Dokter Anak Tegas Menolak Anjuran Minum Susu 2 Liter per Hari

Priscilla Austin

Dokter Anak Tegas Menolak Anjuran Minum Susu 2 Liter per Hari

beritahariini.news – Publik Indonesia dihebohkan oleh pernyataan dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Anjuran Minum Susu hingga 2 liter per hari untuk anak-anak. Klaim tersebut menjadi viral dan menimbulkan perdebatan luas di kalangan medis. Salah satu tanggapan tegas datang dari dr. Ian Suryadi Setja, Sp.A, dokter spesialis anak yang dikenal vokal dalam edukasi nutrisi anak.

Dalam wawancara yang dilakukan pada Senin, 2 Juni 2025, dr. Ian menyampaikan keberatannya terhadap klaim tersebut. Ia menyebut bahwa anjuran minum susu sebanyak dua liter setiap hari tidak memiliki dasar ilmiah dan tidak sesuai dengan kebutuhan fisiologis anak berdasarkan kaidah medis yang berlaku.

Kebutuhan Susu Anak Berdasarkan Usia dan Berat Badan

dr. Ian menjelaskan bahwa kebutuhan susu pada anak sangat tergantung pada usia dan berat badan. Jumlah konsumsi yang direkomendasikan oleh tenaga medis tidak pernah mendekati angka dua liter, bahkan untuk bayi sekalipun.

Ia mencontohkan seorang bayi berusia lima bulan dengan berat badan 7 kilogram, hanya membutuhkan sekitar 1.050 mL susu per hari, dengan menggunakan rumus kebutuhan 140–160 mL per kilogram berat badan. Jumlah ini pun berlaku untuk bayi yang masih 100% bergantung pada asupan susu sebagai satu-satunya sumber nutrisi.

“Bayi lima bulan saja hanya butuh sekitar 1.050 mL. Itu pun dia belum makan makanan padat. Lalu bagaimana bisa anak usia lebih besar disarankan minum dua liter?” ujar dr. Ian dengan nada mempertanyakan logika medis di balik anjuran BGN tersebut.

BACA JUGA : Kemenkes Imbau Penggunaan Masker Saat Sakit untuk Cegah Penularan COVID-19

Konsumsi Susu Menurun Seiring Bertambahnya Usia Anak

Menurut penuturan dr. Ian, semakin bertambah usia anak, kebutuhan susu justru menurun, seiring meningkatnya asupan makanan padat yang menjadi sumber utama nutrisi. Ia merinci tahapan kebutuhan susu anak sesuai kelompok usia sebagai berikut:

  • Usia 6–9 bulan: sekitar 800 mL per hari

  • Usia 9–12 bulan: sekitar 600 mL per hari

  • Usia di atas 12 bulan: cukup 300–450 mL per hari

Data tersebut menunjukkan bahwa tidak ada fase pertumbuhan anak yang membutuhkan asupan susu hingga dua liter per hari, sebagaimana disampaikan oleh Kepala BGN.

Risiko Konsumsi Susu Berlebih: Obesitas dan Kelebihan Energi

dr. Ian menyoroti bahaya dari konsumsi susu berlebihan pada anak. Menurutnya, anak usia di atas 12 bulan yang mengonsumsi lebih dari 480 mL susu per hari berisiko mengalami kelebihan energi yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Kondisi ini dapat memicu peningkatan berat badan secara tidak sehat, dan menjadi pintu masuk menuju obesitas anak.

“Kalau anak terus-terusan diberi susu dalam jumlah berlebihan, maka yang masuk ke tubuh bukan nutrisi, tapi energi kosong. Ini memperbesar kemungkinan terjadinya obesitas,” ungkap dr. Ian.

Ia juga menegaskan bahwa sejak tahun 2014, komunitas medis telah memiliki pedoman resmi pencegahan obesitas anak. Dalam panduan tersebut disebutkan secara jelas bahwa konsumsi susu yang berlebihan harus dihindari dan dibatasi sesuai kebutuhan.

Maksimal 450 mL Susu per Hari untuk Anak di Atas Satu Tahun

Dalam praktik klinis, dr. Ian secara konsisten memberikan edukasi kepada para orang tua bahwa anak yang berusia di atas satu tahun cukup mendapatkan maksimal 450 mL susu per hari. Ia menekankan bahwa susu bukanlah satu-satunya sumber nutrisi anak, dan bahwa keberagaman makanan padat jauh lebih penting dalam memenuhi kebutuhan gizi.

“Orang tua harus paham bahwa makanan padatlah yang seharusnya menjadi prioritas, bukan menjejalkan susu hingga dua liter setiap hari,” tuturnya.

Kritik Terhadap Pernyataan BGN: Tidak Berdasarkan Bukti Ilmiah

dr. Ian menyampaikan keheranannya atas pernyataan resmi dari institusi negara seperti Badan Gizi Nasional. Ia menilai bahwa tidak ada referensi ilmiah yang mendasari klaim tentang konsumsi susu dua liter per hari.

“Dari mana angka itu diambil? Dalam seluruh referensi medis yang saya pelajari, tak pernah ada anjuran yang mendekati 2 liter susu untuk anak, bahkan jika anak itu sehat sekalipun,” tegasnya.

Ia juga menyayangkan bila pernyataan tersebut terus disebarluaskan tanpa klarifikasi karena berpotensi menyesatkan masyarakat. Menurutnya, setiap kebijakan publik, apalagi di bidang gizi dan kesehatan anak, harus berbasis pada evidence-based practice.

BACA JUGA : BPOM Ungkap Daftar 15 Obat Bahan Alam Mengandung Bahan Kimia Obat Berbahaya

Susu Penting, Tapi Bukan Sumber Nutrisi Utama Setelah Usia Satu Tahun

dr. Ian mengakui bahwa susu tetap memiliki peran penting dalam masa pertumbuhan anak, terutama sebagai sumber kalsium dan vitamin D. Namun ia menegaskan bahwa susu bukanlah sumber utama nutrisi bagi anak usia satu tahun ke atas.

Dalam konteks pertumbuhan optimal, anak-anak membutuhkan asupan dari berbagai sumber makanan, seperti karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, buah, sayuran, dan lemak sehat. Ketergantungan Anjuran Minum Susu justru dapat menurunkan nafsu makan anak terhadap makanan padat, yang berujung pada ketidakseimbangan gizi.

Orang Tua Perlu Meningkatkan Literasi Gizi

Kasus viral ini menjadi pengingat bahwa literasi gizi masyarakat perlu ditingkatkan secara menyeluruh. Banyak orang tua masih menganggap susu sebagai simbol pertumbuhan, padahal konsumsi susu secara berlebihan bisa menimbulkan efek sebaliknya.

dr. Ian mendorong masyarakat agar selalu merujuk pada pedoman medis resmi dan berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi sebelum menentukan pola makan anak. Ia juga menyarankan pemerintah untuk memperkuat komunikasi publik berbasis data dan bukti ilmiah.

“Jangan sampai kebijakan gizi berbasis opini pribadi. Ini soal masa depan anak bangsa,” ujarnya menutup pernyataan.

Bijak dalam Memberikan Susu untuk Tumbuh Kembang Anak

Isu konsumsi susu dua liter per hari membuka diskusi publik yang sangat relevan. Melalui pendapat para pakar seperti dr. Ian Suryadi Setja, publik mendapat penjelasan bahwa setiap asupan pada anak harus disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis, usia, dan pola makan secara keseluruhan.

Konsumsi susu tidak boleh dijadikan indikator tunggal dalam proses pertumbuhan. Sebaliknya, pendekatan holistik dan berbasis bukti harus menjadi fondasi dalam mengasuh dan membesarkan anak yang sehat, kuat, dan cerdas.

Popular Post

NewsPolitik

Profil Ketua Komnas HAM Anis Hidayah: Aktivis Migran yang Kini Memimpin Lembaga Hak Asasi Tertinggi

beritahariini.news – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menetapkan susunan baru pimpinan dan subkomisi untuk periode 2022–2027. Keputusan ...

Viral

MUA Dea Lipa Akui Dirinya Pria Bernama Deni, Pihak Keluarga Sampaikan Permintaan Maaf

beritahariini.news – Polemik soal identitas asli MUA viral bernama Dea Lipa, atau yang dikenal publik sebagai Sister Hong Lombok, akhirnya ...

5 Fakta Kasus Bu Guru Salsa, Viral Gegara Ulah Pacar Online

Viral

5 Fakta Kasus Bu Guru Salsa, Viral Gegara Ulah Pacar Online

beritahariini.news – Kasus yang menimpa Salsa Anindya, guru honorer asal Jember, Jawa Timur, menjadi perbincangan publik setelah rekaman pribadinya tersebar ...

News

Heboh! Pondasi Tiang Listrik di Sambas Retak, Warga Temukan Isi Kelapa dan Serabut

beritahariini.news – Warga Desa Sarang Burung Usrat, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, digemparkan oleh temuan tak biasa pada pondasi ...

Ekonomi

Proyek Batu Bara BUMN Dapat Pendanaan Rp 3,5 Triliun

beritahariini.news – PT Bukit Asam Tbk (PTBA), salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar milik negara yang tergabung dalam holding ...

Gaya HidupLainnya

Cantiknya Olla Ramlan Saat Pamer Momen Liburan di Labuan Bajo

beritahariini.news – Artis dan presenter Olla Ramlan tengah menikmati momen liburan yang menenangkan di Labuan Bajo, salah satu destinasi wisata ...