Viral

Kasus Penculikan Kepala Cabang Bank: Jejak Dua Prajurit TNI dan Jaringan Sipil

beritahariini.news – Kasus penculikan dan pembunuhan yang menimpa MIP (37), Kepala Cabang Bank BUMN, membuka tabir keterlibatan prajurit TNI bersama jaringan sipil. Kolonel Cpm Donny Agus Priyanto, Komandan Polisi Militer Kodam Jaya, menjelaskan bahwa hubungan antara pelaku sipil dan anggota TNI sudah terjalin cukup lama.

Salah satu contohnya adalah Serka N dan JP. Keduanya sudah saling mengenal sejak lama karena tinggal di kompleks perumahan yang sama di Cileungsi, Jawa Barat. JP sendiri merupakan satu dari 15 tersangka sipil yang diamankan dalam perkara ini.

Berbeda dengan Serka N, Kopda FH memiliki hubungan singkat dengan EW. Donny mengungkapkan, keduanya hanya berkenalan sejak 2022 tanpa catatan kriminal sebelumnya. Namun, dalam kasus ini, Kopda FH merekrut EW untuk membantu aksi penculikan.

Siasat Awal: Pertemuan di Rumah dan Kafe

Rangkaian peristiwa dimulai pada 17 Agustus 2025, ketika JP mendatangi rumah Serka N. Dalam pertemuan itu, JP menawarkan pekerjaan: menjemput seseorang dan menyerahkannya kepada DH. JP memang berperan sebagai perekrut tim penculik.

Keesokan harinya, Serka N menghubungi Kopda FH dan mengajaknya bertemu dengan JP di sebuah kafe di Jakarta Timur. Di sana, JP menjelaskan detail pekerjaan, termasuk adanya imbalan uang bagi mereka yang terlibat.

Dua hari setelahnya, pada 19 Agustus 2025, Serka N kembali menghubungi Kopda FH untuk menanyakan kesediaannya. Kali ini, Kopda FH menyatakan sanggup dan bahkan ditugaskan membentuk tim eksekutor.

Aliran Dana untuk Operasi Penculikan

Aksi ini tidak lepas dari sokongan dana. Kopda FH meminta uang operasional sebesar Rp5 juta, yang disalurkan JP melalui Serka N. Sehari kemudian, 20 Agustus 2025, JP menambahkan dana besar senilai Rp95 juta tunai yang diserahkan di sebuah bank swasta di Jakarta Timur.

Uang tersebut langsung diteruskan Serka N kepada Kopda FH di sebuah kafe di Rawamangun. Tak lama, Kopda FH menghubungi EW untuk ikut serta dan membawa tambahan orang.

BACA JUGA : Manfaat Perdagangan Internasional: Memperluas Pasar dan 9 Keuntungan Strategis bagi Perekonomian Global

Eksekusi Penculikan di Pasar Rebo

Pada 21 Agustus 2025, tim yang dipimpin Kopda FH mulai bergerak. EW datang bersama empat orang lain—AT, JR, RA—dengan mengendarai Avanza putih.

Informasi lokasi korban diberikan langsung oleh JP. Saat itu, MIP tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Pukul 16.30 WIB, korban disergap ketika hendak menuju mobilnya. Dua orang eksekutor memaksa MIP masuk ke Avanza putih, sementara Kopda FH berada di area parkir untuk mengoordinasikan jalannya aksi.

Koordinasi di Jalan dan Titik Temu di Kemayoran

Selama perjalanan, Kopda FH terus menghubungi JP untuk menanyakan kejelasan rencana penjemputan korban. Ia bahkan sempat mengancam akan menurunkan korban di jalan bila tidak ada tim lanjutan yang datang.

Akhirnya, JP mengirimkan lokasi di bawah flyover Kemayoran sebagai titik temu. Avanza putih yang membawa korban kemudian berpapasan dengan Fortuner hitam berisi Serka N, JP, dan U. Korban dipindahkan ke kendaraan tersebut.

Upaya Melawan dan Akhir Tragis Korban

Di dalam mobil Fortuner, korban yang terikat dan mulutnya dilakban masih berusaha melawan. Serka N ikut menekan dada korban untuk meredam perlawanan. Namun, tim penjemput dari DH tak kunjung datang.

Dalam kondisi terdesak, rombongan memutuskan berhenti di sebuah area persawahan. Di sana, korban dibuang dengan kondisi tubuh terikat. Serka N memegangi kepala korban, sementara JP mengangkat bagian kakinya.

Korban ditinggalkan di persawahan sekitar dua meter dari kendaraan. Usai aksi keji itu, para pelaku meninggalkan lokasi.

Barang Bukti dan Penahanan Tersangka

Polisi Militer Kodam Jaya menetapkan Serka N dan Kopda FH sebagai tersangka utama dari unsur TNI. Keduanya kini sudah ditahan.

Selain itu, penyidik juga menyita barang bukti berupa uang tunai Rp40 juta dari tangan Kopda FH, yang diduga merupakan hasil dari tindak pidana tersebut.

Kolonel Donny menegaskan bahwa penyidikan masih berlanjut untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan pelaku lain dalam jaringan ini.

BACA JUGA : Mantan Wali Kota Bandung Yana Mulyana Resmi Bebas Bersyarat dari Lapas Sukamiskin sejak 13 Juni 2025

Analisis: Jaringan Kriminal dan Keterlibatan Oknum TNI

Kasus ini memperlihatkan bagaimana jaringan sipil dan oknum militer bisa bekerja sama dalam tindak kriminal terorganisasi.

  1. Motif finansial: aliran dana puluhan juta rupiah menunjukkan adanya perencanaan matang dengan motif keuntungan ekonomi.

  2. Perekrutan berlapis: JP sebagai otak sipil melibatkan Serka N, lalu Serka N merekrut Kopda FH, yang pada gilirannya membawa EW dan timnya.

  3. Modus operandi klasik: penggunaan mobil Avanza putih sebagai kendaraan eksekusi dan Fortuner hitam sebagai mobil pengganti menunjukkan taktik pengaburan jejak.

  4. Keterlibatan oknum TNI: meski TNI sebagai institusi berkomitmen pada hukum, kasus ini menjadi pengingat perlunya pengawasan internal lebih ketat.

Dampak Kasus terhadap Kepercayaan Publik

Peristiwa ini tentu mengguncang kepercayaan publik, baik kepada dunia perbankan maupun kepada institusi militer.

  • Perbankan: kasus ini menimbulkan pertanyaan soal keamanan pejabat bank yang sering membawa atau mengelola dana besar.

  • Institusi militer: meski hanya melibatkan oknum, keterlibatan prajurit TNI dalam tindak kriminal berat menuntut langkah cepat untuk menjaga wibawa dan citra TNI di mata masyarakat.

Kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN MIP (37) membuka fakta keterlibatan oknum TNI bersama jaringan sipil dalam tindak kriminal terorganisasi.

Dari awal perkenalan, perekrutan tim, aliran dana, hingga eksekusi tragis, seluruh rangkaian peristiwa menunjukkan perencanaan matang. Polisi Militer Kodam Jaya kini menahan Serka N dan Kopda FH, serta menyita uang Rp40 juta sebagai barang bukti.

Proses penyidikan masih terus berjalan untuk menelusuri kemungkinan adanya pelaku lain. Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa pengawasan internal dan koordinasi antar aparat hukum mutlak diperlukan agar kejahatan serupa tidak terulang.

Priscilla Austin

Recent Posts

Pemerintah Pastikan BBM Tak Naik di Tengah Isu Kenaikan Harga

beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…

6 bulan ago

Kejari Karo Bongkar Pola Dugaan Korupsi Jasa Videografi, Amsal Sitepu Jadi Tersangka

beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…

6 bulan ago

Gol yang Lama Dinanti Paul Pogba Akhiri Puasa Empat Tahun

beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…

6 bulan ago

Pejabat Tertinggi Garda Revolusi Iran Gugur dalam Serangan Israel di Bandar Abbas

beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…

6 bulan ago

Trump Manuver Diplomatik Lewat Pakistan, Dorong Gencatan Senjata dengan Iran

beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…

6 bulan ago

Sejarah Baru Moto3 Honda Team Asia Soroti Debut Fantastis Veda Ega Pratama

beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…

6 bulan ago