Wapres Gibran Dorong Santri Kuasai Teknologi AI dan Coding, Soroti Keterbatasan Fasilitas Pesantren
Wapres Gibran Dorong Santri Kuasai Teknologi AI dan Coding, Soroti Keterbatasan Fasilitas Pesantren
beritahariini.news – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendorong pesantren agar tidak hanya fokus pada penguatan ilmu agama, tetapi juga membekali santri dengan keterampilan teknologi modern. Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan kemampuan coding menjadi kunci penting bagi generasi muda untuk mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif.
Pesan ini disampaikan Gibran dalam pertemuan dengan pengurus Gerakan Nasional Ayo Mondok di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (11/9/2025). Ia menekankan bahwa santri perlu memiliki literasi digital yang kuat sehingga saat lulus dari pesantren, mereka bukan hanya ahli agama, melainkan juga kompeten di bidang teknologi.
“Pesantren kita harus melek digital, paham AI, dan mampu memahami coding. Dengan begitu, lulusan pesantren akan menjadi sumber daya manusia yang kuat dan bisa diserap dunia kerja,” jelas Gibran.
Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Berbasis Agama dan Teknologi
Pesantren di Indonesia telah berperan selama berabad-abad sebagai pusat pembelajaran agama Islam sekaligus benteng moral bangsa. Namun, di era Revolusi Industri 4.0 dan transisi menuju Society 5.0, pesantren dituntut untuk bertransformasi.
Keterampilan digital kini tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan jumlah pesantren lebih dari 42.000 unit (data Kementerian Agama 2024) dan jumlah santri mencapai 5 juta orang lebih, pesantren sesungguhnya memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya alim, tetapi juga inovatif.
Gerakan Nasional Ayo Mondok dan Sinergi dengan Pemerintah
Gerakan Ayo Mondok yang diinisiasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama sejak 2015 menjadi salah satu motor penggerak revitalisasi pesantren. Gerakan ini bertujuan memperluas akses masyarakat agar tidak ragu menyekolahkan anak ke pesantren, karena pesantren kini tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga ilmu pengetahuan umum.
Pertemuan antara Wapres Gibran dan pengurus Ayo Mondok mempertegas arah baru: menjadikan pesantren sebagai pusat lahirnya generasi melek digital. Gibran menilai kolaborasi pemerintah dan organisasi masyarakat Islam sangat penting untuk mendorong pesantren agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam dialog tersebut, Gibran juga menyoroti kondisi fasilitas di ribuan pesantren yang masih jauh dari standar ideal. Ia menilai faktor infrastruktur menjadi salah satu pertimbangan penting bagi orang tua milenial ketika memilih lembaga pendidikan untuk anaknya.
“Orang tua sekarang tidak hanya melihat kualitas pendidikan, tetapi juga kondisi asrama, kamar mandi, dapur, dan fasilitas dasar lain. Pesantren harus berbenah agar bisa diterima oleh semua kalangan,” ujar Gibran.
Kondisi ini sejalan dengan fakta bahwa banyak pesantren tradisional masih mengandalkan fasilitas sederhana. Padahal, dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat, pesantren harus mampu menyediakan sarana belajar yang modern, termasuk akses internet cepat, laboratorium komputer, hingga ruang belajar digital.
AI dan Coding sebagai Bekal Masa Depan Santri
Kecerdasan buatan dan coding bukan lagi keterampilan eksklusif, melainkan dasar dalam hampir semua bidang kerja masa depan. Bagi santri, kemampuan ini akan membuka peluang besar, antara lain:
Industri Teknologi Informasi – santri dapat berkarier sebagai programmer, software engineer, atau data scientist.
Ekonomi Kreatif – keterampilan coding berguna dalam pembuatan aplikasi edukasi, media dakwah digital, dan platform keagamaan berbasis teknologi.
Wirausaha Digital – santri bisa menjadi pelaku startup berbasis teknologi dengan membawa nilai-nilai keislaman.
Transformasi Pesantren – AI bisa dimanfaatkan untuk sistem administrasi pesantren, manajemen kurikulum, hingga platform pembelajaran daring.
Dengan demikian, pesantren dapat mencetak generasi ulama digital yang memahami agama sekaligus menguasai teknologi.
Rakornas Pimpinan Pesantren Oktober 2025
Wapres Gibran juga memberikan dukungan penuh terhadap Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia yang dijadwalkan pada Oktober 2025. Rakornas ini akan menjadi forum penting untuk membahas dua hal pokok:
Penguatan tradisi keilmuan pesantren agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam kurikulum pesantren agar santri memiliki keterampilan ganda.
Forum ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan pesantren dalam menyiapkan generasi unggul yang siap menghadapi tantangan global.
Meski visi besar sudah ditetapkan, transformasi digital di pesantren bukan tanpa hambatan. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:
Keterbatasan Infrastruktur – masih banyak pesantren dengan fasilitas dasar yang belum layak.
Kesenjangan Akses Internet – pesantren di daerah terpencil kesulitan mendapatkan jaringan stabil.
Sumber Daya Pengajar – belum semua guru di pesantren memiliki kemampuan digital yang memadai.
Pendanaan – modernisasi membutuhkan biaya besar, sementara banyak pesantren bergantung pada donasi masyarakat.
Pemerintah bersama organisasi masyarakat harus menyusun strategi untuk mengatasi hambatan ini, misalnya melalui digitalisasi pesantren, pelatihan guru, serta dukungan anggaran khusus.
Pesantren dan SDM Unggul Indonesia 2045
Program literasi digital untuk santri sejalan dengan visi pemerintah mewujudkan Indonesia Emas 2045. Santri yang melek AI dan coding akan menjadi bagian dari bonus demografi yang produktif, tidak hanya di sektor religius, tetapi juga ekonomi.
Jika pesantren berhasil bertransformasi, maka lembaga ini akan menjadi pilar penting pembangunan nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa santri harus dibekali keterampilan digital, khususnya AI dan coding, agar siap bersaing di era modern. Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas pesantren yang perlu segera dibenahi agar sesuai dengan ekspektasi masyarakat.
Dengan dukungan penuh terhadap Rakornas Pimpinan Pesantren Oktober 2025, Gibran ingin memastikan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pengajaran agama, tetapi juga pusat literasi digital. Transformasi ini akan menjadikan santri sebagai generasi ulama digital yang berakhlak mulia sekaligus siap berkompetisi di dunia kerja global.