Netanyahu Tegas: Perang Gaza Berlanjut sampai Hamas Letakkan Senjata

Priscilla Austin

Foto Benjamin Nentanuahu.

beritahariini.news – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menegaskan bahwa perang di Jalur Gaza belum akan berakhir sampai kelompok Hamas benar-benar melucuti seluruh senjata dan kemampuan militernya. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu pada Sabtu malam waktu Yerusalem, di tengah meningkatnya tekanan internasional agar Israel dan Hamas segera mencapai kesepakatan damai permanen.

“Perang ini belum selesai, dan tidak akan selesai sampai Hamas meletakkan senjatanya. Kami tidak akan menerima setengah langkah. Gaza harus dide-militerisasi sepenuhnya,” kata Netanyahu dalam konferensi pers di Tel Aviv, Sabtu (18/10/2025), dikutip dari Times of Israel.

Menurut Netanyahu, pemerintah Israel kini memasuki apa yang ia sebut sebagai “fase kedua” dari operasi militer di Gaza tahap yang berfokus pada pengamanan wilayah, demiliterisasi penuh, serta pembentukan tatanan pemerintahan baru di wilayah tersebut. “Ketika fase ini berhasil entah dengan cara mudah atau sulit maka perang akan berakhir,” ujarnya.

Hamas Tolak Seruan Disarmament

Namun, reaksi dari pihak Hamas menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih jauh dari kata mudah. Seorang pejabat senior Hamas yang berbicara kepada Reuters menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menyerahkan kendali keamanan Gaza kepada Israel maupun otoritas luar tanpa adanya jaminan politik dan perlindungan terhadap warga Palestina.

Baca Juga: Kabar Duka, Mantan Danpaspampres Marsda Wahyu Hidayat Meninggal Dunia

“Hamas tidak bisa berkomitmen untuk melucuti senjata selama tidak ada jaminan bahwa rakyat Gaza akan aman dan memiliki kendali atas tanah mereka sendiri,” ujar pejabat tersebut. Ia menambahkan bahwa setiap pembicaraan tentang pelucutan senjata harus disertai dengan perundingan menyeluruh terkait pemerintahan pascaperang dan rekonstruksi Gaza.

Pernyataan itu memperlihatkan kebuntuan posisi antara dua pihak. Israel menginginkan Gaza bebas dari semua kelompok bersenjata, sementara Hamas menolak menyerah tanpa adanya solusi politik yang memastikan hak-hak Palestina.

Gencatan Senjata Masih Rawan Gagal

Sementara itu, meski gencatan senjata sementara yang disepakati dua pekan lalu masih berlaku, situasi di lapangan tetap tegang. Laporan dari Sky News dan Al Jazeera menyebutkan bahwa beberapa serangan sporadis masih terjadi di perbatasan utara Gaza, termasuk penembakan artileri ringan di wilayah Beit Hanoun.

Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri juga menyampaikan keprihatinannya atas laporan “pelanggaran gencatan senjata” oleh kedua pihak. “Kami menerima laporan kredibel bahwa Hamas berencana melakukan serangan terhadap warga sipil Israel, dan jika itu benar, maka hal itu akan menjadi pelanggaran serius terhadap kesepakatan damai,” kata juru bicara AS, Matthew Miller, dikutip dari Le Monde.

Di sisi lain, beberapa pejabat Israel juga menuduh Hamas menggunakan waktu gencatan senjata untuk mempersiapkan kembali jaringan bawah tanah dan memindahkan persenjataan. Namun tudingan ini dibantah keras oleh Hamas yang menyebut Israel berupaya mencari alasan untuk memperpanjang operasi militer.

Tekanan Internasional Meningkat

Tekanan diplomatik terhadap Israel meningkat, terutama dari negara-negara Eropa dan Timur Tengah yang menuntut adanya langkah nyata menuju perdamaian. Pemerintah Mesir, Qatar, dan Turki disebut masih berupaya menengahi negosiasi untuk membentuk pemerintahan sementara di Gaza yang melibatkan berbagai faksi Palestina.

Sementara itu, Uni Eropa melalui pernyataan resminya meminta Israel agar membuka akses bantuan kemanusiaan secara lebih luas. “Gaza menghadapi krisis kemanusiaan terbesar dalam dua dekade terakhir. Rumah sakit kehabisan pasokan, dan ribuan warga masih mengungsi,” tulis pernyataan UE, Sabtu malam.

Di lapangan, situasi kemanusiaan memang terus memburuk. Data dari PBB menyebutkan lebih dari 1,2 juta warga Gaza kini hidup dalam kondisi pengungsian, dengan akses terbatas terhadap air bersih, makanan, dan obat-obatan.

Perbatasan Rafah Masih Ditutup

Salah satu isu paling sensitif saat ini adalah tertundanya pembukaan perlintasan Rafah, jalur utama yang menghubungkan Gaza dengan Mesir. Pemerintah Mesir sebelumnya menyatakan siap membuka jalur tersebut pada Senin (20/10), namun hingga Minggu pagi, belum ada konfirmasi resmi.

Reuters melaporkan, penundaan terjadi akibat perbedaan pandangan Israel dan Mesir tentang pihak yang mengawasi perlintasan setelah fase kedua dimulai. Israel meminta seluruh aktivitas di perbatasan diawasi otoritas keamanan gabungan di bawah kendalinya, namun Mesir menolak karena melanggar kedaulatan.

Baca Juga: Menko AHY Dorong Transmigrasi Patriot Gali Potensi Ekonomi Daerah untuk Pemerataan Pembangunan Nasional

Langkah Israel Selanjutnya

Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer akan “tetap aktif” meskipun gencatan senjata masih berlaku. Ia juga menolak tekanan dari komunitas internasional yang meminta Israel segera menghentikan serangan di Gaza.

“Kami menghargai upaya dunia internasional untuk mendukung perdamaian. Tetapi Israel akan menentukan nasibnya sendiri. Tidak ada negara yang akan hidup di bawah ancaman teroris bersenjata di perbatasannya,” kata Netanyahu dengan nada tegas.

Pernyataan tersebut dianggap sebagai tanda bahwa Israel siap melanjutkan operasi militer bila Hamas gagal menunjukkan kemajuan berarti dalam pelucutan senjata. Beberapa analis militer memprediksi Tel Aviv akan memperluas operasi keamanan menuju wilayah selatan Gaza bila situasi tetap tidak berubah.

Dunia Menanti Kejelasan

Hingga Minggu (19/10), perundingan damai antara Israel dan Hamas belum menunjukkan perkembangan berarti. Para mediator dari Qatar dan Mesir terus berupaya menengahi kesepakatan mencakup penghentian perang, pembukaan jalur kemanusiaan, serta pelucutan senjata bertahap.

Namun tanpa adanya konsensus tentang siapa yang akan mengatur Gaza pascaperang, prospek perdamaian tampak semakin sulit. “Kedua pihak masih berbicara dalam bahasa kekuatan, bukan kompromi,” kata analis politik Timur Tengah, Dr. Eyal Luria, kepada BBC News.

Dengan situasi yang terus berubah dan ketegangan yang belum mereda, perang di Gaza tampaknya masih akan berlanjut sesuai pernyataan Netanyahu hingga Hamas benar-benar meletakkan senjatanya dan mengakhiri perlawanan bersenjata yang telah berlangsung lebih dari satu tahun.

Popular Post

NewsPolitik

Profil Ketua Komnas HAM Anis Hidayah: Aktivis Migran yang Kini Memimpin Lembaga Hak Asasi Tertinggi

beritahariini.news – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menetapkan susunan baru pimpinan dan subkomisi untuk periode 2022–2027. Keputusan ...

Viral

MUA Dea Lipa Akui Dirinya Pria Bernama Deni, Pihak Keluarga Sampaikan Permintaan Maaf

beritahariini.news – Polemik soal identitas asli MUA viral bernama Dea Lipa, atau yang dikenal publik sebagai Sister Hong Lombok, akhirnya ...

5 Fakta Kasus Bu Guru Salsa, Viral Gegara Ulah Pacar Online

Viral

5 Fakta Kasus Bu Guru Salsa, Viral Gegara Ulah Pacar Online

beritahariini.news – Kasus yang menimpa Salsa Anindya, guru honorer asal Jember, Jawa Timur, menjadi perbincangan publik setelah rekaman pribadinya tersebar ...

News

Heboh! Pondasi Tiang Listrik di Sambas Retak, Warga Temukan Isi Kelapa dan Serabut

beritahariini.news – Warga Desa Sarang Burung Usrat, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, digemparkan oleh temuan tak biasa pada pondasi ...

Gaya HidupLainnya

Cantiknya Olla Ramlan Saat Pamer Momen Liburan di Labuan Bajo

beritahariini.news – Artis dan presenter Olla Ramlan tengah menikmati momen liburan yang menenangkan di Labuan Bajo, salah satu destinasi wisata ...

Ekonomi

Proyek Batu Bara BUMN Dapat Pendanaan Rp 3,5 Triliun

beritahariini.news – PT Bukit Asam Tbk (PTBA), salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar milik negara yang tergabung dalam holding ...