beritahariini.news – Performa Francesco “Pecco” Bagnaia di awal musim MotoGP 2025 memunculkan spekulasi tajam terkait masa depannya bersama Ducati Lenovo Team. Juara dunia bertahan yang sempat mendominasi musim lalu kini justru kesulitan menjaga konsistensi. Beberapa pengamat, termasuk mantan petinggi LCR Honda Oscar Haro, bahkan menyebut bahwa Bagnaia bisa saja meninggalkan Ducati lebih cepat dari yang diperkirakan, kendati kontraknya masih berlaku hingga akhir musim 2026.
Performa Menurun: Dari Dominasi ke Ketertinggalan
Musim lalu, Bagnaia tampil gemilang dengan 11 kemenangan grand prix, mencerminkan dominasi penuh atas rival-rivalnya. Namun, hingga seri ke-6 MotoGP 2025, grafik performa sang pebalap Italia mengalami penurunan drastis. Ia hanya mengantongi:
-
1 kemenangan

Also Read
-
1 finis di posisi kedua
-
6 podium ketiga
-
Beberapa kali gagal finis atau di luar lima besar
Penurunan ini menjadi lebih mencolok karena terjadi saat rekan satu timnya, Marc Marquez, justru tampil mengesankan dengan 9 kemenangan dari 12 balapan yang telah berlangsung. Tak hanya itu, Alex Marquez yang menunggangi motor Ducati spesifikasi 2024 bersama tim satelit Gresini bahkan beberapa kali mengungguli Pecco.
Tekanan Internal dari Manajemen Ducati
BACA JUGA: MotoGP Prancis 2025: Johann Zarco Ukir Sejarah, Akhiri Penantian 71 Tahun Kemenangan Tuan Rumah
Kegagalan Bagnaia meraih poin di MotoGP Prancis 2025 menjadi titik balik yang memperkuat tekanan terhadapnya. Pernyataan dari manajemen Ducati menunjukkan sinyal tak puas:
-
Gigi Dall’Igna (General Manager Ducati): “Bagnaia gagal memenuhi ekspektasi.”
-
Davide Tardozzi (Team Manager): “Pecco harus mengambil langkah ke depan dan kembali percaya pada potensinya.”
Komentar-komentar ini mencerminkan bahwa posisi Bagnaia, meskipun masih kontrak, tidak lagi senyaman sebelumnya. Kritik ini memperlihatkan bahwa manajemen Ducati mulai meragukan ketangguhan mental dan konsistensi sang juara bertahan.
Oscar Haro: Bagnaia Kehilangan Fokus dan Harga Diri
Oscar Haro, dalam perbincangannya di kanal YouTube Nico Abad, mengungkap bahwa iklim internal di Ducati sudah mulai membebani Bagnaia secara psikologis.
“Dia kehilangan harga diri, kehilangan fokus,” ujar Haro.
“Dall’Igna, Tardozzi, Pirro, semuanya mengirim pesan yang jelas: mereka menuntut lebih dari Pecco.”
“Saya tidak akan menutup kemungkinan kepergian lebih awal ke pabrikan lain jika atmosfer internal tidak membaik.”
Menurut Haro, tekanan bukan hanya dari hasil, tapi juga dari dinamika tim yang kini lebih berpihak pada Marquez, serta minimnya dukungan moril terhadap Bagnaia yang tengah berjuang.
Bayang-Bayang Pedro Acosta dan Masa Depan Ducati
BACA JUGA: Jorge Martin Ingin Akhiri Kontrak Lebih Cepat di Aprilia, Usai Musim Buruk di MotoGP 2025
Ketidakpastian nasib Pedro Acosta di KTM turut menyeret nama Ducati dalam rumor transfer. Acosta, yang dianggap sebagai bintang masa depan MotoGP, dilaporkan mulai membuka opsi untuk mencari pabrikan baru apabila KTM tidak mampu menyediakan motor kompetitif dalam waktu dekat.
Dengan demikian, posisi Bagnaia di Ducati menjadi semakin rawan. Pabrikan asal Borgo Panigale itu tidak menutup kemungkinan mencari pengganti yang lebih menjanjikan jika performa Pecco tak kunjung membaik.
Kontrak Masih Sampai 2026, Tapi…
Secara resmi, Bagnaia masih terikat kontrak hingga akhir musim 2026. Namun, MotoGP bukan hanya soal kontrak di atas kertas. Ketika performa menurun, atmosfer internal memburuk, dan pilihan rider pengganti mulai tersedia, skenario pemutusan kontrak lebih awal bukanlah hal yang mustahil.
Apalagi, jika tim lain seperti Yamaha, Aprilia, atau bahkan KTM mulai membuka pembicaraan intensif, potensi hengkangnya Bagnaia bisa menjadi kenyataan lebih cepat dari yang diprediksi.
Penutup: Akankah Bagnaia Bertahan?
Francesco Bagnaia saat ini berada di persimpangan jalan. Dari seorang juara dunia yang disanjung, kini ia berada di bawah bayang-bayang rekan setimnya sendiri. Tekanan dari manajemen, sorotan media, dan rumor transfer membuat musim 2025 menjadi salah satu periode paling kritis dalam kariernya.
Bagnaia masih punya waktu untuk bangkit dan membungkam keraguan. Tapi jika situasi internal tidak membaik dan performa tak kunjung membaik, pintu keluar dari Ducati bisa terbuka lebih cepat dari yang dibayangkan.















