Ekonomi

Harga Beras di Cirebon Naik Bertahap: Stok Cukup, Produksi Turun, Petani Tertekan

beritahariini.news – Kenaikan harga beras kembali menjadi sorotan di Kota Cirebon. Fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh para pelaku usaha bahan pangan di pasar tradisional, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap pengusaha kuliner dan masyarakat luas. Meski stok beras dinyatakan cukup, harga komoditas pokok ini justru mengalami kenaikan secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir. Lalu, apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama fluktuasi harga beras di Cirebon?

Kenaikan Harga Beras Terjadi Bertahap meski Stok Aman

Pemilik kios beras di Pasar Pagi, Kota Cirebon, Mutiara, mengonfirmasi bahwa harga beras di lapaknya telah mengalami kenaikan sejak beberapa minggu terakhir. Walaupun pasokan masih lancar dan tidak mengalami kelangkaan, harga beras terus meningkat sedikit demi sedikit.

Harga beras termurah di kios milik Mutiara kini mencapai Rp13.500 per kilogram, naik dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp12.000 per kilogram. Beras jenis ini umumnya dibeli oleh pedagang makanan kaki lima seperti penjual serabi. Kualitasnya yang relatif rendah membuatnya kurang diminati oleh konsumen rumah tangga biasa.

Untuk beras kategori medium, saat ini dijual Rp15.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp14.000. Sedangkan jenis beras premium yang memiliki kualitas tinggi, kini dipatok Rp18.000 per kilogram dari sebelumnya Rp17.000.

“Stok sebetulnya aman, tapi harga tetap naik. Tidak langsung melonjak besar, tapi naiknya perlahan-lahan,” jelas Mutiara pada Selasa, 24 Juni 2025.

Dugaan Penyebab: Belum Masuk Masa Panen

Menurut dugaan Mutiara, kenaikan harga beras dipicu oleh belum tibanya masa panen di sejumlah wilayah pertanian sekitar Cirebon. Ia mencatat bahwa musim panen yang tertunda menyebabkan pasokan dari petani ke pasar terhambat, meskipun stok di gudang masih tersedia.

“Bukan karena tidak ada beras, tapi karena belum panen lagi. Jadi mungkin distribusi dari petani ke tengkulak dan pasar agak tersendat,” ungkapnya.

Walau harga naik, volume pembelian beras di kios Mutiara belum mengalami penurunan signifikan. Dalam kondisi normal, kiosnya mampu menjual hingga 1,5 ton beras per hari. Saat ini, jumlah penjualan memang sedikit turun, namun tidak drastis.

BACA JUGA : Harga Minyak Dunia Diramal Tembus US$110 Jika Iran Tutup Selat Hormuz

Warung Makan Juga Terimbas, tapi Harga Jual Makanan Belum Naik

Kenaikan harga beras juga dirasakan oleh pemilik warung makan seperti Surti, yang berjualan di kawasan Jalan Siliwangi, Kota Cirebon. Ia mengaku biasa membeli beras kualitas medium seharga Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram, namun kini harus membayar Rp15.000 per kilogram.

Meski demikian, Surti belum menaikkan harga menu makanannya. Strategi yang diambilnya adalah menyesuaikan porsi nasi. Jika pelanggan meminta tambahan porsi, Surti mengenakan biaya tambahan Rp1.000, dari harga awal Rp3.000 menjadi Rp4.000.

“Saya belum berani menaikkan harga makanan, takut pelanggan kabur. Tapi kalau minta nasi lebih, ya baru saya kenakan biaya tambahan sedikit,” ujarnya.

Harga Beras Nasional Mengalami Kenaikan Tipis

Tren kenaikan harga beras tidak hanya terjadi di Cirebon. Berdasarkan pemantauan Panel Harga Pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Selasa, pukul 06.30 WIB, harga beras medium di tingkat pedagang eceran secara nasional berada pada angka Rp14.500 per kilogram, naik tipis dari Rp14.085 per kilogram sehari sebelumnya.

Sementara itu, harga beras premium tercatat Rp15.767 per kilogram, turun sedikit dari harga sebelumnya Rp15.796 per kilogram. Fluktuasi harga ini mencerminkan ketidakstabilan pasokan dan distribusi beras di pasar dalam negeri.

Produksi Padi Menurun: Dampak dari Kondisi Luas Panen dan Cuaca

Menurut data dari Kerangka Sampel Area (KSA) April 2025, luas panen padi nasional hanya mencapai 1,65 juta hektare. Angka ini menurun sebesar 3,22 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada April 2024. Produksi gabah kering giling (GKG) juga mengalami penurunan dari 9,34 juta ton menjadi 9,09 juta ton, atau sekitar 2,68 persen.

Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi, maka penurunannya mencapai 140 ribu ton. Penurunan sebesar ini cukup signifikan dan memengaruhi ketersediaan pasokan di tengah tingginya permintaan pangan nasional.

Kondisi ini tentu menambah beban sektor pertanian nasional yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan. Penurunan hasil panen berpotensi menyebabkan lonjakan harga di pasaran, memperparah kondisi daya beli masyarakat, dan menciptakan ketidakpastian di kalangan pelaku usaha beras.

Ketimpangan Produksi Antarwilayah: Tantangan Pemerataan

Data juga menunjukkan adanya ketimpangan spasial dalam produksi padi nasional. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat tetap menjadi tiga provinsi dengan kontribusi produksi padi tertinggi. Sementara itu, wilayah Indonesia bagian timur masih mencatat volume produksi yang relatif rendah.

Ketimpangan produksi ini menunjukkan bahwa program pembangunan pertanian belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah secara merata. Ketergantungan pada sentra produksi tradisional di Pulau Jawa membuat pasokan nasional rentan terhadap gangguan cuaca, gagal panen, dan masalah distribusi.

Petani Kecil di Tengah Tekanan Biaya Produksi dan Harga Pasar

Di sisi lain, petani gurem sebagai pelaku utama di sektor hulu mengalami tekanan yang cukup berat. Penurunan hasil panen ditambah dengan biaya produksi yang terus meningkat, seperti pupuk, tenaga kerja, dan sewa lahan, mengikis keuntungan yang mereka peroleh.

Dalam kondisi ideal, kenaikan harga beras seharusnya meningkatkan pendapatan petani. Namun dalam kenyataannya, banyak petani tidak menikmati keuntungan tersebut karena mereka telah menjual gabah ke tengkulak jauh sebelum harga naik, atau karena biaya produksi melonjak.

Tanpa dukungan kebijakan subsidi dan jaminan harga yang menguntungkan, petani sulit bertahan dalam jangka panjang. Situasi ini mempertegas perlunya reformasi agraria dan sistem distribusi pertanian yang adil dan efisien.

BACA JUGA : Kepabeanan ASEAN Dorong Efisiensi Logistik Internasional Melalui Harmonisasi dan Digitalisasi Prosedur

Harapan dari Proyeksi Kumulatif: Potensi Peningkatan Produksi Juli 2025

Meski tantangan yang dihadapi cukup berat, data Badan Pusat Statistik (BPS) dan KSA memberikan sinyal positif. Secara kumulatif, produksi padi nasional dari Januari hingga Juli 2025 diperkirakan meningkat sebesar 14,92 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Peningkatan ini dipengaruhi oleh panen raya yang terjadi pada bulan Maret, di mana sebagian besar wilayah sentra produksi berhasil mengoptimalkan hasil tanamnya. Namun, peningkatan kuantitas tidak serta-merta menjamin perbaikan kesejahteraan petani maupun stabilitas harga.

Jika tidak dibarengi dengan kebijakan perlindungan harga gabah di tingkat petani dan efisiensi distribusi ke pasar, maka surplus produksi hanya akan memperkaya pelaku rantai pasok di tengah dan hilir, bukan petani di akar rumput.

Perlunya Intervensi Terstruktur demi Stabilisasi Harga

Kenaikan harga beras di Cirebon, yang terjadi secara bertahap meskipun stok dinyatakan cukup, memperlihatkan bahwa dinamika pasar beras sangat dipengaruhi oleh faktor musiman, distribusi, dan produksi. Ketidakhadiran panen di sejumlah wilayah menjadikan distribusi tidak lancar, meski secara nasional produksi secara kumulatif tetap menjanjikan.

Dibutuhkan intervensi konkret dari pemerintah, baik dalam bentuk regulasi harga, pengawasan distribusi, maupun subsidi langsung kepada petani. Selain itu, pembangunan infrastruktur pertanian dan pemerataan produksi di luar Pulau Jawa menjadi sangat penting untuk mengurangi ketimpangan dan meningkatkan ketahanan pangan jangka panjang.

Melalui langkah yang terkoordinasi, diharapkan harga beras dapat kembali stabil, daya beli masyarakat tetap terjaga, dan petani Indonesia memperoleh penghidupan yang lebih layak dan berkeadilan.

Priscilla Austin

Recent Posts

Pemerintah Pastikan BBM Tak Naik di Tengah Isu Kenaikan Harga

beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…

6 bulan ago

Kejari Karo Bongkar Pola Dugaan Korupsi Jasa Videografi, Amsal Sitepu Jadi Tersangka

beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…

6 bulan ago

Gol yang Lama Dinanti Paul Pogba Akhiri Puasa Empat Tahun

beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…

6 bulan ago

Pejabat Tertinggi Garda Revolusi Iran Gugur dalam Serangan Israel di Bandar Abbas

beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…

6 bulan ago

Trump Manuver Diplomatik Lewat Pakistan, Dorong Gencatan Senjata dengan Iran

beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…

6 bulan ago

Sejarah Baru Moto3 Honda Team Asia Soroti Debut Fantastis Veda Ega Pratama

beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…

6 bulan ago