beritahariini.news – Dunia militer kembali dikejutkan oleh langkah terbaru China dalam memperkuat kekuatan bawah lautnya. Negeri Tirai Bambu dilaporkan telah berhasil mengembangkan kapal selam super senyap generasi baru dengan teknologi peredaman suara canggih, yang diklaim mampu mengurangi kebisingan mesin hingga separuh dari pendahulunya. Langkah ini sontak memicu kekhawatiran global, terutama di kalangan pakar pertahanan Amerika Serikat, Jepang, dan Australia yang menilai bahwa inovasi tersebut dapat mengubah keseimbangan kekuatan bawah laut di kawasan Indo-Pasifik.
Lompatan Besar Teknologi Kapal Selam China
Menurut laporan eksklusif dari South China Morning Post (SCMP), tim ilmuwan dari Shanghai telah berhasil mengembangkan teknologi “vibration damping” atau sistem peredam getaran yang dapat menekan kebisingan mesin kapal selam hingga 50 persen. Penelitian dalam jurnal Noise and Vibration Control menandai kemajuan besar China dalam menciptakan armada kapal selam paling senyap di dunia.
Kapal selam yang disebut-sebut sebagai bagian dari kelas Yuan (Type 039C) ini menggunakan sistem Air Independent Propulsion (AIP) yang memungkinkan beroperasi di bawah permukaan laut lebih lama tanpa perlu muncul untuk menghirup udara. Teknologi ini memadukan mesin diesel-elektrik dengan sistem pembakaran tertutup, menghasilkan daya besar namun tanpa kebisingan signifikan.

Also Read
Para analis menilai, kapal selam jenis ini menjadi ancaman nyata bagi kekuatan maritim Amerika Serikat dan sekutunya. Dengan kemampuan menyelam lama dan sulit terdeteksi sonar, kapal selam China berpotensi menyusup diam-diam ke wilayah perairan strategis lawan.
Kebisingan Seperti “Bisikan di Laut Dalam”
Menurut National Security Journal, kapal selam Yuan-Class terbaru memiliki tingkat kebisingan sangat rendah, sebanding dengan bisikan manusia di air. Perbandingan ini menggambarkan betapa sulitnya mendeteksi pergerakan kapal selam tersebut bahkan oleh sistem sonar paling mutakhir milik Amerika Serikat.
Selain itu, desain badan kapal (hull) dan menara (sail) juga mengalami modifikasi besar. China memakai material komposit anti-pantul sonar dan lapisan penyerap suara untuk mengalihkan serta meredam sinyal sonar musuh secara efektif.
Beberapa sumber intelijen maritim bahkan mengklaim bahwa sistem propulsi kapal selam ini menggunakan baling-baling magnetik tanpa poros mekanik tradisional, sebuah teknologi eksperimental yang sebelumnya hanya dikembangkan oleh Amerika Serikat dan Rusia.
Baca Juga: KPU Terancam Sanksi Usai Terungkap Sewa Jet Pribadi
Ambisi Strategis: Dari Laut China Selatan ke Indo-Pasifik
Kehadiran kapal selam super senyap ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga strategi besar Beijing dalam memperluas pengaruhnya di laut. Dengan kemampuan menyusup tanpa terdeteksi, kapal selam tersebut dapat memperkuat posisi China di wilayah Laut China Selatan, Selat Taiwan, hingga jalur perairan strategis menuju Samudra Pasifik.
“China sedang membangun kemampuan untuk menghilangkan kejutan di laut,” ujar pakar keamanan regional, Collin Koh, dari S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura. “Artinya, mereka ingin memiliki kapal selam yang tidak hanya sulit dideteksi, tetapi juga mampu mendeteksi kapal musuh lebih cepat.”
Laporan Defense News menambahkan bahwa China kini juga tengah mengembangkan sistem pengawasan bawah laut raksasa bernama Transparent Ocean, yakni jaringan sensor bawah laut berbasis kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi pergerakan kapal selam asing secara real-time.
Reaksi Dunia Militer: “Ketenangan yang Menakutkan”
Amerika Serikat disebut menjadi pihak paling khawatir atas kemajuan ini. Sejumlah pejabat Pentagon memperingatkan bahwa kapal selam China kini berpotensi menyaingi kemampuan kapal selam kelas Virginia milik Angkatan Laut AS yang selama ini dikenal paling senyap di dunia.
“Masalahnya bukan hanya pada senjata atau daya tempur,” ujar seorang pejabat senior Angkatan Laut AS kepada Reuters. “Masalah sebenarnya adalah kita mungkin tidak tahu kapan mereka berada di dekat kita. Itulah ancaman paling serius.”
Australia dan Jepang pun bereaksi cepat. Canberra telah mengumumkan percepatan proyek kapal selam nuklir AUKUS yang dikembangkan bersama AS dan Inggris, sementara Tokyo memperkuat kemampuan anti-kapal selamnya (ASW) dengan penambahan pesawat patroli P-1 dan sistem sonar bawah laut di sekitar Kepulauan Nansei.
Menurut analis militer Jepang, setiap penurunan kebisingan sebesar 10 desibel saja bisa menggandakan kesulitan deteksi sonar. Dalam konteks ini, kapal selam China bisa beroperasi hampir “tak terlihat” dalam radius seribu kilometer.
Implikasi Bagi Indonesia dan Kawasan ASEAN
Bagi Indonesia, kemajuan ini perlu mendapat perhatian serius. Posisi strategis Indonesia yang berada di antara dua samudra dan berbatasan langsung dengan Laut China Selatan menjadikannya wilayah penting dalam pengawasan maritim regional.
Pakar militer maritim Kolonel (Purn) Dwi Santosa menilai Indonesia perlu meningkatkan kemampuan deteksi bawah laut guna menghadapi ancaman terbaru. Ia menegaskan pentingnya memperkuat jaringan sonar nasional di Natuna, Sulawesi Utara, dan Maluku untuk menghadapi aktivitas kapal selam asing
Selain faktor keamanan, keberadaan kapal selam super senyap China juga berpotensi menimbulkan ketegangan diplomatik. Negara-negara ASEAN yang bersengketa di Laut China Selatan berpotensi meningkatkan patroli militer, berisiko menimbulkan insiden serius di laut.
Baca Juga: 5 Fakta di Balik 97 WNI yang Kabur dari Jeratan Online Scam di Kamboja
Analisis: Pertarungan Sunyi di Laut Dalam
Kapal selam selalu menjadi senjata strategis dalam peperangan modern. Tidak seperti pesawat tempur atau kapal perang di permukaan, kapal selam beroperasi diam-diam, mengandalkan strategi senyap untuk menyerang musuh. Karena itu, kemajuan China dalam bidang ini dinilai sebagai ancaman sistemik terhadap dominasi maritim Amerika Serikat dan sekutunya.
Analis dari Eurasian Times bahkan menyebut bahwa kapal selam China kini dibekali torpedo dengan sistem penargetan berbasis AI (kecerdasan buatan), yang mampu menyesuaikan lintasan secara otomatis untuk menghindari jebakan sonar lawan. “Bayangkan kapal selam yang tidak bisa dideteksi dan senjata yang bisa berpikir sendiri,” tulis media tersebut. “Itulah ketakutan nyata yang kini menghantui dunia militer.”
Tantangan dan Misteri di Balik Kecanggihan
Namun, tidak semua pihak yakin dengan klaim spektakuler tersebut. Beberapa pengamat Barat menyebut bahwa China cenderung merahasiakan data teknis kapal selamnya, sehingga sulit diverifikasi secara independen. Selain itu, sejumlah analis menyebutkan bahwa meskipun kapal selam China semakin senyap, kemampuan kru dan sistem tempurnya masih belum sebanding dengan kapal selam AS atau Inggris yang memiliki pengalaman operasional puluhan tahun.
“Teknologi hanya satu sisi dari koin. Operasional dan kesiapan tempur tetap menjadi faktor penentu,” kata Lyle Goldstein, peneliti di Defense Priorities Institute, kepada BBC World Service.
Babak Baru Persaingan Bawah Laut
Kemunculan kapal selam super senyap buatan China menandai babak baru dalam perlombaan militer global. Dunia kini menyaksikan bagaimana kekuatan laut tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah kapal, tetapi oleh kemampuan untuk tidak terdengar.
Secara geopolitik, langkah ini menegaskan ambisi Beijing menantang dominasi militer AS di Indo-Pasifik melalui strategi pertempuran senyap di laut. Bagi Indonesia dan kawasan ASEAN, era baru persaingan bawah laut menegaskan pentingnya kesiapan pertahanan maritim sebagai prioritas utama nasional.
















