Wamentan Tindaklanjuti Aspirasi Petani di Jember, Dorong Akses Ekspor dan Percepatan Distribusi Pupuk Subsidi
beritahariini.news – Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, menunjukkan komitmen serius dalam menyerap serta menindaklanjuti aspirasi petani, sebagai bentuk konkret keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian nasional. Dalam kunjungannya ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sudaryono hadir langsung dalam ajang Festival Kopi yang menjadi wadah dialog terbuka antara petani dan pemerintah. Acara tersebut dimanfaatkan sepenuhnya oleh Wamentan untuk mendengarkan, mencatat, serta merespons keluhan dan masukan para petani yang selama ini menjadi garda terdepan ketahanan pangan nasional.
Dalam forum interaktif yang melibatkan petani kopi, tebu, serta pelaku usaha tani lainnya, salah satu keluhan utama datang dari Zainal Arifin, petani kopi asal Jember. Ia mengutarakan harapan besar dari petani lokal agar diberikan kemudahan akses dalam mengekspor hasil panen kopi secara langsung, tanpa melalui terminal atau perantara yang kerap menyulitkan.
Menurut Zainal, Jember memiliki potensi besar dalam produksi kopi berkualitas tinggi. Namun, kendala pada rantai distribusi dan akses pasar global masih menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, ia memohon perhatian langsung dari Wamentan agar pemerintah membuka jalur ekspor langsung bagi petani lokal.
Also Read
Wamentan Sudaryono merespons cepat permintaan tersebut dengan nada tegas. Ia menyatakan tidak akan tinggal diam apabila dirinya sudah hadir di tengah-tengah petani namun masih ada persoalan mendasar seperti ketidakmampuan ekspor yang belum diselesaikan.
“Jika sudah sampai di sini, lalu masih ada petani yang tidak bisa ekspor, maka itu adalah kesalahan besar. Saya tidak akan membiarkan hal itu berlanjut. Saya minta Pak Bupati segera tunjuk PIC (Person In Charge), kami akan tindak lanjuti langsung,” ujar Sudaryono.
Langkah tegas tersebut menjadi sinyal positif bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian besar terhadap inisiatif penguatan ekonomi petani berbasis ekspor.
Zainal juga menambahkan bahwa petani kopi di Jember membutuhkan dukungan dari sisi hukum agar keberlanjutan lahan perkebunan tetap terjaga dan tidak dialihfungsikan menjadi lahan non-pertanian seperti perumahan. Ia berharap, dengan adanya perlindungan hukum yang kuat, maka para petani bisa tetap fokus dalam meningkatkan produktivitas kopi tanpa khawatir akan kehilangan lahannya.
Wamentan mencatat masukan tersebut sebagai bagian dari aspek non-teknis yang sangat mempengaruhi kesejahteraan petani dalam jangka panjang. Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh faktor produksi, tetapi juga aspek legalitas dan kepastian pemanfaatan lahan.
BACA JUGA : Rupiah Menguat Didukung Potensi Kesepakatan Dagang dengan Amerika Serikat
Keluhan lainnya datang dari Hartono, petani kopi yang berada di kawasan hutan kemasyarakatan (HKM). Ia menyampaikan bahwa meskipun petani telah mendapatkan Surat Keputusan (SK) pengelolaan lahan dari Kementerian terkait, hingga kini mereka belum mendapatkan jatah pupuk bersubsidi.
Wamentan menjelaskan bahwa distribusi pupuk bersubsidi mengacu pada sistem Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok elektronik (e-RDKK). Oleh sebab itu, Sudaryono meminta agar para petani yang belum terdata segera mendaftarkan diri melalui penyuluh pertanian setempat.
“Komoditas kopi rakyat masuk dalam kategori yang mendapatkan subsidi pupuk. Jadi bagi siapa pun yang merasa belum terdaftar, silakan segera daftarkan ke penyuluh pertanian di wilayahnya. Proses validasi akan dilakukan langsung oleh penyuluh lapangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, petani tebu Arum Sabil turut memberikan apresiasi kepada pemerintah atas kebijakan yang mendukung peningkatan produksi gula nasional. Ia menyatakan dukungan terhadap Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional.
Menurut Arum, target penambahan lahan tebu seluas 700 ribu hektare bisa dicapai dengan kolaborasi kuat antara petani dan pemerintah, khususnya di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
“Kami yakin, dengan semangat dan determinasi dari Mas Wamen dan Bapak Menteri, perluasan lahan tebu bisa tercapai. Kami bahkan sudah memiliki kebun yang hasilnya pernah menyentuh angka 100 ton per hari. Ini menjadi bukti bahwa potensi petani sangat besar jika diberi dukungan optimal,” tegas Arum.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Wamentan berkomitmen untuk menjadikan semua aspirasi sebagai fondasi penyusunan kebijakan strategis di sektor pertanian. Ia menggarisbawahi bahwa pendekatan berbasis kebutuhan lapangan merupakan metode paling tepat untuk menciptakan kebijakan yang relevan dan solutif.
Sudaryono juga menekankan pentingnya sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, dan kelompok tani agar pelaksanaan kebijakan berjalan efektif. Ia menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian akan membangun sistem integrasi data secara menyeluruh, termasuk pemetaan komoditas, distribusi pupuk, serta potensi ekspor di setiap daerah.
Langkah ini diharapkan dapat menciptakan efisiensi dalam pelaksanaan program sekaligus meminimalisasi kesenjangan antar wilayah.
BACA JUGA : Transformasi Digital dalam Sektor Keuangan Harus Didukung Kesiapan Keamanan Siber yang Optimal
Dalam rangka mendukung kelancaran ekspor serta peningkatan produksi pertanian, Wamentan juga menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur, baik jalan tani, irigasi, maupun gudang penyimpanan hasil panen. Ia mengatakan bahwa Kementerian Pertanian siap menjalin kerja sama lintas sektor untuk memastikan petani mendapatkan fasilitas yang memadai.
Selain infrastruktur fisik, pendampingan teknis menjadi aspek vital yang tidak boleh diabaikan. Melalui pelatihan berkelanjutan dan peningkatan kapasitas penyuluh, pemerintah berharap petani dapat menerapkan teknologi pertanian modern secara efektif.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Sudaryono mengungkapkan bahwa Kementerian Pertanian tengah mendorong adopsi teknologi digital dalam sektor pertanian. Hal ini mencakup digitalisasi rantai pasok, penggunaan platform informasi harga pasar, serta pemantauan tanaman berbasis satelit.
Transformasi digital ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi, transparansi distribusi, serta memperkuat posisi tawar petani di pasar nasional maupun internasional.
Kunjungan kerja Wamentan ke Jember menjadi cerminan nyata dari pendekatan partisipatif pemerintah dalam membangun kebijakan pertanian. Dengan mendengar langsung suara petani, pemerintah diyakini mampu menyusun regulasi yang tidak hanya berbasis angka, tetapi juga memperhatikan realitas lapangan secara menyeluruh.
Komitmen Sudaryono untuk menindaklanjuti setiap aspirasi menjadi bukti bahwa pembangunan sektor pertanian nasional berada di tangan yang tepat. Ke depan, seluruh kebijakan diharapkan tidak hanya mampu mengangkat kesejahteraan petani, tetapi juga mewujudkan Indonesia sebagai negara agraris yang tangguh dan berdaulat secara pangan.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…