beritahariini.news – Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan struktural pada jantung yang sudah ada sejak bayi dilahirkan. Kondisi ini biasanya terjadi akibat adanya kebocoran atau penyempitan pada bilik maupun pembuluh darah jantung, sehingga aliran darah menjadi tidak normal.
Menurut dr. Asmoko Resta Permana, SpJP(K) Subsp. Ped. PJB(K) dari Siloam Heart Hospital (SHH), penyakit ini dibagi menjadi dua kategori besar:
-
Asianotik (tidak biru) – aliran darah ke seluruh tubuh masih mengandung oksigen yang cukup, sehingga kulit anak tampak normal.

Also Read
-
Sianotik (biru) – aliran darah ke tubuh kekurangan oksigen, sehingga kulit, bibir, atau kuku anak terlihat kebiruan.
Kedua jenis PJB ini sama-sama berbahaya dan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang hingga risiko gagal jantung apabila tidak segera ditangani.
Gejala yang Sering Tidak Disadari
Gejala PJB bisa tampak sejak bayi baru lahir, tetapi banyak yang tidak segera terdeteksi. Pada bayi, tanda awal biasanya berupa infeksi paru berulang, kesulitan menyusu, hingga gagal tumbuh. Namun, ada pula kasus di mana anak terlihat sehat tetapi menunjukkan tanda terselubung, seperti:
-
Cepat lelah saat bermain atau menyusu.
-
Berat badan tidak naik sesuai kurva pertumbuhan posyandu.
-
Sering sesak napas atau napas berbunyi.
Dr. Asmoko menegaskan, orang tua harus waspada apabila anak mengalami infeksi paru hingga 2–3 kali dalam setahun, cepat lelah, atau gagal tumbuh. Gejala tersebut bisa menjadi sinyal adanya penyakit jantung bawaan.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu komplikasi serius, antara lain gagal jantung, hipertensi paru, hingga kerusakan organ lain seperti ginjal.
BACA JUGA : PM Singapura Perketat Aturan Vape, Perlindungan Kesehatan Generasi Muda Jadi Prioritas
Jenis-Jenis Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Ditemukan
Penyakit jantung bawaan memiliki berbagai jenis dengan mekanisme berbeda. Beberapa yang paling sering terjadi adalah:
-
Atrial Septal Defect (ASD)
Terjadi ketika dinding pemisah antara serambi kanan dan kiri jantung tidak tertutup sempurna. Akibatnya, darah mengalir ke arah yang tidak semestinya. Pada sebagian kasus, ASD kecil dapat menutup sendiri, tetapi yang besar memerlukan tindakan medis. -
Ventricular Septal Defect (VSD)
Merupakan kebocoran pada bilik jantung yang memiliki tekanan tinggi. Kondisi ini menyebabkan gejala lebih cepat muncul dan cenderung lebih berat. VSD besar dapat memicu gagal jantung dan hipertensi paru. -
Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Adalah kondisi ketika saluran yang seharusnya menutup setelah bayi lahir tetap terbuka. PDA lebih sering ditemukan pada bayi prematur. Lubang kecil dapat menutup dengan sendirinya, tetapi lubang besar berisiko menimbulkan komplikasi seperti gagal jantung, hipertensi paru, dan infeksi serius.
Gejala Berdasarkan Tahap Usia
Gejala PJB sering kali bervariasi tergantung usia anak:
-
Pada Bayi:
Bayi dengan PJB biasanya kesulitan menyusu. Mereka sering berhenti karena kelelahan meski masih lapar. Selain itu, mereka bisa berkeringat berlebihan saat menyusu atau menunjukkan pernapasan cepat. -
Pada Balita dan Anak Usia Sekolah:
Anak lebih cepat lelah dibanding teman sebayanya. Misalnya, sulit mengikuti aktivitas fisik, sering berhenti ketika bermain, atau tampak kehabisan napas saat naik tangga. -
Pada Usia Lebih Besar:
Berat badan sering tidak sesuai dengan standar pertumbuhan. Anak bisa terlihat kurus, pucat, dan mudah terkena infeksi pernapasan.
Gejala-gejala ini tidak boleh dianggap remeh, karena bisa menjadi tanda awal adanya kebocoran pada jantung.
BACA JUGA : Mengenal Manfaat Gigi Susu dan Enam Cara Efektif Menjaganya
Komplikasi Jika Tidak Segera Ditangani
Jika penyakit jantung bawaan tidak mendapatkan penanganan, risiko komplikasi akan meningkat. Beberapa di antaranya meliputi:
-
Gagal Jantung: jantung tidak mampu memompa darah secara optimal sehingga tubuh kekurangan oksigen.
-
Hipertensi Paru: tekanan darah tinggi pada paru-paru akibat aliran darah berlebih ke organ ini.
-
Infeksi Paru Berulang: aliran darah yang tidak normal dapat memicu paru-paru menjadi “banjir” cairan dan lebih rentan terinfeksi.
-
Kerusakan Organ Lain: beban berat pada jantung dapat memengaruhi ginjal dan hati.
Dr. Asmoko menjelaskan, jika kebocoran aliran darah mengalir terus ke paru-paru, lama-kelamaan paru akan menjadi kaku, menyebabkan anak sulit bernapas, bahkan berisiko fatal.
Pentingnya Deteksi Dini
Deteksi dini sangat penting untuk mencegah PJB berujung pada komplikasi. Pemeriksaan dapat dilakukan sejak bayi lahir melalui:
-
Skrining jantung bawaan dengan pulse oximetry.
-
Ekokardiografi untuk melihat struktur jantung.
-
Pemeriksaan fisik rutin di posyandu atau rumah sakit.
Orang tua perlu jeli memperhatikan tanda-tanda terselubung seperti pertumbuhan yang lambat, nafsu makan buruk, atau aktivitas fisik yang berbeda dengan anak seusianya.
BACA JUGA : 5 Alasan Penting Sikat Gigi Sebelum Tidur untuk Kesehatan Mulut hingga Jantung
Penanganan dan Pengobatan
Pilihan pengobatan PJB bergantung pada jenis dan tingkat keparahannya. Beberapa penanganan medis yang umum dilakukan adalah:
-
Obat-obatan untuk mengurangi gejala gagal jantung dan menstabilkan kondisi anak.
-
Tindakan kateterisasi jantung guna menutup kebocoran kecil tanpa operasi terbuka.
-
Operasi jantung terbuka untuk memperbaiki kebocoran atau penyempitan yang lebih serius.
Selain intervensi medis, pola asuh yang baik, nutrisi seimbang, dan kontrol rutin ke dokter menjadi kunci dalam menjaga kualitas hidup anak dengan PJB.
Peran Orang Tua dalam Pencegahan dan Perawatan
Orang tua memiliki peran penting dalam mencegah komplikasi PJB. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
-
Membawa anak ke fasilitas kesehatan sejak muncul gejala awal.
-
Memastikan anak mendapat imunisasi lengkap untuk mencegah infeksi paru berulang.
-
Memberikan asupan gizi yang baik agar anak tetap tumbuh optimal.
-
Menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi risiko penyakit pernapasan.
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kondisi serius yang harus diwaspadai sejak dini. Meski sering kali gejalanya samar dan mudah terlewat, orang tua harus peka terhadap tanda seperti kesulitan menyusu, gagal tumbuh, cepat lelah, atau sering sesak napas.
Deteksi dini, pemeriksaan medis rutin, serta penanganan tepat dapat menyelamatkan anak dari risiko komplikasi berat seperti gagal jantung dan hipertensi paru. Dengan perhatian penuh dari orang tua dan dukungan medis yang tepat, anak dengan PJB tetap dapat tumbuh sehat dan memiliki kualitas hidup yang baik.

















