https://asset.kompas.com/crops/gInmQjFaP9fFkGf6UxGGZf-MY3w=/0x32:700x382/1200x800/data/photo/2020/01/09/5e16811892fc7.jpg
beritahariini.news – Restoran mahal seringkali menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda dibandingkan dengan makanan di warung atau tempat makan biasa. Salah satu perbedaan mencolok adalah soal penggunaan micin atau monosodium glutamat (MSG). Banyak restoran kelas atas menghindari penggunaan micin dalam masakan mereka. Chef Renatta Moeloek, seorang koki profesional ternama di Indonesia, mengungkap alasan di balik keputusan ini.
Menurut Chef Renatta, restoran mahal memiliki standar tinggi dalam menyajikan makanan kepada pelanggan. Setiap hidangan yang disajikan harus menonjolkan cita rasa asli dari bahan-bahan berkualitas yang digunakan. Penggunaan micin dianggap bisa mengurangi esensi alami dari bahan-bahan tersebut.
“Itu harga diri buat gue,” ungkap Chef Renatta dalam sebuah wawancara yang dikutip dari YouTube Kemal Palevi, Jumat (28/2/2025).
Also Read
Renatta menjelaskan bahwa pelanggan yang datang ke restoran mewah membayar tidak hanya untuk makanan, tetapi juga untuk pengalaman menyantap hidangan dengan cita rasa terbaik tanpa tambahan penyedap instan.
“Bukan soal gengsi, tapi karena ketika lo datang ke restoran mahal, lo membayar untuk kualitas yang berbeda,” tambahnya.
Secara pribadi, Chef Renatta tidak menentang penggunaan micin. Bahkan, ia mengakui bahwa ia juga menggunakannya untuk kebutuhan pribadi saat memasak di rumah.
“Kalau masak untuk hidup sehari-hari atau karena malas ribet, gue enggak masalah pakai micin. Tapi beda cerita kalau lo bekerja secara profesional,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa sebagai seorang profesional, penggunaan micin dalam masakan bisa dianggap sebagai jalan pintas yang mengurangi tantangan dalam menciptakan rasa.
“Kalau lo langsung tambahin micin, rasa gurih langsung muncul. Terus, di mana letak kerja keras lo sebagai koki?” ungkapnya.
Dalam dunia kuliner, rasa umami atau gurih bisa didapatkan secara alami tanpa perlu menambahkan micin. Chef Renatta menyebut bahwa bahan-bahan tertentu sudah mengandung glutamat alami, yang bisa memberikan cita rasa gurih pada makanan.
BACA JUGA : Hindari Makanan Berbuka Puasa Ini Saat untuk Kesehatan yang Lebih Baik
“Misalnya ikan asin, itu sudah gurih secara alami. Enggak perlu pakai micin lagi karena di dalamnya sudah ada glutamat alami,” jelasnya.
Selain ikan asin, tauco juga menjadi contoh bumbu dapur yang sudah memiliki rasa gurih yang kuat. Ini menjadi salah satu alasan mengapa restoran kelas atas memilih untuk mengolah makanan dengan bahan-bahan alami daripada menambahkan penyedap instan.
Salah satu cara restoran mahal menciptakan rasa umami tanpa micin adalah melalui pembuatan kaldu alami. Proses ini memerlukan waktu dan teknik yang baik agar hasilnya maksimal.
“Kalau lo beli sop di restoran mahal, kaldunya bukan pakai penyedap instan. Ada proses panjang di baliknya,” ujar Chef Renatta.
Ia menjelaskan bahwa dalam pembuatan kaldu yang kaya rasa, bagian tulang ayam seperti sayap dan kaki digunakan dan direbus dalam waktu lama agar sarinya keluar dengan sempurna.
“Lo harus pakai tulang ayam yang benar, lo infus ke dalam air dengan baik, tambahin bawang dan aromatik lainnya. Itu yang bikin kaldu punya rasa gurih alami. Bukan gurih instan,” tambahnya.
Restoran mahal mengedepankan kualitas dan pengalaman kuliner yang premium. Oleh karena itu, setiap bahan makanan dipilih dengan cermat, diolah dengan teknik yang baik, dan tidak mengandalkan bumbu instan untuk menonjolkan rasa.
“Masak di restoran mahal itu butuh waktu dan teknik. Kalau sekadar menambahkan micin untuk menciptakan rasa, lantas apa gunanya koki profesional?” kata Chef Renatta.
Meskipun penggunaan micin bukan sesuatu yang dilarang, restoran kelas atas lebih memilih menggunakan bahan-bahan alami agar cita rasa makanan lebih otentik dan menggugah selera.
Restoran mahal memiliki filosofi berbeda dalam penyajian makanan dibandingkan dengan tempat makan biasa. Mereka menghindari penggunaan micin untuk menjaga keaslian rasa bahan-bahan yang digunakan. Dengan mengandalkan teknik memasak yang lebih kompleks dan bahan-bahan berkualitas tinggi, restoran mewah mampu menciptakan hidangan dengan rasa yang lebih alami dan mendalam.
Sebagai pelanggan, memahami proses di balik makanan yang kita santap bisa memberikan apresiasi lebih terhadap kerja keras koki dalam menyajikan hidangan berkualitas tinggi. Jadi, ketika mengunjungi restoran mahal, kita tidak hanya membayar untuk makanannya, tetapi juga untuk pengalaman dan kualitas yang mereka tawarkan.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…