Jeritan Hati Pekerja Seks Jepang di Tengah Gelombang Wisata Seks Asing

Priscilla Austin

Jeritan Hati Pekerja Seks Jepang di Tengah Gelombang Wisata Seks Asing
https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2020/04/20/d39ba4a3-05c9-4540-a382-a7d45e13d127_169.jpeg?w=700&q=90

beritahariini.news – Fenomena wisata seks kembali menjadi sorotan di Jepang, khususnya di kawasan Kabukicho, Tokyo pusat hiburan malam yang kini ramai dikunjungi wisatawan asing dari Korea Selatan, China, Amerika Serikat, hingga Eropa. Kunjungan yang semula berbalut hiburan kini bergeser ke arah praktik seks komersial terselubung yang memperlihatkan ketimpangan hukum dan sosial yang tajam, terutama bagi perempuan lokal yang bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) Jepang.

Meskipun Jepang dikenal dengan hukum yang konservatif, kenyataan di lapangan menunjukkan praktik yang jauh lebih kompleks dan penuh dilema.

Batasan Hukum: PSK Dihukum, Turis Asing Tak Tersentuh

Di Jepang, hukum tidak serta-merta melarang prostitusi. Namun, undang-undang menetapkan bahwa hanya hubungan seksual vaginal yang dikategorikan sebagai prostitusi ilegal. Aktivitas lain seperti seks oral, anal, atau layanan sensual yang tidak melibatkan penetrasi dianggap tidak termasuk dalam larangan hukum.

Ironisnya, bila terjadi pelanggaran, sanksi hukum justru menimpa PSK, bukan pelanggannya. Ketentuan ini dinilai oleh berbagai kalangan sebagai diskriminatif dan merugikan perempuan, apalagi di tengah meningkatnya jumlah klien asing yang menikmati “celah hukum” ini.

BACA JUGA: Ketegangan di Pasar Modern Unit 2: Wakil Bupati Tulang Bawang dan Pedagang Nyaris Bentrok

Lonjakan Klien Asing Pascapandemi

Setelah pandemi COVID-19 mereda, kawasan Okubo Park—yang terkenal dengan lokasi patung Godzilla—kembali ramai dikunjungi wisatawan. Namun, di balik meningkatnya kunjungan ini, muncul fenomena eksploitasi seksual terhadap pekerja seks lokal.

Ria (nama samaran), seorang PSK yang sering melayani klien asing, mengaku lebih memilih melayani turis dibanding warga lokal karena dua alasan utama:

  1. Klien asing cenderung tidak menawar harga

  2. Lebih kecil kemungkinan mereka adalah polisi penyamar

Ria mengaku bekerja tanpa mucikari dan membawa pelanggan langsung ke “love hotel” di sekitar Kabukicho. Harga layanan berkisar antara 15.000 hingga 30.000 yen (sekitar Rp 1,7 juta hingga Rp 3,5 juta), tergantung layanan dan durasi.

Krisis Ekonomi dan Terjebaknya Perempuan Muda

Fenomena ini tidak terlepas dari dampak ekonomi pascapandemi. Menurut Arata Sakamoto, kepala organisasi nirlaba Rescue Hub, banyak perempuan muda masuk ke industri seks karena tekanan ekonomi. Beberapa dari mereka bahkan masih berusia belasan tahun.

Azu, seorang PSK berusia 19 tahun, mengaku bisa memperoleh hingga 20.000 yen per jam, tetapi dengan risiko tinggi. Risiko pelecehan, eksploitasi digital, dan kekerasan fisik menjadi realitas pahit yang sering kali tak tertangkap kamera wisatawan.

Arata menambahkan bahwa sebagian besar perempuan ini mengalami gangguan kesehatan mental dan fisik akibat situasi kerja yang tidak aman, termasuk:

  • Direkam tanpa persetujuan

  • Tidak dibayar sesuai kesepakatan

  • Diperlakukan secara kasar

Peran Media Sosial dan Ledakan Wisata Seks

Fenomena ini juga tak lepas dari pengaruh viralnya konten di TikTok dan Bilibili, yang menyulut gelombang wisatawan “pemburu seks” dari berbagai negara. Konten yang menampilkan tempat-tempat hiburan malam Tokyo sebagai surga dewasa justru memperparah situasi dan mendorong permintaan layanan seksual semakin tinggi.

Seruan Kampanye Wisata Etis dan Aman

Untuk merespons fenomena ini, para aktivis hak perempuan dan kelompok perlindungan korban perdagangan manusia menyerukan kampanye wisata etis yang lebih aktif. Beberapa usulan yang diajukan meliputi:

  • Edukasi multibahasa di bandara dan hotel

  • Penayangan konten penyuluhan di kawasan wisata populer

  • Penerapan hukum yang menyasar pelanggan, bukan hanya pekerja seks

“Ketimpangan ini bisa ditekan jika ada penegakan hukum terhadap pelanggan serta penyuluhan yang jelas sejak kedatangan mereka di Jepang,” tegas Arata.

Tanggapan Kepolisian Tokyo: Patroli Ditingkatkan, Aksi Masih Minim

Pihak Kepolisian Metropolitan Tokyo menyatakan telah meningkatkan patroli di kawasan hiburan malam sejak akhir 2024, tetapi hingga kini belum ada tanggapan resmi terkait lonjakan aktivitas pekerja seks di Jepang yang melibatkan wisatawan asing.

Langkah ini dinilai belum cukup karena penegakan hukum lebih banyak menyasar pelaku lokal, bukan pelanggan asing yang justru mendominasi permintaan.

Penutup: Ketika Wisata Menjadi Jerat Eksploitasi

Fenomena wisata seks di Jepang, khususnya di kawasan Kabukicho, mencerminkan kekosongan regulasi, ketimpangan hukum, dan tekanan ekonomi yang merundung para perempuan lokal. Di balik kilau lampu neon Tokyo dan daya tarik wisata modern, terdapat realita getir tentang eksploitasi seksual yang tak terlihat mata awam.

Kini, saatnya semua pihak baik pemerintah Jepang, pelaku industri wisata, maupun wisatawan asing mengambil peran aktif dalam menghentikan eksploitasi seksual melalui edukasi, regulasi yang adil, dan pilihan wisata yang etis dan manusiawi.

Sumber: Jeritan Hati Pekerja Seks di Jepang yang Diburu Turis Korea Hingga Eropa

Popular Post

NewsPolitik

Profil Ketua Komnas HAM Anis Hidayah: Aktivis Migran yang Kini Memimpin Lembaga Hak Asasi Tertinggi

beritahariini.news – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menetapkan susunan baru pimpinan dan subkomisi untuk periode 2022–2027. Keputusan ...

Viral

MUA Dea Lipa Akui Dirinya Pria Bernama Deni, Pihak Keluarga Sampaikan Permintaan Maaf

beritahariini.news – Polemik soal identitas asli MUA viral bernama Dea Lipa, atau yang dikenal publik sebagai Sister Hong Lombok, akhirnya ...

5 Fakta Kasus Bu Guru Salsa, Viral Gegara Ulah Pacar Online

Viral

5 Fakta Kasus Bu Guru Salsa, Viral Gegara Ulah Pacar Online

beritahariini.news – Kasus yang menimpa Salsa Anindya, guru honorer asal Jember, Jawa Timur, menjadi perbincangan publik setelah rekaman pribadinya tersebar ...

News

Heboh! Pondasi Tiang Listrik di Sambas Retak, Warga Temukan Isi Kelapa dan Serabut

beritahariini.news – Warga Desa Sarang Burung Usrat, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, digemparkan oleh temuan tak biasa pada pondasi ...

Gaya HidupLainnya

Cantiknya Olla Ramlan Saat Pamer Momen Liburan di Labuan Bajo

beritahariini.news – Artis dan presenter Olla Ramlan tengah menikmati momen liburan yang menenangkan di Labuan Bajo, salah satu destinasi wisata ...

Ekonomi

Proyek Batu Bara BUMN Dapat Pendanaan Rp 3,5 Triliun

beritahariini.news – PT Bukit Asam Tbk (PTBA), salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar milik negara yang tergabung dalam holding ...