beritahariini.news — Suasana kawasan pemukiman warga di Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mendadak heboh setelah seekor babi hutan terlihat berkeliaran bebas di area tersebut. Peristiwa tidak biasa ini terekam kamera warga dan tersebar luas di media sosial, memicu perhatian publik karena sangat jarang ditemukan satwa liar seperti babi hutan berada di kawasan padat penduduk ibu kota.
Rekaman video yang diunggah ulang oleh akun Instagram @jabodetabek24info menunjukkan bagaimana seekor babi hutan berlari-lari di area parkir perumahan sambil dikejar sejumlah warga dan seorang pengemudi ojek online (ojol). Tindakan pengejaran itu dilakukan spontan oleh warga yang ingin memastikan satwa tersebut tidak membahayakan lingkungan sekitar.
“Baru pertama kali dalam hidup melihat babi hutan berkeliaran di Jakarta, padahal sudah puluhan tahun tinggal di sini,” tulis salah satu keterangan unggahan yang memperlihatkan suasana mencekam namun juga mengundang rasa penasaran warga.

Also Read
Klarifikasi dari Pemprov DKI: Babi Hutan Milik Pejaten Shelter
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, memberikan penjelasan resmi terkait asal usul hewan liar tersebut. Menurutnya, babi hutan yang terlihat berkeliaran adalah satwa hasil penyelamatan (rescue) yang sebelumnya berada di bawah pengawasan Pejaten Shelter, sebuah tempat perlindungan bagi hewan-hewan non-domestik.
BACA JUGA : Viral Guru Tendang Murid dari Atas Meja di Demak, Polisi Lakukan Penyelidikan Intensif
“Babi hutan tersebut merupakan hewan hasil rescue dari Pejaten Shelter. Ia sempat menjebol kandang dan akhirnya lolos ke lingkungan warga,” ungkap Hasudungan saat dikonfirmasi pada Minggu, 15 Juni 2025.
Pejaten Shelter sendiri diketahui merawat berbagai jenis hewan, termasuk hewan liar yang diselamatkan dari perburuan ilegal atau kondisi terlantar. Namun, dalam peristiwa kali ini, terjadi kelalaian teknis yang memungkinkan hewan tersebut meloloskan diri dari kandangnya.
Proses Penangkapan dan Rencana Pelepasliaran di Bandung
Setelah sempat menghebohkan warga, babi hutan tersebut berhasil ditangkap kembali oleh tim gabungan yang terdiri atas petugas shelter, warga sekitar, dan aparat kelurahan setempat. Penangkapan dilakukan dengan pendekatan yang mengutamakan keamanan warga serta keselamatan hewan itu sendiri.
Hasudungan menyebutkan bahwa pihak shelter dan Dinas KPKP telah mengambil langkah tegas dengan segera merencanakan pemindahan hewan tersebut ke habitat alaminya. Lokasi yang dipilih adalah kawasan hutan konservasi di wilayah Bandung, Jawa Barat, yang dinilai lebih sesuai untuk melepasliarkan satwa liar seperti babi hutan.
“Hewan tersebut akan segera dibawa ke Bandung dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya yang alami agar tidak terjadi insiden serupa di kemudian hari,” jelasnya.
Tidak Ada Laporan Korban atau Gangguan Serius
Di tengah kekhawatiran masyarakat, Hasudungan juga memastikan bahwa selama babi hutan itu berkeliaran, tidak terdapat laporan mengenai kerusakan, cedera, maupun gangguan langsung terhadap warga setempat. Ia menegaskan bahwa hewan tersebut hanya melintas dan tampak kebingungan akibat lingkungan yang tidak familiar baginya.
“Tidak ada warga yang diganggu, dan hewan itu sendiri tidak menunjukkan perilaku agresif,” ujar Hasudungan menenangkan kekhawatiran warga.
Respons Warga: Antara Takut dan Heran
Banyak warga Pejaten Barat menyampaikan keterkejutannya atas kemunculan babi hutan di tengah lingkungan padat penduduk. Beberapa di antaranya bahkan sempat mengabadikan momen tersebut dalam video yang kini tersebar luas di berbagai platform digital.
“Awalnya saya kira anjing liar, tapi setelah melihat lebih dekat, ternyata babi hutan. Kami langsung panik karena tidak tahu apakah hewan itu berbahaya atau tidak,” ujar Budi, salah satu warga yang sempat menyaksikan kejadian tersebut.
Sementara itu, pengemudi ojek online yang ikut mengejar hewan tersebut mengaku bertindak spontan karena khawatir jika hewan itu memasuki area rumah warga atau menyebabkan kecelakaan di jalan raya.
Sorotan pada Keselamatan dan Tata Kelola Shelter Hewan
Insiden ini sekaligus membuka diskursus publik terkait standar keamanan dan pengelolaan shelter hewan liar di wilayah perkotaan. Banyak pihak menilai bahwa peristiwa seperti ini seharusnya dapat dicegah melalui pengawasan yang lebih ketat terhadap fasilitas penampungan satwa non-domestik.
Pakar konservasi satwa dari Lembaga Biologi LIPI, Dr. Bambang Santosa, menekankan pentingnya penguatan sistem kandang, pengawasan petugas, dan keterbukaan data jenis hewan yang dirawat di shelter-shelter semacam Pejaten Shelter.
“Babi hutan bukan satwa jinak. Meskipun dalam status rehabilitasi, tetap harus dikelola dengan standar keamanan tinggi. Lokasi shelter juga sebaiknya tidak berada di zona padat penduduk,” ujar Bambang dalam pernyataannya.
BACA JUGA : Kisah Viral Driver Ojol Dapat Penumpang Mantan Bikin Netizen Terharu
Ancaman Kehilangan Habitat dan Migrasi Satwa Liar ke Wilayah Perkotaan
Fenomena satwa liar yang masuk ke kawasan permukiman penduduk sebenarnya bukan peristiwa baru di Indonesia. Banyak kasus seperti ular, monyet ekor panjang, hingga biawak yang ditemukan berkeliaran di tengah kota, khususnya di daerah yang mengalami alih fungsi lahan atau pembangunan yang agresif.
Ahli ekologi urban, Prof. Retno Lestari dari Universitas Indonesia, menyebutkan bahwa migrasi satwa liar ke kota merupakan dampak lanjutan dari kerusakan habitat alaminya. Ketika hutan atau kawasan hijau yang menjadi tempat tinggal alami mereka dikonversi menjadi permukiman, mal, atau jalan tol, maka satwa-satwa ini kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan.
“Kehadiran satwa liar di tengah kota adalah peringatan keras bahwa keseimbangan ekologis kita mulai terganggu. Solusinya bukan sekadar menangkap hewannya, tetapi mengatasi akar persoalan, yakni deforestasi dan ketidakseimbangan tata ruang,” jelas Prof. Retno.
Antisipasi Insiden Serupa di Masa Mendatang
Kejadian babi hutan lepas di Pejaten Barat menjadi pelajaran penting bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pengelola shelter, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Koordinasi yang kuat antara lembaga konservasi, dinas terkait, dan warga lokal menjadi kunci utama dalam mencegah serta menangani insiden serupa di masa depan.
Upaya pelepasliaran kembali ke habitat alami juga harus diiringi dengan kebijakan konservasi yang berkelanjutan dan edukasi masyarakat terhadap pentingnya koeksistensi manusia dan satwa liar. Sebab, dalam ekosistem yang sehat, satwa liar tidak akan berkeliaran di lingkungan manusia, dan manusia tidak perlu merasa takut terhadap kehadiran mereka.
Dengan langkah tanggap cepat dan edukasi menyeluruh, diharapkan tidak ada lagi kejadian yang mengancam keselamatan warga maupun satwa itu sendiri.

















