Viral

Pembunuh Anak Paling Keji di Inggris Tewas Usai Diserang di Penjara

beritahariini.news – Terpidana kasus pembunuhan dua anak yang pernah mengguncang Inggris, Ian Huntley, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami serangan brutal dari sesama narapidana di penjara dengan keamanan tinggi. Pria berusia 52 tahun itu mengembuskan napas terakhirnya pada awal Maret 2026 setelah sempat dirawat dalam kondisi kritis akibat cedera parah di kepala.

Huntley sebelumnya menjalani hukuman penjara seumur hidup atas pembunuhan dua siswi berusia 10 tahun, Holly Wells dan Jessica Chapman, dalam kasus yang dikenal luas sebagai tragedi Soham pada 2002. Insiden penyerangan yang menyebabkan kematiannya terjadi di HM Prison Frankland, sebuah penjara dengan tingkat keamanan maksimum di wilayah Durham, Inggris.

Serangan tersebut terjadi pada 26 Februari 2026 ketika Huntley diduga dipukul menggunakan benda logam oleh narapidana lain. Akibat pukulan tersebut, ia mengalami trauma otak berat dan ditemukan dalam kondisi bersimbah darah sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Setelah lebih dari sepekan berada dalam perawatan intensif dan bergantung pada alat penopang hidup, kondisinya tidak menunjukkan perbaikan. Mesin penunjang kehidupan kemudian dilepas sehari sebelum kematiannya diumumkan.

Kementerian Kehakiman Inggris menyatakan bahwa kasus pembunuhan yang dilakukan Huntley tetap menjadi salah satu tragedi paling mengguncang dalam sejarah kriminal negara tersebut, dan simpati mendalam terus diberikan kepada keluarga para korban.

Serangan oleh Sesama Narapidana

Otoritas penegak hukum Inggris menyebutkan bahwa pelaku serangan diduga merupakan narapidana lain bernama Anthony Russell, yang juga tengah menjalani hukuman atas kasus pembunuhan dan pemerkosaan. Insiden ini kini sedang diselidiki oleh kepolisian setempat, sementara berkas perkara tengah disiapkan untuk diserahkan kepada jaksa penuntut guna menentukan langkah hukum selanjutnya.

Serangan terhadap Huntley bukanlah yang pertama selama ia menjalani hukuman. Selama bertahun-tahun berada di balik jeruji besi, ia beberapa kali menjadi target kekerasan dari sesama tahanan. Pada 2010 misalnya, seorang narapidana pernah menyerangnya hingga melukai bagian lehernya.

Karena statusnya sebagai pelaku kejahatan yang sangat terkenal dan dibenci publik, Huntley kerap ditempatkan di bawah pengawasan ketat di dalam penjara. Meski demikian, serangan tetap terjadi di lingkungan fasilitas pemasyarakatan yang menampung banyak pelaku kejahatan berat.

Baca Juga: Israel Tuduh Iran Gunakan Bom Tandan Berulang Kali, Disebut sebagai Kejahatan Perang

Kasus Pembunuhan yang Mengguncang Inggris

Nama Huntley pertama kali menjadi sorotan dunia pada tahun 2002 setelah dua anak perempuan, Holly Wells dan Jessica Chapman, dilaporkan hilang dari kota kecil Soham di Cambridgeshire. Kedua bocah tersebut terakhir terlihat setelah meninggalkan sebuah acara keluarga untuk membeli permen di toko dekat rumah mereka.

Kehilangan mereka memicu salah satu operasi pencarian terbesar dalam sejarah Inggris. Ribuan relawan dan aparat kepolisian terlibat dalam pencarian yang berlangsung selama hampir dua minggu.

Akhirnya, jasad kedua anak itu ditemukan di area pedesaan di wilayah Lakenheath, sekitar belasan kilometer dari tempat mereka terakhir terlihat. Penemuan tersebut memicu duka mendalam dan kemarahan publik di seluruh Inggris.

Ironisnya, Huntley sempat tampil di media selama masa pencarian, bahkan memberikan pernyataan kepada wartawan seolah-olah ia juga turut prihatin atas hilangnya kedua anak tersebut. Namun penyelidikan kemudian mengarah kepadanya setelah polisi menemukan sejumlah kejanggalan dalam keterangannya.

Pada tahun 2003, pengadilan di London menyatakan Huntley bersalah atas pembunuhan tersebut dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup dengan masa minimum 40 tahun sebelum kemungkinan pembebasan bersyarat.

Peran Pacarnya dalam Kasus

Saat peristiwa itu terjadi, Huntley bekerja sebagai penjaga sekolah di Soham. Ia tinggal bersama kekasihnya saat itu, Maxine Carr, yang bekerja sebagai asisten pengajar di sekolah yang sama dengan para korban.

Carr kemudian ikut terseret dalam kasus tersebut karena memberikan alibi palsu kepada polisi guna melindungi Huntley selama proses penyelidikan.

Pengadilan akhirnya memvonis Carr bersalah karena menghalangi proses peradilan. Ia dijatuhi hukuman penjara dan menjalani masa tahanan selama 21 bulan sebelum kemudian hidup dengan identitas baru demi alasan keamanan.

Baca Juga: Inggris Kerahkan Jet Tempur ke Qatar Saat Konflik Timur Tengah Memanas

Dampak Besar bagi Sistem Keamanan

Kasus pembunuhan Soham tidak hanya mengguncang masyarakat Inggris, tetapi juga memicu evaluasi besar terhadap sistem pemeriksaan latar belakang pekerja yang berhubungan dengan anak-anak.

Setelah kasus itu terungkap, diketahui bahwa Huntley sebelumnya pernah dilaporkan dalam sejumlah dugaan tindak pelecehan seksual. Namun informasi tersebut tidak terkoordinasi dengan baik antar lembaga kepolisian sehingga ia tetap bisa bekerja di lingkungan sekolah.

Situasi itu memicu penyelidikan nasional yang dikenal sebagai Bichard Inquiry, yang kemudian merekomendasikan pembentukan basis data kepolisian nasional untuk memperbaiki sistem berbagi informasi antar aparat penegak hukum.

Perubahan tersebut menjadi salah satu reformasi penting dalam sistem keamanan anak di Inggris.

Reaksi Publik atas Kematian Huntley

Kabar kematian Huntley memunculkan beragam reaksi di masyarakat Inggris. Sebagian orang melihatnya sebagai akhir dari salah satu bab paling kelam dalam sejarah kriminal modern negara tersebut. Namun banyak pihak juga kembali mengingatkan bahwa tragedi yang dialami keluarga korban tidak akan pernah benar-benar berakhir.

Pemerintah Inggris menegaskan bahwa fokus utama tetap pada penghormatan terhadap memori para korban dan dukungan bagi keluarga mereka yang telah kehilangan anak secara tragis.

Pihak berwenang menyatakan bahwa luka yang ditinggalkan oleh kasus Soham masih terasa hingga hari ini, dan peristiwa itu akan selalu dikenang sebagai pengingat pentingnya perlindungan terhadap anak-anak.

Meski kematian Huntley menutup perjalanan hidup seorang pelaku kejahatan yang paling dibenci publik, tragedi yang terjadi pada 2002 tetap menjadi salah satu peristiwa kriminal paling memilukan dalam sejarah Inggris.

Priscilla Austin

Recent Posts

Pemerintah Pastikan BBM Tak Naik di Tengah Isu Kenaikan Harga

beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…

6 bulan ago

Kejari Karo Bongkar Pola Dugaan Korupsi Jasa Videografi, Amsal Sitepu Jadi Tersangka

beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…

6 bulan ago

Gol yang Lama Dinanti Paul Pogba Akhiri Puasa Empat Tahun

beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…

6 bulan ago

Pejabat Tertinggi Garda Revolusi Iran Gugur dalam Serangan Israel di Bandar Abbas

beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…

6 bulan ago

Trump Manuver Diplomatik Lewat Pakistan, Dorong Gencatan Senjata dengan Iran

beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…

6 bulan ago

Sejarah Baru Moto3 Honda Team Asia Soroti Debut Fantastis Veda Ega Pratama

beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…

6 bulan ago