Foto: Marek Audy via Vice
beritahariini.news – Tim ilmuwan Eropa baru-baru ini mengumumkan penemuan menakjubkan di dunia biologi bawah tanah. Mereka berhasil menemukan jaring laba-laba terbesar di dunia di sebuah gua terpencil di perbatasan Yunani dan Albania, dengan luas mencapai lebih dari 100 meter persegi dan dihuni oleh lebih dari 100 ribu laba-laba hidup. Temuan ini langsung menarik perhatian para ahli biologi, karena skala dan perilaku sosial yang ditunjukkan koloni tersebut belum pernah terjadi sebelumnya di dunia araknologi (ilmu tentang laba-laba).
Penemuan ini diumumkan secara resmi oleh tim peneliti dari Sapientia Hungarian University of Transylvania, yang bekerja sama dengan ilmuwan dari Universitas Ioannina (Yunani) dan Akademi Sains Albania. Mereka menyebut fenomena tersebut sebagai “koloni laba-laba super” atau giant subterranean spider colony, istilah baru dalam penelitian biologi bawah tanah.
Penemuan jaring laba-laba terbesar terjadi di Sulfur Cave, gua alami dalam sistem karst aktif kawasan Vromoner Canyon, barat laut Yunani. Gua ini dikenal ekstrem, dengan suhu konstan 18 derajat Celsius dan kadar gas hidrogen sulfida (H₂S) yang tinggi, yang biasanya membuat gua beraroma belerang pekat.
Also Read
Awalnya, para peneliti tidak sedang mencari laba-laba, melainkan mikroba ekstremofil organisme yang dapat bertahan hidup di lingkungan beracun. Namun, saat menyusuri sekitar 200 meter ke dalam gua, mereka terkejut melihat dinding gua seolah diselimuti kain putih berkilauan.
“Kami pikir itu lapisan mineral atau jamur. Tapi setelah lampu kami menyorot lebih dekat, kami sadar bahwa itu adalah jaring laba-laba dan di baliknya, ribuan laba-laba bergerak serempak,” kata Dr. István Urák, pemimpin ekspedisi dari Universitas Sapientia, seperti dikutip Science Alert.
Melalui pengamatan lapangan dan drone mini, peneliti memperkirakan jaring laba-laba menutupi lebih dari 106 meter persegi di dalam gua. Jaring ini tidak seperti jaring tunggal laba-laba biasa, melainkan gabungan dari ribuan jaring kecil yang saling terhubung membentuk satu struktur besar dan kuat mirip seperti kota bawah tanah yang tersusun dari benang sutra alami.
Baca Juga: Tren Baru di Bandung: Gowes Santai dengan Suasana Korea Bikin Netizen Penasaran
Setelah dilakukan analisis laboratorium, tim menemukan bahwa koloni ini dihuni oleh dua spesies laba-laba yang biasanya hidup secara soliter di permukaan tanah, yaitu:
Tegenaria domestica (laba-laba rumah corong)
Prinerigone vagans (laba-laba kecil pembuat jaring lembaran)
Kedua spesies ini biasanya tidak hidup berkoloni dan cenderung saling menyerang jika bertemu. Namun di dalam gua sulfur tersebut, mereka justru hidup berdampingan tanpa konflik, saling berbagi ruang, bahkan terlihat berburu mangsa di area yang sama.
“Ini adalah pertama kalinya kami menemukan dua spesies laba-laba non-sosial hidup dalam satu koloni besar dengan perilaku harmonis,” jelas Dr. Urák.
Menggunakan metode perhitungan area jaring dan pengambilan sampel, para peneliti memperkirakan populasi koloni tersebut mencapai lebih dari 111.000 laba-laba yang terdiri dari individu dewasa dan anakan. Laba-laba tersebut berukuran kecil rata-rata tubuhnya hanya 5 hingga 8 milimeter namun jumlah mereka yang masif menjadikan koloni ini sebagai yang terbesar yang pernah ditemukan di dunia.
Setiap bagian jaring laba-laba memiliki fungsi berbeda, area luar untuk menangkap mangsa, sedangkan bagian dalam untuk tempat tinggal dan bertelur. Menariknya, jaring tersebut memiliki pola yang kompleks dan simetris, dengan kekuatan tarik luar biasa meski berada di lingkungan lembab dan mengandung gas korosif.
“Benang sutra mereka lebih tebal dan lebih tahan asam dibandingkan laba-laba biasa. Ini menunjukkan adanya adaptasi evolusioner,” kata Dr. Sofia Makridis, ahli biologi dari Universitas Ioannina.
Pertanyaan besar muncul: bagaimana koloni sebesar ini bisa bertahan hidup di tempat tanpa cahaya matahari dan oksigen minim? Penelitian awal menemukan ekosistem gua ini bergantung pada mikroba sulfur sebagai sumber energi utama, bukan dari tumbuhan seperti umumnya.
Mikroba tersebut memakan senyawa kimia seperti hidrogen sulfida, lalu menjadi makanan bagi serangga kecil seperti larva lalat. Serangga inilah yang menjadi santapan utama laba-laba di dalam gua. Dengan demikian, koloni tersebut mampu membentuk ekosistem mandiri yang tidak bergantung pada energi matahari sama sekali.
“Ini seperti menemukan dunia lain di bawah permukaan bumi. Semua kehidupan di sana bergantung pada kimia, bukan fotosintesis,” ujar Makridis.
Analisis genetik terhadap beberapa sampel menunjukkan bahwa laba-laba di gua sulfur ini telah mengalami perubahan fisiologis signifikan. Warna tubuh mereka lebih pucat, mata lebih kecil, dan sistem pernapasan lebih efisien untuk lingkungan rendah oksigen. Adaptasi ini serupa dengan hewan gua lainnya seperti ikan buta atau udang tanpa pigmen.
Selain itu, perilaku sosial mereka yang muncul spontan dianggap sebagai respons terhadap tekanan lingkungan ekstrem. Dengan bekerja sama dan berbagi jaring, laba-laba dapat menghemat energi, memperluas area berburu, dan melindungi telur dari predator atau jamur.
“Perilaku sosial ini bisa menjadi bentuk awal dari evolusi menuju koloni permanen,” kata Urák.
Baca Juga: Xiaomi Rilis Redmi Pad 2 Pro di Indonesia 7 November, Intip Spesifikasinya
Mengingat kondisi yang sangat rapuh, tim peneliti memutuskan untuk merahasiakan lokasi pasti penemuan tersebut demi mencegah kerusakan akibat kunjungan manusia. Mereka juga bekerja sama dengan pemerintah Yunani untuk menetapkan gua tersebut sebagai kawasan konservasi tertutup.
Saat ini, hasil penelitian tengah disiapkan untuk diterbitkan di jurnal ilmiah Subterranean Biology, dengan rencana ekspedisi lanjutan pada awal 2026. Penelitian berikutnya akan meneliti komposisi kimia jaring sutra, interaksi antarspesies, serta kemungkinan munculnya spesies baru di dalam koloni tersebut.
“Setiap kali kita pikir sudah memahami alam, ia memberi kejutan baru. Penemuan ini menunjukkan bahwa kehidupan mampu beradaptasi bahkan di tempat yang paling tidak bersahabat,” tutup Urák.
Lokasi: Gua Sulfur, perbatasan Yunani – Albania
Ukuran jaring: ±106 meter persegi
Populasi laba-laba: lebih dari 111.000 individu
Spesies: Tegenaria domestica dan Prinerigone vagans
Kondisi gua: tanpa cahaya, gas belerang tinggi, suhu stabil 18°C
Tim peneliti: gabungan Eropa, dipimpin oleh Dr. István Urák
Publikasi: Subterranean Biology Journal (akan terbit 2026)
Penemuan jaring laba-laba terbesar di dunia ini tidak hanya menambah daftar rekor alam, tetapi juga mengubah pemahaman manusia tentang evolusi perilaku sosial pada hewan soliter. Lebih dari itu, temuan ini menjadi bukti bahwa kehidupan mampu bertahan dan berkembang dalam kondisi ekstrem, sekaligus menjadi peringatan bahwa ekosistem tersembunyi seperti ini sangat rentan dan harus dilindungi dari aktivitas manusia.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…