beritahariini.news – Dalam tata bahasa Indonesia, penggunaan tanda hubung tidak hanya memengaruhi kejelasan suatu kalimat, tetapi juga menentukan ketepatan penafsiran makna oleh pembaca. Salah satu tanda baca yang kerap menimbulkan kebingungan adalah tanda hubung (-), terutama karena sering disalahartikan sebagai tanda pisah (—).
Menurut definisi resmi yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tanda hubung merupakan tanda garis yang digunakan untuk menyambungkan unsur kata yang terpisah karena pergantian baris, menyatakan bentuk ulang, dan membentuk satu kesatuan kata majemuk. Walaupun terlihat sederhana, penggunaannya memiliki aturan baku yang telah diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
Fungsi Tanda Hubung dalam Penulisan Bahasa Indonesia
Berdasarkan PUEBI yang dikeluarkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, tanda hubung memiliki sejumlah fungsi penting dalam struktur kalimat bahasa Indonesia. Berikut ini penjabaran lengkap mengenai berbagai fungsi serta contoh penggunaannya secara formal dan benar:
Also Read
1. Memisahkan Bagian Kata yang Terpenggal oleh Pergantian Baris
Tanda hubung digunakan ketika sebuah kata tidak dapat dituliskan secara utuh dalam satu baris, terutama dalam dokumen cetak. Pemenggalan kata harus sesuai dengan suku kata dan diberi tanda hubung di akhir baris.
Contoh:
-
Di desa itu, mereka memanfaatkan tekno-
logi tepat guna secara masif. -
Program edukasi masyarakat juga menye-
barkan informasi hingga pelosok.
2. Menyambung Kata Ulang atau Bentuk Reduplikasi
Dalam penulisan bentuk ulang, tanda hubung digunakan untuk menandai pengulangan kata secara utuh ataupun sebagian.
Contoh:
-
anak-anak
-
kecil-kecilan
-
bolak-balik
-
kemerah-merahan
3. Menghubungkan Angka, Huruf yang Dieja, dan Skor
BACA JUGA : Pencuri Kalung Berlian Bergaya Mewah di Mal Kelapa Gading Terungkap
Tanda hubung juga digunakan dalam penulisan tanggal, pengejaan huruf satu per satu, dan penyebutan skor dalam pertandingan.
Contoh:
-
10-11-2025
-
p-e-r-t-a-n-y-a-a-n
-
Indonesia menang 3-1 atas Thailand
4. Menyambung Unsur Bahasa Indonesia dengan Unsur Daerah atau Asing
Tanda hubung diperlukan dalam penggabungan kata berbahasa Indonesia dengan kata dari bahasa daerah, bahasa asing, atau istilah slang.
Contoh:
-
mem-back up (bahasa Inggris)
-
di-slepet (bahasa Betawi)
-
di-tafsīl (bahasa Arab)
5. Menghindari Ambiguitas atau Kesalahan Makna
Dalam beberapa konteks, tanda hubung membantu menjelaskan bagian kata yang benar sehingga maknanya tidak berubah atau rancu.
Contoh:
-
ber-evolusi (benar) ≠ be-revolusi (salah)
-
meng-urus (artinya merawat) ≠ me-ngurus (artinya menjadi kurus)
6. Menggabungkan Huruf Kapital dan Huruf Kecil, serta Huruf dengan Angka
Tanda hubung digunakan saat merangkaikan huruf kapital atau angka dengan huruf kecil lainnya untuk membentuk frasa atau istilah umum.
Contoh:
-
S-1
-
ber-KTP
-
hari-H
-
ke-17
-
se-Indonesia
7. Menandai Imbuhan atau Bentuk Terikat yang Jadi Objek Bahasan
Jika imbuhan atau bentuk terikat menjadi pokok pembahasan dalam suatu kalimat, maka penulisannya dipisah dengan tanda hubung.
Contoh:
-
Imbuhan me- dalam “menulis” menandakan tindakan.
-
Bentuk terikat -ku terdapat pada kata seperti bukuku, rumahku.
8. Menyatakan Kesatuan Dua Unsur yang Tidak Dapat Dipisahkan
BACA JUGA : Sosok Iqlima Kim dalam Pusaran Konflik Hotman Paris dan Razman Arif: Dari Dunia Hiburan hingga Meja Hijau
Dalam beberapa nama tempat, peristiwa, atau konsep yang merupakan satu kesatuan, tanda hubung digunakan untuk mempertahankan makna utuh.
Contoh:
-
suami-istri
-
Konferensi Asia-Afrika
-
Soekarno-Hatta
Tanda Hubung vs Tanda Pisah: Pemahaman Mendalam atas Perbedaannya
Meskipun keduanya memiliki bentuk garis horizontal, tanda hubung dan tanda pisah memiliki fungsi, panjang garis, dan aturan penempatan yang sangat berbeda.
Tanda Hubung (-)
Tanda hubung digunakan untuk menyatukan unsur kata menjadi kesatuan yang utuh. Karakteristik utamanya adalah tidak diapit spasi dan digunakan untuk keperluan teknis dalam struktur kata.
Fungsi utama:
-
Penggabungan kata ulang
-
Penyambungan angka, huruf
-
Pemisahan suku kata karena perpindahan baris
-
Penyambung antara prefiks dan akar kata dalam pembahasan
Contoh Penggunaan:
-
hari-hari
-
12-12-2025
-
S-2
-
ber-evolusi
Tanda Pisah (—)
Tanda pisah berfungsi sebagai pemisah atau pengapit informasi tambahan yang bukan bagian utama dari kalimat. Dalam penulisannya, tanda pisah biasanya diapit oleh spasi di kiri dan kanan.
Fungsi utama:
-
Mengapit keterangan atau selipan
-
Menyatakan rentang waktu, tempat, atau jumlah
-
Memberikan efek jeda dalam kalimat naratif
Contoh Penggunaan:
-
Kemerdekaan bangsa itu — saya yakin — akan segera tercapai.
-
Tahun 2019—2022
-
Jakarta—Bandung
Perbedaan Visual:
-
Tanda hubung: pendek, tipis (-)
-
Tanda pisah: lebih panjang (—)
BACA JUGA : PERURI Tegaskan Identitas Baru sebagai Pelopor Teknologi Keamanan Tingkat Tinggi di Era Digital
Dampak Kesalahan Penggunaan dalam Tulisan Formal
Kesalahan dalam membedakan tanda hubung dan tanda pisah dapat berdampak pada kekacauan struktur kalimat dan bahkan kesalahpahaman makna. Dalam konteks akademik, jurnalistik, atau penulisan resmi, kesalahan ini menunjukkan kurangnya penguasaan terhadap kaidah ejaan.
Sebagai contoh, menuliskan kalimat seperti:
“Konferensi Asia Afrika—berlangsung megah di Bandung”
padahal yang dimaksud adalah nama resmi “Konferensi Asia-Afrika”, maka penggunaan tanda pisah menjadi tidak tepat dan mengaburkan makna.
Pentingnya Memahami Kaidah Tanda Baca dalam Komunikasi Tertulis
Dalam era digital dan informasi saat ini, ketepatan berbahasa — termasuk penggunaan tanda baca — tidak bisa dianggap remeh. Dalam penulisan dokumen resmi, konten web, media massa, hingga karya ilmiah, penerapan tanda hubung yang sesuai aturan PUEBI mencerminkan kualitas dan kredibilitas penulis.
Pemahaman mendalam mengenai fungsi tanda hubung dan perbedaannya dengan tanda pisah juga menjadi prasyarat penting dalam pendidikan bahasa Indonesia. Hal ini penting untuk menjaga konsistensi tata tulis yang baik serta memperkuat efektivitas komunikasi tertulis antargenerasi.
Tanda Hubung Bukan Sekadar Garis
Tanda hubung bukan sekadar elemen visual dalam kalimat. Ia memegang peran penting dalam menyatukan makna, menjembatani unsur-unsur bahasa, dan memastikan struktur kalimat terbaca dengan jelas. Memahami fungsinya secara benar, serta membedakannya dari tanda pisah, merupakan bagian dari penguasaan berbahasa yang tidak boleh diabaikan.
Dengan mengacu pada pedoman resmi seperti PUEBI, setiap penulis, pelajar, jurnalis, dan profesional dapat meningkatkan kualitas tulisan mereka dan menghindari kesalahan dasar dalam penulisan bahasa Indonesia.