sarang Burung Usrat, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, digemparkan oleh temuan tak biasa pada pondasi ...