Kenali Gejala Kusta Sejak Dini: Kunci Menuju Eliminasi Kusta 2030
beritahariini.news – Indonesia saat ini masih menjadi salah satu negara dengan beban kusta tertinggi di dunia. Berdasarkan data tahun 2023, tercatat sebanyak 12.798 kasus baru kusta di tanah air, menjadikan Indonesia menempati posisi ketiga secara global dalam hal jumlah penderita baru. Angka ini menjadi peringatan serius bahwa upaya eliminasi kusta masih membutuhkan perhatian dan kolaborasi luas dari semua pihak, termasuk masyarakat umum.
Padahal, kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan secara total jika dikenali lebih awal dan mendapatkan pengobatan yang tepat. Oleh karena itu, mengenali ciri-ciri kusta sedini mungkin merupakan langkah pertama yang sangat penting untuk mempercepat tujuan eliminasi kusta pada tahun 2030.
Kusta, atau yang dalam dunia medis dikenal sebagai Morbus Hansen, adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Kuman ini menyerang kulit, saraf tepi, serta jaringan tubuh lain seperti saluran pernapasan atas dan mata. Penyakit ini bukan penyakit kutukan, bukan keturunan, dan bukan pula aib—melainkan penyakit menular yang bisa disembuhkan dengan pengobatan medis yang telah terbukti efektivitasnya.
Also Read
Kusta sering kali sulit dikenali pada tahap awal karena gejalanya dapat menyerupai masalah kulit biasa. Namun, terdapat ciri-ciri khas yang bisa menjadi indikator kuat adanya infeksi Mycobacterium leprae. Gejala kusta terbagi menjadi dua kelompok besar: tanda pada kulit dan tanda pada sistem saraf tepi.
Bercak putih menyerupai panu yang tidak sembuh-sembuh meskipun telah diobati.
Kulit mati rasa, tidak berkeringat di area tertentu.
Rambut alis rontok, terutama pada bagian luar alis.
Penebalan pada kulit wajah dan cuping telinga.
Luka atau lepuhan yang tidak terasa sakit, terutama di telapak tangan atau kaki.
BACA JUGA : Waspada Bahaya Obat Pereda Nyeri Tanpa Resep: Ancaman Gagal Ginjal yang Mengintai
Nyeri di sepanjang jalur saraf tepi, misalnya di lengan atau tungkai.
Kesemutan, rasa seperti ditusuk-tusuk, atau rasa kebas di tangan dan kaki.
Kelemahan otot anggota gerak, termasuk otot kelopak mata.
Deformitas (perubahan bentuk tubuh) tanpa riwayat trauma atau kecelakaan.
Luka (ulkus) yang sulit sembuh, terutama di area kaki atau tangan.
Menurut Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, bercak putih yang tidak gatal dan tidak hilang setelah pengobatan harus dicurigai sebagai gejala awal kusta. “Kalau seperti panu tapi enggak sembuh-sembuh, putih, enggak gatal, langsung periksa ke puskesmas, langsung diobati,” ujar Budi saat melakukan kunjungan kerja di Sampang, Madura.
Berbeda dengan anggapan keliru yang berkembang di masyarakat, penularan kusta tidaklah mudah. Budi menegaskan bahwa kusta tidak secepat COVID-19 dalam menular. Penularannya membutuhkan kontak erat dan berulang dalam jangka waktu panjang, baik melalui droplet (percikan air liur saat berbicara, batuk, bersin) maupun melalui kontak langsung dengan kulit penderita.
Kusta juga tidak menular melalui berjabat tangan sesekali, berbagi makanan, atau kontak kasual lainnya. Oleh karena itu, penting untuk menghilangkan stigma terhadap orang dengan kusta (OdK) yang selama ini menjadi penghambat utama dalam penanganan penyakit ini.
Pengobatan kusta saat ini sudah sangat efektif dan tersedia gratis di fasilitas kesehatan pemerintah, termasuk puskesmas dan rumah sakit rujukan. Kementerian Kesehatan menggunakan pengobatan standar yang direkomendasikan oleh WHO, yaitu MDT (Multi Drug Therapy). Terapi ini terbagi menjadi dua jenis, berdasarkan jumlah kuman yang ditemukan:
Kategori ini ditujukan untuk pasien dengan jumlah basil sedikit.
Obat MDT PB terdiri dari:
Supervised Dose: Rifampisin dan Dapson (diminum di hadapan petugas medis).
Dosis Harian: Dapson (dikonsumsi di rumah selama 28 hari).
Durasi Pengobatan: 6 blister selama 6–9 bulan.
Kategori ini untuk pasien dengan jumlah basil banyak.
Obat MDT MB terdiri dari:
Supervised Dose: Rifampisin, Dapson, dan Clofazimin.
Dosis Harian: Dapson dan Clofazimin.
Durasi Pengobatan: 12 blister selama 12–18 bulan.
Pengobatan dibedakan pula berdasarkan usia pasien:
Blister Dewasa: untuk pasien usia di atas 15 tahun.
Blister Anak: untuk pasien usia 10–15 tahun.
Anak usia di bawah 10 tahun: dosis disesuaikan dengan berat badan.
Apabila pengobatan dimulai sebelum enam bulan sejak timbulnya gejala, maka risiko cacat bisa dicegah secara total. Namun, jika pengobatan terlambat, penyakit ini dapat menyebabkan kecacatan permanen, terutama pada mata, tangan, dan kaki.
BACA JUGA : Sembelit pada Anak: Memahami Penyebab dan Penanganan Komprehensif, Termasuk Faktor Psikologis
Salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian kusta di Indonesia bukan hanya deteksi dini atau pengobatan, tetapi stigma sosial yang masih melekat pada penyakit ini. Banyak penderita kusta merasa malu dan takut untuk berobat karena khawatir dikucilkan oleh lingkungan sosialnya.
Padahal, menurut Budi, penyakit ini bukan penyakit kutukan, bukan penyakit karena dosa, dan bukan pula penyakit menular yang harus ditakuti secara berlebihan. Ia menegaskan bahwa kusta adalah penyakit medis biasa yang membutuhkan deteksi dan penanganan cepat.
“Penyakit ini bisa disembuhkan. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memeriksakan diri dan kepedulian masyarakat sekitar,” ujar Budi melalui akun Instagram resminya.
Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi kusta pada tahun 2030 sebagai bagian dari komitmen global. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan kerja sama lintas sektor—mulai dari pemerintah, petugas medis, masyarakat sipil, hingga tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Strategi utama yang diambil meliputi:
Peningkatan deteksi dini melalui pemeriksaan kulit dan saraf secara rutin di puskesmas.
Edukasi masyarakat melalui kampanye kesehatan yang inklusif dan non-diskriminatif.
Pelatihan petugas kesehatan tentang penanganan kusta secara holistik.
Pemantauan ketat terhadap kepatuhan pengobatan MDT.
Pendampingan psikososial untuk pasien dan keluarga.
Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang bisa menyerang siapa saja, namun dapat dicegah dan disembuhkan sepenuhnya jika ditangani dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap individu untuk mengenali gejala-gejala awal kusta, tidak mengabaikan tanda-tanda pada kulit dan saraf, serta segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Melalui edukasi yang masif, dukungan medis yang memadai, dan penghapusan stigma sosial, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengeliminasi kusta pada tahun 2030. Langkah itu bukan hanya persoalan teknis kesehatan, tetapi juga refleksi dari keadilan sosial dan empati bersama.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…