beritahariini.news – Serangan udara yang dilancarkan militer Israel pada Kamis pagi, 10 Juli 2025, menyebabkan jatuhnya korban jiwa sebanyak 15 warga sipil Palestina di Deir al-Balah, Gaza tengah. Insiden tragis ini terjadi tepat di depan Klinik Kesehatan Altayara, ketika sejumlah warga, termasuk anak-anak dan perempuan, tengah mengantre untuk memperoleh layanan gizi dan perawatan medis.
Menurut keterangan yang disampaikan Project Hope, lembaga kemanusiaan yang berbasis di Amerika Serikat dan menjadi pengelola klinik tersebut, mayoritas korban adalah kelompok rentan. Dari 15 korban tewas, delapan merupakan anak-anak dan dua lainnya adalah perempuan, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka serius akibat ledakan.
Klinik Jadi Sasaran Saat Warga Menanti Bantuan Kesehatan

Also Read
Klinik Altayara diketahui secara rutin memberikan layanan kesehatan dasar, seperti penanganan malnutrisi, infeksi, hingga perawatan kehamilan dan pasca-persalinan. Serangan terjadi tepat sebelum klinik dibuka, saat ratusan warga Gaza yang menderita kelaparan, kekurangan gizi, dan penyakit kronis berkumpul untuk mengakses bantuan medis.
Seorang saksi mata, Yousef al-Aydi, menyampaikan bahwa suasana pagi yang tenang tiba-tiba berubah menjadi kepanikan ketika suara drone terdengar mendekat, diikuti oleh dentuman hebat yang mengguncang tanah. “Segalanya berubah menjadi jeritan dan darah,” ujarnya penuh trauma.
Kondisi Mengerikan Usai Ledakan
Rekaman video dari lokasi kejadian yang telah diverifikasi oleh media internasional menggambarkan betapa parah dampak ledakan tersebut. Tubuh anak-anak dan orang dewasa terlihat tergeletak di jalan, beberapa dalam kondisi kritis dan lainnya telah tak bernyawa. Tim medis Rumah Sakit Martir Al-Aqsa bekerja tanpa henti merawat para korban yang terus berdatangan.
Tangisan dan ratapan terdengar menggema di kamar jenazah rumah sakit tersebut. Salah satu kerabat korban, Intisar, mengungkapkan bahwa keponakannya yang sedang hamil, Manal, bersama anak perempuannya, Fatima, turut menjadi korban. Anak laki-laki Manal saat ini masih dirawat intensif di unit ICU.
“Ia hanya ingin mengambil suplemen gizi untuk anak-anaknya,” ujar Intisar lirih.
Pertanyaan Warga: “Untuk Dosa Apa Mereka Dibunuh?”
Warga Gaza yang menyaksikan peristiwa ini mempertanyakan ketidakadilan yang terus mereka alami. Seorang perempuan yang turut berada di lokasi berkata, “Kami sekarat di hadapan mata dunia. Jika bukan oleh senjata, kami mati saat mencari bantuan.” Pernyataan tersebut menggambarkan frustrasi mendalam masyarakat Gaza yang terus menderita akibat blokade dan operasi militer yang berulang kali menargetkan infrastruktur sipil.
Tanggapan Keras dari Project Hope
Presiden dan CEO Project Hope, Rabih Torbay, menyatakan kemarahan mendalam atas insiden ini. Ia menegaskan bahwa fasilitas kesehatan yang dikelola organisasinya adalah tempat perlindungan, bukan zona konflik. Menurutnya, menyerang warga sipil yang mengantre untuk layanan kesehatan merupakan bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa.
“Ini adalah tragedi kemanusiaan. Pusat pelayanan yang seharusnya menyelamatkan nyawa, justru menjadi lokasi pembantaian,” ujar Torbay.
Militer Israel Klaim Serang Militan Hamas
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media internasional, militer Israel (IDF) mengklaim bahwa target serangan adalah seorang anggota Hamas yang terlibat dalam operasi serangan 7 Oktober 2023 lalu. Mereka menyebutkan bahwa investigasi sedang dilakukan untuk meninjau kemungkinan adanya korban sipil.
IDF menyesalkan jatuhnya korban jiwa dari pihak yang tidak terlibat dalam konflik dan menyatakan bahwa mereka selalu berupaya meminimalkan kerugian warga sipil.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada indikasi keberadaan militan bersenjata saat warga berkumpul di depan klinik tersebut. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa operasi militer dilakukan tanpa verifikasi menyeluruh atas keberadaan target, sehingga mengakibatkan jatuhnya korban dari kalangan rentan.
Korban Jiwa: Anak-Anak dan Perempuan Jadi Sasaran Tak Bersalah
Berdasarkan data dari Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, delapan dari 15 korban adalah anak-anak berusia antara dua hingga 14 tahun. Selain itu, tiga perempuan dewasa dan empat laki-laki juga dilaporkan tewas. Banyak di antara mereka yang mengalami luka serius akibat ledakan, dengan sebagian besar mengalami cedera di bagian kepala dan tubuh akibat serpihan bom.
Rekaman yang diperoleh media memperlihatkan bayi dan anak-anak yang berlumuran darah diangkut dengan kereta dorong darurat ke rumah sakit. Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya warga sipil, terutama anak-anak, terhadap dampak serangan udara di wilayah padat penduduk seperti Gaza.
Seruan Internasional atas Pelanggaran Hukum Humaniter
Berbagai organisasi kemanusiaan dan pengamat hak asasi manusia mengecam keras serangan tersebut. Mereka menyerukan penyelidikan independen atas pelanggaran hukum humaniter yang dilakukan oleh militer Israel. Serangan terhadap fasilitas kesehatan dan warga sipil yang tidak bersenjata, dalam konteks apapun, dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut mengeluarkan pernyataan keprihatinan mendalam atas meningkatnya jumlah korban sipil, khususnya anak-anak, di Gaza dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi Kemanusiaan Gaza Semakin Memprihatinkan
Sejak dimulainya kembali operasi militer Israel di Jalur Gaza, situasi kemanusiaan di wilayah tersebut kian memburuk. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, fasilitas umum rusak berat, dan akses terhadap bantuan medis sangat terbatas.
Klinik Altayara yang menjadi target dalam serangan Kamis lalu sebelumnya merupakan satu dari sedikit fasilitas kesehatan yang masih beroperasi di wilayah Gaza tengah. Dengan hancurnya fasilitas ini, akses masyarakat terhadap layanan dasar kesehatan semakin terhambat.
Upaya Gencatan Senjata Belum Menunjukkan Hasil
Meskipun perundingan antara Israel dan Hamas mengenai kesepakatan gencatan senjata terus dilakukan dengan bantuan mediasi internasional, kenyataannya situasi di lapangan masih jauh dari damai. Pada hari yang sama dengan insiden di klinik Altayara, total 66 orang warga Palestina dilaporkan tewas akibat rentetan serangan udara Israel.
Tanpa adanya langkah konkret dari komunitas internasional untuk menghentikan kekerasan dan menjamin perlindungan terhadap warga sipil, krisis kemanusiaan di Gaza diperkirakan akan terus berlanjut.
Serangan terhadap warga sipil Palestina di depan klinik kesehatan di Gaza Tengah menunjukkan eskalasi kekerasan yang semakin tidak terkendali. Ketika fasilitas medis dan tempat perlindungan berubah menjadi zona serangan, harapan masyarakat Gaza untuk hidup layak semakin memudar. Dunia internasional harus segera mengambil langkah tegas untuk memastikan akuntabilitas atas pelanggaran hak asasi manusia dan memberikan perlindungan kepada warga yang tak berdaya.

















