Kisah Ekstrem Penganut Freeganisme: Berburu Makanan Lezat di Tempat Sampah Supermarket!

Priscilla Austin

Freeganisme
https://awsimages.detik.net.id/customthumb/2013/09/04/297/makanandalam.jpg?w=600&q=90

beritahariini.news – Freeganisme adalah sebuah gerakan yang semakin menarik perhatian di seluruh dunia. Gaya hidup ini bertujuan untuk meminimalkan konsumsi barang baru dan memaksimalkan penggunaan barang yang dianggap sudah tidak layak oleh masyarakat umum, termasuk makanan dari tempat sampah supermarket. Kisah Maximus Thaler, seorang penganut freeganisme asal Sommerville, Massachusetts, Amerika Serikat, menjadi contoh nyata dari praktik ini.

Makanan Melimpah Tanpa Biaya

Maximus Thaler, seorang pria berusia 22 tahun, memiliki lemari dan kulkas yang selalu penuh dengan bahan makanan. Anehnya, ia mengklaim bahwa sejak beberapa tahun terakhir, ia tidak pernah lagi mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Sebagian besar bahan pangan yang dikonsumsinya diperoleh dari tempat sampah supermarket.

Thaler mengadopsi freeganisme sebagai jalan hidup untuk menolak budaya konsumerisme dan melawan pemborosan makanan. Ia kerap memungut buah-buahan, sayuran organik, susu, yogurt, hingga bunga yang masih segar namun dibuang oleh supermarket karena dianggap tidak lagi layak jual.

Kenapa Supermarket Membuang Makanan Layak?

Menurut Thaler, alasan utama banyak makanan dibuang oleh supermarket adalah ketidaksempurnaan fisik pada kemasan atau tanggal kedaluwarsa yang sudah dekat. Ia memberikan beberapa contoh:

  1. Kemasan Rusak
    Banyak makanan dibuang hanya karena kemasannya robek atau penyok, meskipun isinya masih layak konsumsi. Misalnya, satu kotak telur dibuang hanya karena satu butir di antaranya pecah, sementara telur lainnya masih utuh.
  2. Strategi Rak Penuh
    Supermarket sering membeli lebih banyak barang daripada yang bisa dijual untuk menjaga tampilan rak yang selalu penuh. Akibatnya, banyak produk berakhir di tempat sampah.
  3. Tanggal Kedaluwarsa yang Menyesatkan
    Thaler menegaskan bahwa tanggal kedaluwarsa pada makanan sering kali bersifat relatif dan tidak selalu menunjukkan bahwa makanan tersebut benar-benar tidak layak konsumsi.

Dari Sampah ke Hidangan Lezat

Barang-barang yang dikumpulkan Thaler dan teman-temannya melalui freeganisme disortir dengan hati-hati. Produk yang busuk atau tidak layak konsumsi dibuang, sementara yang masih bagus dicuci, diolah, dan dimasak menjadi hidangan lezat. Makanan ini tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga dibagikan kepada komunitas setempat.

“Di tempat sampah, Anda bisa menemukan apa saja yang biasa dipajang di rak supermarket, mulai dari sayuran segar hingga produk susu. Semua tersedia gratis,” ujar Thaler dalam sebuah wawancara.

Freeganisme di New York: Lebih dari Sekadar Gaya Hidup

Tidak hanya di Massachusetts, gerakan freeganisme juga berkembang pesat di kota besar seperti New York. Sebuah kelompok penganut freeganisme bahkan mengadakan “tur tempat sampah” untuk mengedukasi masyarakat tentang jumlah makanan yang terbuang sia-sia.

Janet Kalish, seorang aktivis freeganisme di New York, telah mempraktikkan gaya hidup ini selama lebih dari dua dekade. Ia mengungkapkan bahwa banyak peserta tur merasa terkejut melihat betapa banyak makanan layak konsumsi yang dibuang supermarket.

“Setelah tur, kami mengundang peserta untuk menikmati makanan yang kami selamatkan dari tempat sampah. Semua makanan ini masih sebagus ketika masih berada di rak supermarket,” tutur Kalish.

Meningkatkan Kesadaran akan Pemborosan

Gerakan freeganisme tidak hanya bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pemborosan makanan. Menurut laporan, sekitar 30% makanan di dunia berakhir di tempat sampah setiap tahunnya. Padahal, jumlah ini cukup untuk memberi makan jutaan orang yang kelaparan.

BACA JUGA : Rahasia Resep Puding Cokelat Lumer, Kudapan Istimewa untuk Malam Natal!

Thaler dan komunitas freeganisme percaya bahwa perubahan kecil dalam pola konsumsi dapat membawa dampak besar dalam mengurangi pemborosan. Salah satu saran Thaler adalah berbelanja langsung di pasar tradisional atau membeli dalam jumlah besar dari distributor lokal untuk mengurangi kemasan dan limbah makanan.

Menghadapi Stigma Sosial Freeganisme

Namun, menjalani gaya hidup freeganisme bukan tanpa tantangan. Banyak orang yang memandang aktivitas mengambil makanan dari tempat sampah sebagai sesuatu yang menjijikkan. Thaler dan para penganut freeganisme lainnya mencoba mematahkan stigma ini dengan menunjukkan bahwa makanan yang mereka konsumsi benar-benar aman setelah melalui proses pembersihan dan pengolahan.

Manfaat dan Keunikan Freeganisme

Selain membantu mengurangi limbah makanan, freeganisme juga memberikan manfaat lain, seperti:

  • Penghematan Biaya
    Dengan memanfaatkan barang yang dibuang, penganut freeganisme dapat menghemat pengeluaran secara signifikan.
  • Meningkatkan Kreativitas
    Proses memilah dan mengolah barang yang ditemukan menjadi sesuatu yang berguna melatih kreativitas.
  • Membangun Komunitas
    Aktivitas berburu dan berbagi hasil dari freeganisme mempererat hubungan antaranggota komunitas.

Kesimpulan

Freeganisme adalah sebuah gerakan yang mengajarkan pentingnya menghargai sumber daya yang ada dan melawan budaya konsumsi berlebihan. Meski sering kali dianggap ekstrem, gaya hidup ini membuka mata banyak orang terhadap realitas pemborosan makanan yang terjadi di masyarakat.

Dengan meningkatnya kesadaran tentang pentingnya pengelolaan limbah dan keberlanjutan, mungkin sudah saatnya kita mempelajari nilai-nilai yang diusung oleh gerakan freeganisme. Bukan untuk mengikuti sepenuhnya, tetapi untuk mengambil hikmah dari prinsip hidup yang lebih sederhana dan berkelanjutan.

Popular Post

NewsPolitik

Profil Ketua Komnas HAM Anis Hidayah: Aktivis Migran yang Kini Memimpin Lembaga Hak Asasi Tertinggi

beritahariini.news – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menetapkan susunan baru pimpinan dan subkomisi untuk periode 2022–2027. Keputusan ...

Viral

MUA Dea Lipa Akui Dirinya Pria Bernama Deni, Pihak Keluarga Sampaikan Permintaan Maaf

beritahariini.news – Polemik soal identitas asli MUA viral bernama Dea Lipa, atau yang dikenal publik sebagai Sister Hong Lombok, akhirnya ...

5 Fakta Kasus Bu Guru Salsa, Viral Gegara Ulah Pacar Online

Viral

5 Fakta Kasus Bu Guru Salsa, Viral Gegara Ulah Pacar Online

beritahariini.news – Kasus yang menimpa Salsa Anindya, guru honorer asal Jember, Jawa Timur, menjadi perbincangan publik setelah rekaman pribadinya tersebar ...

News

Heboh! Pondasi Tiang Listrik di Sambas Retak, Warga Temukan Isi Kelapa dan Serabut

beritahariini.news – Warga Desa Sarang Burung Usrat, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, digemparkan oleh temuan tak biasa pada pondasi ...

Gaya HidupLainnya

Cantiknya Olla Ramlan Saat Pamer Momen Liburan di Labuan Bajo

beritahariini.news – Artis dan presenter Olla Ramlan tengah menikmati momen liburan yang menenangkan di Labuan Bajo, salah satu destinasi wisata ...

Ekonomi

Proyek Batu Bara BUMN Dapat Pendanaan Rp 3,5 Triliun

beritahariini.news – PT Bukit Asam Tbk (PTBA), salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar milik negara yang tergabung dalam holding ...