https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2025/06/24/sate-kangkung-sedang-jadi-tren-di-media-sosial-1750739806877.jpeg
beritahariini.news – Dunia kuliner Indonesia kembali diramaikan dengan kreasi unik yang tengah viral di media sosial, yakni sate kangkung. Tidak seperti sate pada umumnya yang berbahan dasar daging ayam, kambing, atau sapi, kali ini sayur kangkung menjadi bahan utama. Inovasi yang tampak nyeleneh ini sukses memancing rasa penasaran netizen, terutama para pencinta kuliner eksperimental.
Alih-alih ditumis atau direbus seperti biasa, kangkung kini ditusuk-tusuk menggunakan lidi, kemudian dipanggang di atas bara atau wajan, lalu disajikan dengan berbagai macam bumbu baluran sesuai selera.
Tren sate kangkung ternyata tidak muncul begitu saja. Kreasi ini berakar dari salah satu teknik masak khas Tiongkok bernama shaokao. Dalam bahasa Mandarin, shaokao secara harfiah berarti memanggang atau barbeque. Shaokao merupakan gaya makan populer di China yang menyajikan aneka bahan makanan — mulai dari daging hingga sayur-mayur — yang dipanggang di atas bara api dan diberi bumbu khas.
Also Read
BACA JUGA: Seblak Kuah Matcha: Inovasi Kuliner Unik dari Bandung Timur yang Viral
Beberapa sayuran yang umum digunakan dalam shaokao antara lain kucai, jamur enoki, hingga kubis. Inspirasi inilah yang akhirnya diadaptasi oleh kreator kuliner Tanah Air menjadi sate kangkung, lengkap dengan gaya penyajian ditusuk dan dibakar.
Salah satu nama yang turut mengangkat pamor sate kangkung adalah @nanakoot, seorang food vlogger yang mengunggah video dirinya menyantap kreasi tersebut pada 15 Juni 2025. Dalam videonya, ia menampilkan kangkung yang tidak dipotong menjadi bagian kecil, melainkan dibiarkan utuh dan memanjang, ditusuk menggunakan lidi, kemudian dipanggang dan diberi bumbu. Ia mengaku membuatnya sendiri karena belum ada yang menjual sate kangkung secara komersial.
Meskipun mengakui cita rasa sate kangkung cukup lezat, Nanakoot menyoroti bahwa tekstur sayur yang panjang membuatnya sulit untuk dikunyah. Ini menjadi kritik yang kemudian banyak disepakati oleh netizen.
Tidak lama berselang, konten kreator Mursid turut mengunggah video kreasi sate kangkung versi pribadinya pada 21 Juni 2025. Ia memilih menggunakan sambal cabai merah, dicampur dengan bawang merah, bawang putih, cabai hijau, dan micin, lalu dilumurkan ke atas kangkung sembari memanggangnya di atas wajan anti lengket.
BACA JUGA: Mie Ayam Langsam Depok: Sajian Premium Harga Ramah Kantong dari Tangan Eks Chef Hotel
Sate kangkung mendapatkan beragam respons dari netizen. Ada yang antusias mencoba, terutama karena penasaran dengan rasa dan teksturnya. Namun, tak sedikit pula yang meragukan kenyamanan mengonsumsinya — terutama karena bentuk kangkung yang memanjang membuatnya sulit digigit secara praktis.
“Gue makan yang dipotong kecil-kecil dan ditumis aja kesusahan. Bikin kelolodan gak sih kalau gitu cara makannya?” tulis seorang netizen.
“Keliatannya enak sih, tapi kayaknya gue akan bikin tanpa ditusuk-tusuk. Udah aja jadi tumis kangkung,” komentar lainnya.
Komentar-komentar ini menunjukkan bahwa meski visualnya menggoda dan inovatif, konsep sate berbahan dasar kangkung masih menimbulkan kebingungan dari sisi fungsionalitas konsumsi.
Salah satu daya tarik dari tren sate kangkung adalah fleksibilitas bumbunya. Tak ada standar baku dalam penyajiannya, sehingga siapa pun bisa berkreasi sesuai selera masing-masing. Beberapa varian bumbu yang umum dipakai antara lain:
Bumbu kacang ala sate ayam
Sambal belacan khas Melayu
Saus shaokao berbasis cabai dan minyak wijen
Sambal ulek racikan pribadi
Olesan kecap manis dan bawang goreng
Dengan begitu, tren ini tidak hanya menjangkau pecinta masakan pedas, tetapi juga penggemar rasa gurih, manis, atau bahkan rempah-rempah khas Asia.
Fenomena seperti sate kangkung sebenarnya menjadi cerminan dari kecenderungan masyarakat terhadap menu sehat, inovatif, dan berbasis nabati. Dalam beberapa tahun terakhir, tren berbasis plant-based food semakin populer. Mulai dari steak jamur, nugget tempe, hingga kini sate sayuran, semua menunjukkan perubahan preferensi ke arah konsumsi yang lebih ramah lingkungan dan lebih sehat.
Meski masih tergolong eksperimental dan belum masif dijual di pasaran, sate kangkung memiliki potensi dikembangkan sebagai menu alternatif untuk vegetarian atau bahkan menu street food kreatif di masa depan.
Tren sate kangkung menunjukkan bahwa kreativitas dalam dunia kuliner nyaris tanpa batas. Terinspirasi dari gaya masak shaokao China, kreasi ini berhasil mencuri perhatian karena tampilannya yang nyeleneh namun menggugah rasa ingin tahu.
Meski masih banyak komentar soal kepraktisan menyantapnya, serta belum ditemukan di gerai makanan umum, tren ini membuktikan bahwa kombinasi antara budaya asing dan bahan lokal bisa melahirkan sesuatu yang unik dan berpotensi menjadi tren besar.
Apakah sate kangkung akan jadi sekadar tren sesaat atau berkembang menjadi bagian dari warisan kuliner kekinian? Jawabannya bisa ditentukan dari sejauh mana pelaku kuliner dapat menyesuaikan bentuk, rasa, dan pengalaman konsumsinya agar lebih diterima oleh pasar luas.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…