beritahariini.news – Ibukota kembali menghadapi bencana banjir besar pada Senin pagi, 7 Juli 2025, menyusul curah hujan tinggi yang terjadi selama beberapa hari terakhir serta fenomena pasang air laut yang memperparah kondisi drainase. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta melaporkan bahwa setidaknya 100 Rukun Tetangga (RT) serta 3 ruas jalan tergenang banjir dengan ketinggian air yang bervariasi.
Laporan tersebut merupakan pembaruan resmi hingga pukul 08.00 WIB pada hari yang sama. Mohamad Yohan, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BPBD DKI Jakarta, menyampaikan bahwa genangan ini merupakan kombinasi dari intensitas hujan ekstrem dan naiknya permukaan air laut.
Wilayah Terdampak: Jakarta Selatan dan Jakarta Timur Paling Parah

Also Read
Banjir kali ini melanda empat wilayah administratif di Jakarta, yakni Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. Namun, dampak terparah dirasakan oleh warga di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Salah satu lokasi yang mengalami banjir terburuk adalah Kelurahan Pela Mampang, Jakarta Selatan, di mana tinggi muka air tercatat mencapai 150 sentimeter. Kondisi serupa terjadi di wilayah Cipinang Melayu, Jakarta Timur, yang turut dilanda banjir dengan ketinggian yang sama.
Sementara itu, ruas jalan di wilayah Jakarta Barat juga tidak luput dari genangan. Di Jalan Adi Karya, Kelurahan Kedoya Selatan, banjir mencapai ketinggian 60 sentimeter dan menyebabkan gangguan lalu lintas serta mobilitas warga.
Evakuasi Massal: Ratusan Warga Terpaksa Mengungsi
Bencana banjir yang melanda sejumlah permukiman padat penduduk menyebabkan ratusan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, berikut adalah rincian jumlah pengungsi:
-
Cipinang Melayu, Jakarta Timur: 337 jiwa
-
Karet Tengsin, Jakarta Pusat: 156 jiwa
-
Kampung Melayu, Jakarta Timur: 119 jiwa
Para pengungsi sementara ditampung di fasilitas umum seperti masjid, sekolah, dan gedung serbaguna yang telah disiapkan sebagai posko darurat. BPBD DKI Jakarta bersama dengan Dinas Sosial turut memberikan bantuan logistik, makanan siap saji, tikar, selimut, serta layanan medis untuk para korban terdampak.
BACA JUGA : Indonesia Berduka: Gugurnya dr. Marwan al-Sultan, Direktur RS Indonesia di Gaza, dalam Serangan Udara Israel
Upaya Penanganan: Petugas Gabungan Diterjunkan
Dalam rangka percepatan penanganan banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengerahkan petugas gabungan yang terdiri dari personel BPBD, Dinas Sumber Daya Air (SDA), dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar). Tim-tim ini bekerja secara terpadu untuk menyalurkan bantuan, mengoperasikan pompa air, serta memastikan saluran drainase dan sungai dalam kondisi tidak tersumbat.
Berbagai upaya dilakukan untuk mempercepat surutnya genangan, termasuk pengoperasian pompa stasioner dan mobile, pengerukan saluran air, serta pembersihan sampah di pintu air dan gorong-gorong.
Mohamad Yohan menegaskan bahwa pihaknya menargetkan seluruh genangan air dapat surut secepat mungkin agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
Imbauan untuk Warga: Tetap Waspada dan Gunakan Layanan Darurat
Mengingat situasi yang masih berpotensi berubah, masyarakat Jakarta diminta untuk tetap siaga terhadap kemungkinan hujan susulan yang dapat menyebabkan banjir kembali terjadi. BPBD DKI Jakarta telah mengaktifkan sistem peringatan dini dan terus memantau perkembangan cuaca serta tinggi muka air di seluruh wilayah ibukota.
Bagi warga yang membutuhkan bantuan darurat atau mengalami situasi berbahaya akibat banjir, BPBD membuka saluran layanan darurat yang dapat diakses melalui nomor 112. Layanan ini bersifat gratis dan tersedia 24 jam, termasuk untuk evakuasi, bantuan logistik, dan penanganan medis.
Analisis Penyebab: Kombinasi Hujan Ekstrem dan Rob
Fenomena banjir yang terjadi kali ini tidak semata-mata disebabkan oleh hujan lokal. Kombinasi antara curah hujan tinggi dan pasang air laut (rob) memperparah situasi. Beberapa wilayah di pesisir utara Jakarta mengalami limpasan air laut yang masuk melalui saluran drainase, mempercepat proses genangan, terutama di wilayah-wilayah dataran rendah.
Menurut keterangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berkaitan dengan pergerakan angin muson barat serta gangguan cuaca tropis yang berdampak pada wilayah Jabodetabek. Sementara itu, pasang laut yang terjadi di pesisir Jakarta diperkirakan mencapai puncaknya pada awal pekan ini.
Langkah Preventif ke Depan: Evaluasi Tata Kelola Drainase Kota
Banjir yang kembali melanda ibu kota menjadi sinyal penting bagi Pemprov DKI Jakarta untuk mengevaluasi kembali sistem drainase, tata kelola air, serta strategi mitigasi bencana. Meskipun berbagai proyek pengendalian banjir telah dijalankan, seperti pembangunan sumur resapan, normalisasi sungai, dan revitalisasi waduk, nyatanya curah hujan ekstrem masih mampu menyebabkan kerugian besar.
Para ahli kebencanaan menilai pentingnya penerapan sistem informasi peringatan dini yang lebih adaptif, penguatan koordinasi antarinstansi, serta edukasi publik mengenai langkah-langkah darurat. Kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana harus ditingkatkan melalui pelatihan evakuasi dan simulasi bencana di wilayah rawan.
Dampak Sosial Ekonomi: Aktivitas Warga Terhenti
Banjir kali ini tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik di wilayah permukiman, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Sekolah-sekolah di beberapa kawasan terdampak harus menghentikan kegiatan belajar mengajar, sementara aktivitas perdagangan di pasar tradisional dan usaha kecil juga terhambat.
Pengusaha mikro di kawasan terdampak melaporkan kerugian akibat kerusakan barang dagangan, terputusnya pasokan bahan baku, serta minimnya akses pembeli. Selain itu, banyak pekerja informal yang kehilangan pendapatan harian karena tidak dapat menjalankan aktivitas kerja.
Jakarta Kembali Diuji
Peristiwa banjir pada awal Juli 2025 ini menegaskan bahwa Jakarta masih sangat rentan terhadap perubahan iklim dan fenomena cuaca ekstrem. Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat kerja sama dalam membangun sistem perlindungan kota yang tangguh terhadap bencana.
Perencanaan jangka panjang seperti pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall), pengembangan kota hijau berbasis drainase alami, serta relokasi permukiman di bantaran sungai harus segera diimplementasikan dengan serius dan konsisten. Tanpa komitmen dan partisipasi lintas sektor, ancaman banjir akan terus menjadi momok bagi kehidupan urban di Jakarta.















