beritahariini.news — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan pada penutupan perdagangan akhir pekan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (22/7/2025), seiring sikap waspada pelaku pasar terhadap sejumlah agenda global yang berpotensi mempengaruhi arah pasar keuangan, khususnya pertemuan penting The Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
IHSG menguat sebesar 12,60 poin atau naik 0,17 persen ke level 7.543,50. Di sisi lain, indeks LQ45 yang mencerminkan pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar justru terkoreksi sebesar 5,29 poin atau turun 0,66 persen ke posisi 794,51. Perbedaan arah ini mencerminkan selektivitas investor dalam menyikapi dinamika pasar yang berkembang.
Dinamika Global Membayangi Pasar Saham
Penguatan IHSG terjadi dalam situasi global yang tengah diliputi ketidakpastian. Pelaku pasar secara umum mengambil sikap “wait and see” menjelang keputusan The Fed terkait kebijakan suku bunga pada pertemuan FOMC yang akan dilangsungkan pada 29–30 Juli 2025.

Also Read
Tim Riset Phintraco Sekuritas dalam kajian hariannya menyebutkan bahwa pasar turut mencermati kelanjutan negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang akan digelar di Stockholm, Swedia, pada 28–29 Juli 2025. Agenda tersebut diyakini menjadi salah satu indikator penting arah kebijakan perdagangan global, yang berpotensi mempengaruhi sentimen investasi di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Skotlandia pada 25–29 Juli 2025 juga menjadi perhatian pelaku pasar. Diharapkan kunjungan ini membuka ruang negosiasi lanjutan terkait tarif impor 25 persen atas produk baja dan aluminium dari Inggris yang sebelumnya telah menjadi isu sensitif dalam hubungan bilateral kedua negara.
Seperti diketahui, kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Inggris yang mulai berlaku per 30 Juni 2025 mencakup komitmen penghapusan tarif tersebut. Namun, dinamika geopolitik dan tekanan industri domestik di AS menjadikan kelanjutan implementasinya belum sepenuhnya pasti.
BACA JUGA : IHSG Diprediksi Tembus 7.600 pada Semester II-2025 Didukung Pelonggaran Moneter dan Kinerja Komoditas
IHSG Bertahan di Zona Hijau Sepanjang Hari
IHSG dibuka menguat sejak awal perdagangan dan mampu mempertahankan performanya hingga akhir sesi kedua. Stabilitas indeks ini mencerminkan kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional, meskipun dibayangi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global.
Kinerja indeks sektoral IDX-IC menunjukkan bahwa penguatan IHSG didorong oleh sektor keuangan yang mencatat kenaikan signifikan sebesar 1,68 persen. Disusul oleh sektor infrastruktur dan sektor barang baku, yang masing-masing tumbuh 0,99 persen dan 0,76 persen. Sektor-sektor ini diyakini mendapat angin segar dari prospek suku bunga yang stabil dan ekspektasi belanja infrastruktur pemerintah yang berkelanjutan.
Sebaliknya, empat sektor mengalami tekanan, yakni sektor barang konsumsi kesehatan yang memimpin penurunan sebesar 0,77 persen. Sektor transportasi dan logistik juga melemah 0,68 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen primer yang turun 0,19 persen. Koreksi ini dapat dihubungkan dengan kekhawatiran investor terhadap daya beli masyarakat dan tekanan biaya operasional di tengah fluktuasi harga energi.
Saham-Saham Penopang dan Penekan IHSG
Di antara saham-saham yang menguat signifikan, tercatat CLAY, FUJI, PGUN, BUVA, dan SMMA sebagai pemimpin kenaikan harian. Kinerja positif saham-saham ini diyakini ditopang oleh faktor fundamental dan sentimen spesifik emiten.
Sementara itu, saham-saham seperti FMII, FITT, PANR, RELI, dan VTNY menjadi penekan utama IHSG karena mengalami koreksi tajam. Koreksi pada saham-saham ini dipicu oleh kombinasi tekanan teknikal dan aksi ambil untung dari investor setelah reli sebelumnya.
Volume transaksi tercatat sangat aktif, dengan frekuensi perdagangan mencapai 1.433.111 kali. Total saham yang diperdagangkan mencapai 23,25 miliar lembar dengan nilai transaksi harian sebesar Rp12,21 triliun. Dari keseluruhan saham yang tercatat, sebanyak 246 saham mengalami kenaikan harga, 255 saham terkoreksi, dan 203 saham stagnan.
Bursa Asia Bervariasi, Ketegangan Regional Menjadi Sentimen Negatif
Sementara itu, bursa saham utama di kawasan Asia mencatat pergerakan yang beragam. Sentimen negatif muncul dari konflik politik yang kembali menghangat antara Thailand dan Kamboja. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi kedua negara yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.
Indeks Nikkei Jepang melemah 352,84 poin atau 0,84 persen ke posisi 41.473,00. Pelemahan ini didorong oleh aksi ambil untung investor setelah lonjakan tajam sebelumnya, serta kekhawatiran inflasi domestik yang masih tinggi.
Sementara itu, indeks Shanghai China justru menguat 12,07 poin atau 0,33 persen ke level 3.593,19 seiring data ekonomi dalam negeri yang menunjukkan perbaikan. Indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 278,27 poin atau turun 1,09 persen ke 25.388,31 karena tekanan sektor properti. Di sisi lain, indeks Straits Times Singapura mencatat kenaikan moderat sebesar 11,19 poin atau 0,28 persen ke posisi 4.261,09.
BACA JUGA : Indramayu Didorong Menjadi Sentra Pertanian Modern demi Pengentasan Kemiskinan
Menanti Kepastian dari FOMC dan Negosiasi Dagang Global
Pasar global kini menantikan dengan seksama hasil pertemuan FOMC yang akan memberikan sinyal arah kebijakan suku bunga AS ke depan. Jika The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya atau memberikan petunjuk mengenai potensi penurunan di masa mendatang, maka pasar modal negara berkembang seperti Indonesia akan menerima dampak positif berupa aliran dana asing masuk.
Namun, jika The Fed mengindikasikan sikap hawkish dan memperpanjang siklus suku bunga tinggi, maka pasar berpotensi mengalami tekanan baru, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter seperti properti, konsumsi, dan perbankan.
Negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok serta kelanjutan hubungan dagang antara AS dan Inggris juga berperan penting dalam menentukan arah pasar keuangan global dalam beberapa pekan ke depan. Pelaku pasar diharapkan tetap berhati-hati sambil mencermati perkembangan tersebut.
Prospek IHSG dalam Jangka Pendek
Dengan melihat performa IHSG hari ini, tampak bahwa kekuatan beli investor domestik masih cukup kuat untuk menjaga indeks tetap berada di zona hijau. Namun, keberlanjutan penguatan IHSG sangat bergantung pada hasil pertemuan FOMC serta dinamika eksternal lainnya.
Investor disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham, terutama yang memiliki fundamental kuat dan prospek kinerja jangka panjang yang solid. Sektor-sektor seperti keuangan, infrastruktur, dan energi terbarukan dipandang memiliki potensi positif di tengah ketidakpastian global saat ini.
Dengan mempertimbangkan kondisi domestik yang relatif stabil dan didukung oleh komitmen pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, pasar saham Indonesia diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan dalam jangka menengah.















