https://asset.kompas.com/crops/Qh9KWujk4Fq1vvm6YVSwSYB35Ks=/0x0:0x0/1200x800/data/photo/2025/01/31/679c9cdd90714.jpg
beritahariini.news – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kuliner telah mengalami transformasi besar. Berbagai jenis makanan modern kerap muncul di lini masa media sosial dan menjadi tren yang menarik perhatian masyarakat. Tak hanya soal cita rasa, kini kuliner telah menjadi bagian dari gaya hidup yang mencerminkan identitas seseorang. Namun, bagaimana nasib kuliner tradisional, khususnya Restoran Sunda, di tengah derasnya arus globalisasi ini?
Jika berbicara tentang kuliner khas Sunda, yang sering muncul di benak masyarakat adalah makanan berbasis aci atau tepung kanji, yang banyak ditemukan di berbagai sudut kota Bandung dan daerah lain di Jawa Barat. Padahal, kekayaan kuliner Sunda tidak hanya sebatas itu. Masakan khas Sunda memiliki keunggulan dalam hal kandungan gizi serta cita rasa yang kaya dan autentik.
Tetti Teriawati, Direktur Restoran Sunda Sindang Reret Group, mengungkapkan bahwa anak muda saat ini mengenal restoran khas Sunda dengan dua cara. Pertama, mereka diperkenalkan oleh orang tua atau keluarga. Kedua, ada rasa penasaran yang mendorong mereka untuk mencicipi kuliner tradisional tersebut.
Also Read
“Belum tentu mereka ingin berfoto saat berada di restoran Sunda, berbeda dengan restoran yang menyajikan makanan Korea atau Eropa yang lebih menarik bagi mereka,” ujar Tetti saat ditemui di cabang Restoran Sindang Reret di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Sindang Reret sendiri merupakan salah satu restoran Sunda yang telah berdiri sejak tahun 1973 dan dikenal luas di Jawa Barat, khususnya di Bandung. Dalam menjalankan bisnisnya, restoran ini tidak hanya mengutamakan tampilan makanan, tetapi juga menjaga cita rasa, kandungan gizi, serta keaslian kuliner Sunda.
Meskipun tampilan masakan Sunda sering dianggap sederhana, penyajiannya tidak bisa sembarangan. Seluruh aspek mulai dari rasa hingga tempat makan harus tetap selaras dengan nilai-nilai budaya Sunda. Hal inilah yang terus dijaga oleh Sindang Reret agar tetap relevan di tengah persaingan industri kuliner yang semakin ketat.
Sebagai putri sulung dari pendiri Sindang Reret, Tetti kini memimpin empat cabang restoran yang tersebar di Jawa Barat, yaitu di Ciwidey, Lembang, Surapati, dan Karawang. Selain restoran, grup bisnis ini juga memiliki unit katering bernama Destiny Catering yang melayani berbagai acara besar.
Di Ciwidey, Sindang Reret baru saja mengalami renovasi besar untuk menghadirkan suasana yang lebih segar. Meskipun memiliki sentuhan modern, elemen arsitektur khas Sunda tetap dipertahankan, seperti model bangunan julang ngapak yang menjadi ciri khas budaya Sunda.
“Seperti prinsip yang diajarkan oleh orang tua saya, kalau bukan kita yang melestarikan kuliner Sunda, lalu siapa lagi?” kata Tetti dengan penuh semangat.
Di tengah perkembangan industri kuliner yang semakin kompetitif, Tetti mengakui bahwa bisnis restoran tidak selalu berjalan mulus. Banyak pengusaha kuliner yang mengalami kesulitan dalam bertahan, bahkan terpaksa menutup usaha mereka.
BACA JUGA : 8 Makanan Penyebab Migrain yang Wajib Dihindari untuk Kesehatan Optimal
Selain faktor ekonomi, gempuran budaya luar juga menjadi tantangan tersendiri bagi kuliner lokal. Masuknya berbagai makanan asing serta peningkatan impor bahan pangan semakin memperketat persaingan. Namun, meskipun penuh tantangan, industri kuliner tetap diminati dan memiliki peluang besar jika dikelola dengan strategi yang tepat.
“Kami sudah melewati berbagai tantangan dalam 52 tahun terakhir, mulai dari pandemi COVID-19 hingga berbagai dinamika lainnya. Namun, tekad kami tetap sama, yaitu menjaga kelestarian masakan Sunda,” tutur Tetti.
Keberhasilan Sindang Reret dalam mempertahankan eksistensinya selama lebih dari lima dekade tidak terlepas dari inovasi yang terus dilakukan. Salah satu langkah yang mereka terapkan adalah melakukan pembaruan menu secara berkala.
“Kami selalu mengevaluasi dan memperbarui menu setidaknya setiap tiga bulan sekali,” ungkapnya.
Selain inovasi menu, Sindang Reret juga sangat memperhatikan kualitas bahan baku. Sebagai contoh, lalapan yang menjadi bagian penting dari kuliner Sunda ditanam langsung di kebun sendiri. Dengan cara ini, mereka dapat memastikan ketersediaan bahan serta menjaga kualitas sayuran yang digunakan dalam setiap hidangan.
Meskipun terus berinovasi, Sindang Reret tetap mempertahankan beberapa menu otentik yang telah menjadi favorit pelanggan selama bertahun-tahun, seperti bakakak hayam, gepuk, karedok, kasreng, dan cimplung. Semua resep ini dijaga dengan ketat demi mempertahankan cita rasa asli khas Sunda.
Sejarah panjang Sindang Reret tidak lepas dari keberadaannya di tanah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Lima puluh dua tahun yang lalu, restoran ini bermula dari sebuah warung nasi kecil berbentuk saung sederhana yang terletak tepat di lokasi restoran yang berdiri saat ini.
“Dulu hanya sepetak lahan kecil, sekarang luasnya sudah mencapai dua hektar,” kata Tetti.
Mendiang ayahnya, H.S. Hermawan, bersama istrinya, Ibu Sumartini, adalah warga asli Ciwidey yang memiliki tekad kuat dalam mempertahankan kuliner khas Sunda. Seiring berjalannya waktu, bisnis mereka berkembang tidak hanya sebagai restoran, tetapi juga menjadi hotel dengan fasilitas perjamuan yang luas untuk acara pernikahan dan pertemuan perusahaan.
Pelestarian budaya Sunda yang dilakukan oleh Sindang Reret tidak hanya terbatas pada makanan. Mereka juga berupaya mengembangkan konsep desa wisata yang memungkinkan para wisatawan merasakan langsung kehidupan masyarakat lokal.
Salah satu rencana yang sedang dipersiapkan adalah menyediakan delman untuk membawa wisatawan berkeliling desa sekitar Ciwidey. Selain menikmati pemandangan, wisatawan juga diajak untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas, seperti bertani atau membuat kerajinan tradisional khas Sunda, seperti golok khas Ciwidey.
“Kami ingin wisatawan tidak hanya mencicipi makanan Sunda, tetapi juga merasakan langsung bagaimana kehidupan masyarakat lokal dan budaya kami yang kaya,” ujar Tetti.
Hingga saat ini, Sindang Reret juga aktif melibatkan para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dalam berbagai kegiatan yang mereka selenggarakan. Harapannya, upaya ini dapat menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Di tengah maraknya tren kuliner asing, keberadaan restoran Sunda seperti Sindang Reret menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan kombinasi antara inovasi dan pelestarian budaya, Sindang Reret terus berupaya menjaga eksistensinya sebagai salah satu ikon kuliner khas Sunda.
Tantangan dalam dunia kuliner memang tidak sedikit, tetapi dengan strategi yang tepat serta komitmen untuk menjaga keaslian cita rasa, restoran khas Sunda dapat terus berkembang dan bersaing di era modern. Dengan demikian, tidak hanya kuliner khas Sunda yang tetap lestari, tetapi juga budaya dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya tetap hidup di tengah arus globalisasi.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…