60 Penyidik Dikerahkan Tangani Kasus Perampokan di Museum Louvre, 4 Pelaku Masih Buron
Museum Louvre di Paris, Prancis.
beritahariini.news – Kepolisian Prancis tengah memburu empat pelaku perampokan besar yang mengguncang dunia seni dan sejarah. Aksi pencurian spektakuler terjadi di Museum Louvre, Paris, pada Minggu pagi (19/10/2025), ketika para perampok berhasil membawa kabur delapan perhiasan kerajaan bernilai puluhan juta euro hanya dalam waktu beberapa menit.
Menurut laporan resmi Kementerian Dalam Negeri Prancis, sebanyak 60 penyidik khusus telah dikerahkan untuk menangani kasus ini. Tim gabungan dari Brigade de Répression du Banditisme (BRB) dan Police Judiciaire de Paris kini bekerja intensif menelusuri setiap jejak pelaku yang hingga kini masih buron.
Perampokan terjadi sekitar pukul 09.30 pagi waktu setempat, tepat ketika museum baru saja dibuka untuk publik. Berdasarkan rekaman CCTV, empat pria berpakaian hitam dan mengenakan masker memasuki Galerie d’Apollo — salah satu ruang paling bersejarah di Louvre yang menyimpan koleksi perhiasan kerajaan Prancis.
Pelaku terlihat menggunakan alat pemotong logam berkecepatan tinggi (angle grinder) untuk memecahkan kotak kaca pelindung. Dalam waktu kurang dari 7 menit, mereka berhasil mengambil delapan artefak berharga, termasuk mahkota Ratu Eugénie de Montijo, istri Kaisar Napoleon III, serta beberapa bros berlian, kalung safir, dan batu permata langka.
Salah satu petugas keamanan yang bertugas pagi itu mengaku tidak menyadari aksi perampokan berlangsung begitu cepat. “Mereka datang dengan cara yang sangat profesional. Semuanya berlangsung tanpa suara dan terencana,” ujarnya kepada media lokal Le Parisien.
Setelah berhasil menjarah, keempat pelaku melarikan diri menggunakan mobil van berwarna abu-abu yang terparkir di dekat pintu barat museum. Kendaraan tersebut ditemukan terbakar di pinggiran selatan Paris beberapa jam kemudian dugaan kuat sebagai upaya menghilangkan jejak.
Museum Ditutup dan Investigasi Dimulai
Tak lama setelah kejadian, pihak manajemen Museum Louvre segera menutup seluruh area dan mengevakuasi pengunjung. Polisi forensik diterjunkan untuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa rekaman kamera pengawas dari dalam maupun luar museum.
Direktur Museum Louvre, Laurence des Cars, dalam konferensi pers menegaskan bahwa pihaknya akan bekerja sama penuh dengan aparat penegak hukum. “Ini bukan sekadar pencurian benda berharga. Ini adalah serangan terhadap sejarah dan kebanggaan bangsa Prancis,” ujarnya dengan nada emosional.
Beberapa jam setelah kejadian, satu dari delapan perhiasan yang dicuri mahkota berlian milik Ratu Eugénie ditemukan dalam kondisi rusak di taman kecil tak jauh dari Sungai Seine. Polisi menduga, barang itu terjatuh saat pelaku kabur. Meski begitu, tujuh artefak lainnya masih belum ditemukan.
Penyelidikan Skala Besar
Menurut sumber dari Kepolisian Paris yang dikutip Reuters, lebih dari 60 penyidik berpengalaman kini dikerahkan untuk memburu pelaku. Mereka fokus pada analisis DNA, sidik jari, serta pola komunikasi digital yang mungkin digunakan para pelaku sebelum atau setelah kejadian.
Selain itu, aparat juga tengah menelusuri jaringan pasar gelap perhiasan di Eropa Timur dan Timur Tengah yang kerap menjadi tempat penjualan hasil kejahatan budaya. Polisi tidak menutup kemungkinan bahwa pelaku merupakan bagian dari jaringan internasional yang terorganisir, mengingat tingkat presisi dan kecepatan eksekusi aksi mereka.
“Kami menghadapi kelompok profesional. Mereka tahu persis kapan waktu terbaik untuk beraksi, di mana kamera berada, dan bagaimana menonaktifkan sistem keamanan tertentu,” ungkap seorang pejabat BRB kepada France24.
Reaksi Pemerintah dan Dunia Seni
Presiden Emmanuel Macron menanggapi keras peristiwa ini. Dalam unggahan di akun resmi X (Twitter), ia menyebut pencurian tersebut sebagai “penghinaan terhadap sejarah Prancis dan warisan umat manusia.” Ia juga meminta agar semua lembaga budaya meningkatkan pengamanan, terutama terhadap koleksi yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Menteri Kebudayaan Rachida Dati langsung mengunjungi lokasi dan memimpin rapat darurat bersama kepolisian serta direksi museum. Ia mengumumkan bahwa pemerintah akan melakukan audit besar terhadap sistem keamanan museum nasional. “Kita tidak bisa membiarkan simbol kebudayaan kita menjadi sasaran kejahatan,” katanya.
Komunitas internasional pun bereaksi. Dari London, Direktur British Museum, Hartwig Fischer, menyatakan keprihatinannya dan menawarkan dukungan teknis jika diperlukan. Sementara UNESCO menyerukan perlindungan lebih ketat terhadap warisan budaya yang menjadi identitas bangsa.
Kritik terhadap Keamanan Louvre
Kasus ini memunculkan kembali kritik terhadap sistem keamanan Museum Louvre yang dianggap ketinggalan zaman. Beberapa laporan internal sebelumnya menyebut bahwa sistem alarm dan kamera di beberapa ruang pamer masih menggunakan teknologi lama.
Pakar keamanan museum, Jean-Paul Dumont, menilai bahwa faktor anggaran menjadi kendala utama. “Louvre menerima jutaan pengunjung setiap tahun, tapi alokasi keamanan tidak selalu meningkat seiring risiko yang dihadapi,” ujarnya.
Beberapa serikat pekerja Louvre juga mengaku sudah lama mengingatkan soal kekurangan jumlah petugas keamanan di area tertentu, terutama pada jam-jam awal operasional.
Hingga Senin pagi (20/10), keempat pelaku masih dalam pelarian. Kepolisian telah merilis rekaman siluet dan cuplikan CCTV yang menunjukkan ciri fisik mereka, namun belum ada identitas yang dikonfirmasi. Pihak berwenang juga telah memperluas penyelidikan hingga ke Belgia dan Luksemburg, bekerja sama dengan Europol untuk melacak kemungkinan pelarian lintas negara.
Kepala Kepolisian Paris, Frédéric Veaux, mengatakan bahwa pihaknya optimistis kasus ini bisa segera diungkap. “Kami memiliki bukti kuat dan dukungan penuh dari lembaga internasional. Tidak ada tempat aman bagi mereka yang mencuri sejarah,” tegasnya.
Makna Lebih Dalam di Balik Aksi Ini
Perampokan di Louvre bukan hanya soal hilangnya benda berharga. Ia membuka mata dunia tentang bagaimana kejahatan terhadap budaya bisa terjadi bahkan di tempat paling dijaga di dunia. Para sejarawan menyebut kasus ini sebagai pengingat bahwa warisan sejarah tak pernah sepenuhnya aman tanpa komitmen dan investasi serius terhadap keamanan. Hingga kini, Museum Louvre masih ditutup sementara. Ribuan pengunjung yang telah membeli tiket diminta menunggu pengumuman resmi pembukaan kembali dalam beberapa hari mendatang.