beritahariini.news – Maxim Indonesia, salah satu perusahaan aplikasi transportasi daring, menegaskan bahwa biaya aplikasi yang diterapkan kepada mitra pengemudi ojek online (ojol) mereka tidak melampaui batas yang telah ditentukan pemerintah, yakni maksimal 20%. Bahkan, Maxim menyatakan potongan yang dikenakan kepada mitra pengemudinya berada di bawah angka tersebut.
Pernyataan ini muncul setelah munculnya isu yang menyebutkan bahwa beberapa aplikator ojol diduga masih memotong biaya aplikasi hingga lebih dari 20%, yang menimbulkan keresahan di kalangan pengemudi.
Komitmen Maxim terhadap Mitra Pengemudi
Development Director Maxim Indonesia, Dirhamsyah, menjelaskan bahwa Maxim memiliki kebijakan pemotongan biaya aplikasi yang jauh lebih rendah dibandingkan batas maksimum yang diatur dalam peraturan pemerintah. Bahkan, beberapa program khusus memungkinkan mitra mendapatkan potongan yang lebih kecil, yaitu hingga 5%.
Also Read
“Di Maxim, potongan biaya aplikasi tidak pernah mencapai 20%. Kami memastikan bahwa potongan maksimal hanya 15%, dan dengan program-program tertentu, potongan ini bisa ditekan hingga 5% per pesanan untuk mitra mobil,” ungkap Dirhamsyah pada Minggu (26/1/2025) di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa Maxim berkomitmen memberikan peluang lebih besar bagi mitra untuk memperoleh penghasilan yang optimal. Hal ini dilakukan melalui berbagai skema insentif dan program kemitraan yang dirancang untuk meringankan beban pengemudi.
Permintaan Pengurangan Biaya Aplikasi oleh Asosiasi Pengemudi
Isu potongan biaya aplikasi yang tinggi sebelumnya mencuat setelah Asosiasi Pengemudi Transportasi dan Jasa Daring Indonesia menyampaikan keluhan terkait biaya aplikasi yang dianggap memberatkan. Ketua Umum Asosiasi, Raden Igun Wicaksono, mengungkapkan bahwa beberapa aplikator memotong biaya hingga 30%, jauh di atas batas yang diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan KP No. 1001 Tahun 2022.
Menurut regulasi tersebut, biaya aplikasi maksimal adalah 20%, namun kenyataannya di lapangan, beberapa pengemudi mengeluhkan potongan yang lebih tinggi. Raden Igun menilai bahwa beban potongan ini membuat pengemudi kesulitan memenuhi kebutuhan mereka, sehingga asosiasi mendesak pemerintah dan aplikator untuk menurunkan biaya aplikasi hingga 10%.
BACA JUGA : Pj Gubernur NTB Dorong Petani Bawang Kembangkan Inovasi Pertanian Modern
“Kami meminta pemerintah dan aplikator untuk segera menyesuaikan potongan biaya aplikasi. Kami sangat menyayangkan minimnya tindakan dari pihak regulator terhadap aplikator yang melanggar aturan resmi,” ujar Raden Igun.
Langkah Pemerintah Menyelesaikan Isu Biaya Aplikasi
Menanggapi keluhan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan akan mengoordinasikan pembahasan masalah biaya aplikasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa persoalan biaya aplikasi tidak hanya menjadi kewenangan satu kementerian, melainkan melibatkan berbagai sektor yang terkait.
“Masalah biaya aplikasi ini kompleks dan melibatkan beberapa kementerian. Kami perlu duduk bersama untuk membahas dan mencari solusi terbaik bagi pengemudi dan aplikator,” ujar Nezar dalam keterangannya pada Rabu (22/1/2025).
Ia juga menyebutkan bahwa hasil dari pertemuan lintas kementerian ini nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan kebijakan lebih lanjut terkait biaya aplikasi bagi pengemudi ojol.
Pentingnya Keseimbangan antara Pengemudi dan Aplikator
Biaya aplikasi menjadi salah satu komponen penting dalam ekosistem transportasi daring. Di satu sisi, biaya ini digunakan untuk mendukung operasional perusahaan, termasuk pengembangan teknologi dan pemasaran. Namun, di sisi lain, biaya yang terlalu tinggi dapat mengurangi pendapatan bersih pengemudi dan berdampak pada kesejahteraan mereka.
Maxim, dalam hal ini, berusaha menjaga keseimbangan tersebut dengan menetapkan potongan biaya yang lebih rendah dan menyediakan program insentif. Dengan begitu, mitra pengemudi tetap dapat merasakan manfaat ekonomi yang signifikan dari kemitraan mereka.
Kesimpulan
Kontroversi mengenai biaya aplikasi yang tinggi menjadi sorotan penting dalam ekosistem transportasi daring di Indonesia. Maxim, sebagai salah satu pemain di industri ini, telah menunjukkan komitmennya untuk mematuhi regulasi dan memberikan keuntungan yang maksimal bagi mitra pengemudi. Sementara itu, pemerintah diharapkan dapat segera menyelesaikan persoalan ini melalui langkah konkret, sehingga tercipta ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi semua pihak.