beritahariini.news – Raksasa teknologi asal Tiongkok, ByteDance, yang dikenal sebagai induk perusahaan dari aplikasi populer TikTok, mengguncang jagat berita setelah mengajukan tuntutan hukum kepada salah satu anak magang nya, Tian Keyu. Tuntutan ini menuduh Tian melakukan sabotase terhadap model bahasa besar (LLM) pada sistem kecerdasan buatan (AI) milik ByteDance, yang menyebabkan perusahaan mengalami kerugian signifikan.
Kasus ini menjadi perbincangan hangat di Tiongkok, terutama karena tuntutan yang diajukan mencapai nilai fantastis, yaitu US$ 1,1 juta atau setara Rp 17,4 miliar. Insiden ini terjadi di tengah upaya besar-besaran Tiongkok untuk mendorong kemajuan teknologi AI domestiknya guna mengurangi ketergantungan pada teknologi dari Amerika Serikat.
Kronologi Kasus Sabotase Anak Magang
Menurut laporan dari Legal Weekly, media yang didukung oleh pemerintah, ByteDance menggugat Tian Keyu atas tindakan yang disebut sebagai sabotase sistem. Tian, yang diketahui merupakan mahasiswa pascasarjana di Peking University, diduga melakukan manipulasi kode tanpa izin terhadap LLM milik ByteDance. Model bahasa besar ini adalah teknologi AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, dan konten lain berdasarkan kumpulan data besar.

Also Read
Kasus ini pertama kali terungkap ketika ByteDance mengumumkan bahwa Tian telah dikeluarkan dari program magang pada Agustus 2024. Namun, laporan mengenai sabotase dan tuntutan hukum baru muncul ke publik setelah dokumen pengadilan di Pengadilan Distrik Haidian, Beijing dipublikasikan.
“Gugatan ini terkait dengan sabotase yang dilakukan Tian, yang mengakibatkan kerugian besar pada teknologi AI ByteDance,” tulis laporan Legal Weekly.
Dampak yang Diklaim oleh Anak Magang ByteDance
ByteDance mengklaim bahwa sabotase ini menyebabkan kerugian besar pada pengembangan teknologi mereka. Teknologi LLM yang disabotase dikatakan menjadi salah satu aset utama ByteDance dalam persaingan industri AI.
Beberapa dampak yang disebutkan dalam gugatan meliputi:
- Kerugian Finansial: ByteDance menuntut ganti rugi sebesar US$ 1,1 juta yang diklaim sebagai kompensasi atas kerugian yang mereka derita.
- Gangguan Operasional: Rumor sempat beredar bahwa sabotase tersebut memengaruhi lebih dari 8.000 unit GPU (Graphics Processing Units) yang digunakan dalam pelatihan AI.
- Citra Perusahaan: Insiden ini memicu pertanyaan tentang manajemen keamanan internal ByteDance, terutama dalam menangani aset teknologi sensitif.
Namun, ByteDance membantah beberapa rumor yang berkembang, termasuk laporan bahwa insiden ini menyebabkan perusahaan kehilangan jutaan dolar lebih dari klaim resmi.
Reaksi dari Anak Magang Tian Keyu dan Publik
Hingga kini, Tian Keyu belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut. Sebagai mahasiswa pascasarjana di salah satu universitas ternama di Tiongkok, Peking University, tindakan yang dituduhkan padanya mengejutkan banyak pihak.
BERITA LAINNYA : Heboh! Mahasiswa Gowes 50 KM Hanya untuk Nikmati Semangkuk Sup Dumpling
Sementara itu, kasus ini memicu perhatian publik karena melibatkan jumlah tuntutan yang sangat besar dan fakta bahwa pihak yang digugat adalah seorang anak magang. Dalam dunia kerja Tiongkok, gugatan hukum antara perusahaan dan pekerja memang bukan hal baru. Namun, kasus yang melibatkan anak magang dengan tuntutan nilai sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya.
ByteDance dan Pentingnya Teknologi AI
Sebagai salah satu raksasa teknologi di Tiongkok, ByteDance telah berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Teknologi LLM yang menjadi pusat kasus ini adalah salah satu upaya ByteDance untuk bersaing di pasar global melawan pemain besar lainnya seperti OpenAI dan Google.
Apa itu LLM (Model Bahasa Besar)?
LLM adalah sistem AI yang dirancang untuk memproses dan menghasilkan teks atau konten lainnya berdasarkan data besar. Teknologi ini memiliki kemampuan untuk:
- Menghasilkan teks atau dokumen yang kompleks.
- Memproses data gambar dan suara untuk menghasilkan keluaran yang relevan.
- Mengotomatisasi berbagai tugas berbasis data, termasuk analisis konten.
Teknologi ini menjadi sangat penting bagi perusahaan seperti ByteDance untuk mengembangkan fitur inovatif di aplikasi mereka, termasuk TikTok, yang menggunakan AI untuk merekomendasikan konten kepada pengguna.
Tiongkok dan Ambisi dalam Teknologi AI
Insiden ini terjadi di tengah upaya pemerintah Tiongkok untuk memperkuat kemampuan domestiknya dalam teknologi AI. Dengan adanya perang dagang dan sanksi teknologi dari Amerika Serikat, Tiongkok semakin mendorong perusahaan seperti ByteDance, Tencent, dan Huawei untuk menjadi mandiri dalam teknologi.
Kasus ini, meskipun negatif, menunjukkan pentingnya pelatihan LLM AI bagi Tiongkok














