beritahariini.news – Singapore Airlines (SIA), salah satu maskapai paling bergengsi di kawasan Asia Tenggara, menghadapi sorotan tajam setelah seorang penumpang Muslim dilaporkan menerima makanan nonhalal dalam penerbangan kelas bisnis. Insiden tersebut terjadi dalam penerbangan SQ24 rute Singapura–New York pada Senin, 7 Juli 2025, yang berlangsung selama lebih dari 18 jam.
Penumpang yang mengalami kejadian tersebut adalah Jiyad Hussain, seorang warga negara Singapura yang akrab disapa Jey. Ia mengaku menerima hidangan berisi daging babi dalam menu yang bertajuk “Grilled Mediterranean Salad with Prosciutto”.
Jey mengungkapkan bahwa dirinya awalnya tidak menyadari bahwa “prosciutto” adalah istilah yang merujuk pada daging babi kering yang diawetkan. Merasa ragu, ia sempat bertanya kepada dua awak kabin mengenai komposisi menu tersebut. Namun, kedua awak kabin tersebut meyakinkannya bahwa makanan tersebut tidak mengandung bacon dan aman dikonsumsi oleh Muslim.
Also Read
Setelah mengonsumsi hidangan itu, Jey merasa curiga dengan rasa dan tekstur makanan yang asing baginya. Ia kemudian melakukan pencarian informasi secara mandiri dan mendapati bahwa prosciutto merupakan olahan dari daging babi.
“Saya benar-benar terkejut dan merasa tidak nyaman secara spiritual,” ujarnya kepada media. Ia menegaskan bahwa dirinya telah menjalani hidup sebagai seorang Muslim yang taat selama lebih dari tiga dekade.
Pihak Singapore Airlines kemudian mengonfirmasi bahwa awak kabin yang bertugas saat itu adalah staf junior yang tidak memahami bahwa prosciutto adalah jenis daging babi. SIA menyampaikan permohonan maaf resmi kepada Jey dan mengakui bahwa terdapat kekeliruan dalam penyajian makanan yang seharusnya mendapatkan konfirmasi ulang, khususnya untuk penumpang dengan kebutuhan khusus seperti diet halal.
Maskapai juga menyebut bahwa insiden ini merupakan bentuk kegagalan komunikasi internal antara kru kabin dan sistem pelayanan makanan.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Singapore Airlines sempat menawarkan kompensasi kepada Jey berupa voucher KrisShop senilai 150 dolar Singapura (sekitar Rp 1,9 juta). Tak hanya itu, ia juga ditawari poin frequent flyer sebesar 15.000 mil, yang kemudian ditingkatkan menjadi 30.000 mil. Namun, Jey secara tegas menolak kedua bentuk kompensasi tersebut.
Menurutnya, tawaran itu tidak sebanding dengan kerugian spiritual dan moral yang dialaminya. Ia bahkan menyebut tawaran tersebut sebagai “menyedihkan dan menghina”, mengingat ia telah mengeluarkan biaya tiket sebesar 10.000 dolar Singapura (sekitar Rp 127 juta) untuk penerbangan kelas bisnis tersebut.
Lebih dari kompensasi materi, Jey mendesak pihak maskapai untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem layanan makanan, terutama bagi penumpang Muslim.
Singapore Airlines menyampaikan bahwa masukan dari Jey telah diteruskan ke Departemen Layanan Penerbangan dan Kinerja Awak Kabin. Maskapai juga mengumumkan bahwa prosedur pelatihan awak kabin tengah ditinjau ulang, guna mencegah kesalahan serupa di masa depan.
Dalam korespondensi terakhir yang dikirimkan kepada Jey pada 25 Juli 2025, pihak SIA menyatakan bahwa insiden ini telah memicu diskusi internal secara mendalam mengenai tata kelola layanan makanan dalam penerbangan.
Pihak maskapai juga menyampaikan penyesalan mendalam atas ketidaknyamanan yang timbul dan berkomitmen memperbaiki kebijakan pelabelan serta penyajian makanan sesuai kebutuhan spesifik penumpang.
Insiden ini menyingkap kelemahan serius dalam sistem pelabelan makanan Singapore Airlines. Meskipun maskapai telah menyediakan label untuk menu khusus seperti spicy food atau healthy options, tidak ditemukan label jelas untuk makanan halal maupun nonhalal, khususnya yang mengandung bahan haram seperti daging babi.
Padahal, dalam dunia penerbangan internasional, keberagaman latar belakang agama dan budaya penumpang menuntut akurasi serta transparansi tinggi terhadap komposisi makanan yang disajikan.
Jey mengungkapkan bahwa dirinya telah memesan makanan khusus untuk layanan minuman, namun untuk hidangan utama ia memilih menu melalui program “Book the Cook”. Ketidaktahuan terhadap istilah asing serta ketiadaan label membuatnya tidak sadar bahwa ia menyantap makanan haram menurut ajaran Islam.
BACA JUGA : Sate Kangkung Viral di Medsos, Terinspirasi dari Hidangan Shaokao Khas Tiongkok
Sebagai tanggapan atas insiden ini, Singapore Airlines menyarankan semua penumpang dengan kebutuhan makanan khusus, termasuk vegetarian, bebas gluten, atau diet halal, untuk melakukan pemesanan terlebih dahulu minimal 24–48 jam sebelum keberangkatan.
SIA menjelaskan bahwa terdapat tiga putaran layanan makanan dalam penerbangan jarak jauh seperti SQ24, dan sangat dianjurkan agar penumpang memilih menu khusus sebelum penerbangan untuk menghindari risiko salah sajian.
Namun demikian, banyak pengamat industri menilai bahwa tanggung jawab tidak semata-mata dibebankan kepada penumpang, melainkan juga terletak pada maskapai untuk memastikan sistem layanan mereka responsif terhadap kebutuhan agama dan budaya penumpang.
Insiden yang menimpa Jey bukan sekadar keluhan individual, melainkan pengingat penting bagi seluruh maskapai internasional untuk mengadopsi standar layanan yang menghormati pluralitas penumpang. Beberapa aktivis bahkan menyerukan agar SIA menjadi pelopor dalam melabeli semua makanan secara eksplisit, terutama untuk bahan-bahan sensitif seperti alkohol dan daging babi.
Selain itu, pelatihan awak kabin harus mencakup pemahaman lintas budaya dan agama, agar setiap kru dapat memberikan informasi yang akurat dan bijaksana kepada penumpang.
Kejadian yang dialami oleh Jey di penerbangan Singapore Airlines menjadi momentum reflektif tidak hanya bagi maskapai tersebut, tetapi juga bagi seluruh pelaku industri penerbangan global. Kebutuhan akan kepekaan budaya dan agama semakin menjadi bagian penting dalam layanan maskapai, terlebih ketika menyasar pasar internasional yang heterogen.
Penerapan label makanan yang jelas, sistem pelatihan kru yang mendalam, serta komunikasi internal yang solid, bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak dalam memberikan pengalaman penerbangan yang aman, nyaman, dan inklusif.
Dengan langkah perbaikan konkret dan kesediaan untuk mendengarkan suara penumpang, maskapai seperti Singapore Airlines dapat kembali memperkuat reputasinya sebagai penyedia layanan kelas dunia yang menghargai setiap individu yang mereka layani — tanpa kecuali.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…