beritahariini.news – Dalam ekosistem ekonomi mikro di Indonesia, para pelaku usaha kecil memiliki peran vital dalam menopang ketahanan ekonomi masyarakat. Salah satu figur inspiratif yang layak disebut sebagai Pejuang UMKM adalah Suryani, seorang perempuan tangguh asal Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Berkat semangat juang dan kerja kerasnya, Suryani mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menciptakan perubahan, terutama dalam mendongkrak kesejahteraan keluarga melalui usaha toko kelontong.
Awal Mula Pejuang UMKM: Dari Coba-Coba Menjadi Pengusaha Tangguh
Pada tahun 2009, Suryani memulai usahanya dengan membuka sebuah toko kelontong kecil di pinggir jalan raya yang cukup ramai. Ia melihat peluang besar dari lokasi yang strategis. Meski berawal dari inisiatif coba-coba, niatnya untuk fokus pada perdagangan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan gula, sudah tertanam kuat.
Tidak berhenti di situ, Suryani kemudian menambahkan bensin eceran ke dalam jajaran produk jualannya. Strategi ini terbukti jitu. Berbagai kebutuhan masyarakat yang tersedia di tokonya membuat pelanggan berdatangan secara rutin. Secara perlahan namun pasti, omset pun mulai meningkat dan usahanya menunjukkan perkembangan signifikan.
Also Read
Dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI: Tonggak Perluasan Usaha
Seiring berkembangnya toko kelontong miliknya, Suryani menyadari bahwa tambahan modal usaha sangat dibutuhkan agar ia bisa meningkatkan stok dan memperluas jenis produk yang ditawarkan. Dalam momentum inilah, Suryani mengakses program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
Pada akhir tahun 2024, Suryani berhasil memperoleh pinjaman KUR sebesar Rp50 juta. Pinjaman ini menjadi bahan bakar utama untuk menambah skala usahanya. Menurutnya, proses pengajuan KUR di BRI sangat cepat dan mudah. Hal ini sangat membantunya karena ia bisa segera memutar modal tambahan untuk memperkuat bisnisnya.
Pendampingan BRI yang Menyeluruh Membantu Pejuang UMKM
Keunggulan KUR dari BRI bukan hanya terletak pada pencairan modal yang cepat, tetapi juga pada sistem pendampingan yang diberikan kepada nasabah. Suryani menyampaikan bahwa dirinya dibimbing untuk memahami manajemen usaha mikro secara sederhana, seperti bagaimana cara mengelola arus kas, kapan waktu ideal untuk membayar cicilan pinjaman, dan bagaimana strategi menyimpan keuntungan untuk pengembangan usaha.
Melalui pendampingan ini, Suryani merasa semakin percaya diri dalam menjalankan dan mengelola toko kelontongnya. Pemahaman akan pentingnya disiplin keuangan dan efisiensi belanja stok juga membantu meningkatkan laba bersih usahanya secara berkelanjutan.
Dukungan Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar
Tak berhenti sampai di situ, Suryani juga menjadi nasabah aktif dari program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) yang dijalankan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM), bagian dari Holding Ultra Mikro bersama BRI dan Pegadaian. Program ini menyasar para perempuan pelaku usaha ultra mikro dari keluarga prasejahtera.
BACA JUGA : Jumlah Pemudik Lebaran 2025 Tembus 146,48 Juta, Kendaraan Pribadi Jadi Pilihan Utama
Pada tahun 2023, Suryani memperoleh bantuan permodalan tanpa agunan senilai Rp3 juta dari PNM Mekaar. Dana tersebut langsung ia alokasikan untuk menambah stok produk jualan di tokonya. Menurutnya, proses pengajuan di PNM Mekaar sangat mudah, cepat, dan tidak memberatkan pelaku usaha mikro seperti dirinya.
Toko Kelontong yang Kini Jadi Tulang Punggung Keluarga
Berkat sinergi antara kerja keras dan akses permodalan yang tepat, Suryani kini mampu menghasilkan omset harian hingga Rp500 ribu dari usaha toko kelontong miliknya. Meski usaha ini tergolong kecil dan dijalankan secara mandiri dari rumah, toko kelontong tersebut telah menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Bahkan, dari penghasilan itu, Suryani mampu membiayai pendidikan anak-anaknya.
Keberhasilan ini menjadi bukti konkret bahwa dengan permodalan yang inklusif dan pendampingan yang berkelanjutan, pelaku usaha mikro bisa berkembang dan bahkan menjadi inspirasi di komunitas sekitarnya.
Transformasi Nyata: Dari Mikro ke Kelas Menengah
Cerita sukses Suryani tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menggambarkan pentingnya strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis akar rumput. Melalui program-program seperti KUR BRI dan PNM Mekaar, para pelaku UMKM tidak hanya diberikan modal, tetapi juga bekal keterampilan dasar, wawasan bisnis, serta jaringan yang luas untuk tumbuh dan berkembang.
Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi menyampaikan bahwa Suryani adalah contoh nyata bagaimana program BRI mampu menjembatani para pelaku usaha kecil untuk naik kelas. Menurutnya, pemberdayaan UMKM adalah salah satu komitmen BRI yang tidak hanya sebatas pembiayaan, tetapi menyentuh aspek pembinaan dan literasi keuangan.
Peran Strategis BRI dalam Pemberdayaan Pejuang UMKM
Sebagai lembaga perbankan yang memiliki jaringan terbesar hingga pelosok negeri, BRI telah menjelma sebagai motor utama penggerak ekonomi rakyat. KUR BRI menjadi produk unggulan yang telah menyalurkan triliunan rupiah setiap tahun kepada jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Tidak hanya itu, BRI juga aktif dalam memperluas inklusi keuangan dengan mendorong masyarakat untuk menabung, bertransaksi secara digital, dan mengadopsi teknologi dalam menjalankan usahanya. Dalam konteks inilah, istilah Pejuang UMKM menjadi semakin relevan, karena di balik kisah sukses seperti Suryani, terdapat semangat pantang menyerah, kerja keras, dan kolaborasi dengan lembaga keuangan yang berpihak kepada rakyat kecil.
Membangun Ekonomi Bangsa dari Pejuang UMKM
Dalam kerangka pembangunan nasional, UMKM memainkan peran sangat krusial. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB Indonesia dan menyerap hingga 97 persen tenaga kerja nasional. Oleh karena itu, pemberdayaan UMKM sejatinya adalah pemberdayaan ekonomi bangsa.
Kisah Suryani sebagai Pejuang UMKM adalah satu dari jutaan cerita perjuangan rakyat kecil yang gigih menata kehidupan lewat jalur wirausaha. Sinergi antara pemerintah, BRI, dan lembaga pembiayaan lainnya sangat dibutuhkan untuk memperluas akses pembiayaan dan pemberdayaan pelaku UMKM di seluruh pelosok negeri.
Penutup: Inspirasi dari Toko Kelontong Pinggir Jalan
Suryani telah membuktikan bahwa tekad kuat, dibarengi akses terhadap pembiayaan inklusif, bisa mengubah nasib siapa pun. Dari sebuah toko kelontong di pinggir jalan, ia mampu menghidupi keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya, dan memberi harapan bagi banyak perempuan pelaku usaha kecil lainnya.
Dalam perjalanan panjang menuju Indonesia yang sejahtera dan inklusif, kisah Suryani mengingatkan kita bahwa pembangunan sejati dimulai dari bawah — dari tangan-tangan sederhana para pejuang UMKM.