Jenazah Raja Solo Pakubuwono XIII Akan Dimakamkan di Makam Imogiri pada 5 November
Raja Keraton Solo Pakubuwono XIII ( beritahariini )
beritahariini.news – Kesultanan Surakarta Hadiningrat tengah berduka. Kabar duka datang dari Keraton Kasunanan Surakarta setelah Raja Pakubuwono (PB) XIII, Kanjeng Sinuhun Hangabehi Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, wafat pada Sabtu malam, 1 November 2025. Jenazah sang raja rencananya akan dimakamkan di Astana Imogiri, Bantul, Yogyakarta, pada Selasa, 5 November 2025, dengan prosesi adat kebesaran Keraton Surakarta.
Informasi mengenai waktu pemakaman disampaikan langsung oleh pihak keraton melalui pernyataan resmi yang dibacakan oleh Pengageng Parentah Keraton, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Dipokusumo. Ia menuturkan bahwa seluruh rangkaian upacara adat tengah dipersiapkan sesuai tata cara dan pakem yang berlaku di lingkungan keraton.
“Kanjeng Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi meninggal dunia dalam usia 76 tahun pada Sabtu malam sekitar pukul 22.45 WIB di Rumah Sakit dr. Moewardi, Surakarta. Sesuai keputusan keluarga dan petinggi keraton, jenazah akan dimakamkan di Astana Imogiri pada tanggal 5 November mendatang,” ujar KPH Dipokusumo dalam konferensi pers di Pagelaran Keraton Surakarta, Minggu (2/11).
Sejak kabar duka itu tersiar, kompleks Keraton Surakarta dipenuhi oleh keluarga besar, abdi dalem, serta masyarakat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Prosesi adat “Jamasan Jasad” atau pemandian jenazah raja dilakukan secara tertutup pada Minggu pagi oleh para abdi dalem khusus yang telah ditunjuk.
Sementara itu, masyarakat umum diperkenankan datang memberikan penghormatan pada sore hari di Bangsal Smarakata. Suasana khidmat dan haru terasa di seluruh penjuru keraton. Beberapa warga bahkan datang dari luar kota seperti Klaten, Wonogiri, hingga Yogyakarta untuk sekadar melayat dan mendoakan.
Salah satu warga, Suparni (54), warga Laweyan, mengaku ikut berduka karena merasa kehilangan sosok pemimpin yang dikenal dekat dengan rakyat kecil.
“Sinuhun orangnya sangat sederhana dan sering turun langsung ke masyarakat. Waktu pandemi dulu, beliau pernah bagi sembako di sekitar Pasar Klewer tanpa banyak publikasi. Kami merasa sangat kehilangan,” ujarnya sambil menitikkan air mata.
Pemakaman Raja Pakubuwono XIII akan dilakukan di Astana Imogiri, tempat peristirahatan terakhir para raja Mataram dan keturunannya, termasuk Raja Yogyakarta dan Surakarta. Prosesi pemakaman akan diiringi tradisi adat yang disebut Ngiring Jasad Dalem arak-arakan jenazah raja menuju tempat pemakaman dengan iringan gamelan dan doa.
KPH Dipokusumo menjelaskan bahwa keberangkatan jenazah dari Surakarta menuju Imogiri akan dilakukan pada Selasa pagi, 5 November 2025, sekitar pukul 06.00 WIB. Iring-iringan akan melewati rute Keraton Gladak Kartasura Klaten Prambanan dan tiba di Imogiri sekitar pukul 10.00 WIB.
“Seluruh prosesi akan dijalankan secara sakral dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan dan prajurit keraton. Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak Kraton Yogyakarta terkait teknis upacara di kompleks Imogiri,” tambahnya.
Sementara itu, Puro Pakualaman dan Keraton Yogyakarta juga dijadwalkan mengirimkan utusan resmi sebagai tanda penghormatan kepada almarhum. Hubungan dua keraton tersebut diketahui kembali harmonis dalam beberapa tahun terakhir setelah sempat renggang akibat perbedaan pandangan terkait warisan budaya dan adat istiadat.
Perjalanan Hidup Pakubuwono XIII
Sri Susuhunan Pakubuwono XIII atau yang memiliki nama lahir Gusti Raden Mas Hangabehi lahir di Surakarta pada 12 Juli 1949. Ia merupakan putra dari Pakubuwono XII dan menjadi penerus tahta setelah wafatnya sang ayah pada 2004.
Perjalanan menuju penobatan Pakubuwono XIII tidak berjalan mulus. Keraton Surakarta sempat mengalami dualisme kepemimpinan setelah muncul klaim tahta dari dua pihak, yakni PB XIII Hangabehi dan PB XIII Tedjowulan. Perselisihan itu baru benar-benar mereda setelah pemerintah memfasilitasi rekonsiliasi pada 2012, dan PB XIII Hangabehi diakui sebagai raja secara de jure dan de facto oleh Kementerian Dalam Negeri.
Selama masa kepemimpinannya, Pakubuwono XIII dikenal sebagai sosok yang tenang, religius, dan konsisten menjaga tradisi Jawa di tengah perubahan zaman. Ia berupaya memperkuat posisi keraton sebagai pusat kebudayaan dan spiritualitas Jawa, bukan sekadar simbol sejarah.
“Beliau punya komitmen besar menjaga warisan leluhur. Sinuhun sering berpesan agar generasi muda tidak melupakan akar budaya dan bahasa Jawa,” kata KPH Dipokusumo.
Respons Pemerintah dan Tokoh Publik
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Pakubuwono XIII. Ia menyebut almarhum sebagai sosok panutan dan penjaga nilai-nilai budaya Jawa yang sangat berpengaruh.
“Kita kehilangan sosok pemimpin budaya yang berwibawa dan rendah hati. Beliau tidak hanya simbol, tapi juga inspirasi bagi banyak orang dalam merawat kebinekaan dan kearifan lokal,” ujar Ganjar melalui keterangan tertulis.
Hal senada disampaikan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, yang menyebut Pakubuwono XIII berperan penting dalam menjaga eksistensi kesenian Jawa seperti wayang, karawitan, dan batik klasik Surakarta.
“Keraton Surakarta di bawah kepemimpinan PB XIII menjadi benteng penting pelestarian budaya. Pemerintah merasa kehilangan atas kepergian beliau,” tulis Nadiem di akun media sosial resminya.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak keraton terkait siapa yang akan menggantikan posisi Pakubuwono XIII di tahta Kasunanan Surakarta. Namun sejumlah pihak internal mengindikasikan bahwa proses Sungkeman Adat Dalem untuk menentukan penerus akan dilakukan setelah seluruh rangkaian pemakaman selesai.
Abdi dalem senior, KRT Martodipuro, mengatakan tradisi penentuan penerus raja akan mengikuti pakem adat keraton dengan melibatkan keluarga inti dan dewan sesepuh.
“Kami fokus dahulu mengantarkan Sinuhun ke peristirahatan terakhirnya. Setelah itu baru akan dibicarakan mengenai penerus tahta dengan penuh kebijaksanaan,” ujarnya.
Di tengah duka mendalam, masyarakat berharap agar momentum wafatnya Pakubuwono XIII dapat menjadi titik refleksi untuk memperkuat persatuan di lingkungan keraton, sekaligus menegaskan kembali peran penting budaya Jawa bagi bangsa Indonesia.
“Warisan beliau bukan hanya keraton, tetapi nilai-nilai luhur yang mengajarkan tata krama, kesabaran, dan cinta terhadap budaya sendiri,” tutup KRT Martodipuro dengan nada haru.