Wamendagri Bima Arya Ajak Masyarakat “Membaca Tanda Zaman” di Era Disrupsi Global
Wamendagri Bima Arya Ajak Masyarakat “Membaca Tanda Zaman” di Era Disrupsi Global
beritahariini.news — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa kemampuan “membaca tanda zaman” menjadi kunci penting bagi bangsa Indonesia untuk mampu bertahan dan unggul di tengah arus perubahan global yang kian cepat. Pesan tersebut disampaikan dalam Pertemuan dan Konsolidasi Regional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) se-Sulawesi, yang digelar di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Kota Makassar, akhir pekan ini.
Dalam pidatonya, Bima menekankan bahwa siapa pun — baik individu maupun bangsa — yang mampu memahami arah perubahan zaman dengan tajam akan menjadi pemenang sejarah. Ia mengutip pesan dari para cendekiawan seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Amien Rais, yang sejak lama mengingatkan pentingnya kepekaan terhadap tanda-tanda sosial, politik, dan peradaban.
“Cak Nur sering bilang, siapa yang bisa membaca tanda-tanda zaman, dialah yang akan jadi pemenang. Pesan itu saya pegang teguh hingga hari ini,” ujar Bima di hadapan para alumni KAHMI.
“The Great Wave” dan Filosofi Menghadapi Era Disrupsi
Dalam sambutannya, Bima Arya mengangkat metafora menarik dari buku The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider karya jurnalis pemenang Pulitzer, Michiko Kakutani. Ia menjelaskan bahwa pada sampul buku tersebut terdapat lukisan ikonik Jepang abad ke-19, The Great Wave off Kanagawa, karya Hokusai — yang menampilkan perahu kecil diterjang gelombang besar dengan latar Gunung Fuji yang tampak tenang di kejauhan.
Menurut Bima, gambar itu bukan sekadar karya seni, melainkan refleksi kehidupan manusia dalam menghadapi perubahan zaman: antara badai ketidakpastian dan ketenangan dalam kebijaksanaan.
“Lukisan itu mengajarkan keseimbangan antara kewaspadaan dan ketenangan. Ia menggambarkan bagaimana dunia sedang berada dalam era radical disruption dan kebangkitan para outsider,” kata Bima.
Kakutani dalam bukunya menggambarkan dunia modern sebagai era di mana kekuasaan, industri, dan budaya tak lagi dikuasai oleh pihak-pihak mapan. Sebaliknya, aktor-aktor baru dari luar sistem konvensional — yang dulu dianggap tidak mungkin — kini justru tampil sebagai pengubah sejarah.
Kebangkitan Outsider dan Pergeseran Paradigma Dunia
Bima Arya menilai bahwa disrupsi global tidak hanya terjadi di bidang teknologi dan ekonomi, tetapi juga pada tatanan sosial dan politik dunia. Ia mencontohkan kemunculan Donald Trump di Amerika Serikat dan Volodymyr Zelenskyy di Ukraina, dua sosok yang bukan berasal dari sistem politik tradisional, namun berhasil menjadi pemimpin nasional berpengaruh.
Fenomena serupa, lanjutnya, juga terjadi di ranah industri budaya dan hiburan. Jika selama puluhan tahun dunia didominasi oleh Hollywood dan Barat, kini dominasi tersebut mulai bergeser.
“Film, musik, dan budaya kini tidak lagi hanya milik Amerika atau Eropa. Kita melihat kebangkitan dari Asia — Korea, India, China, bahkan Afrika — yang kini mampu bersaing di panggung dunia,” ungkapnya.
Bima menegaskan, fenomena ini menjadi tanda nyata bahwa pusat gravitasi dunia tengah bergeser ke Timur, khususnya ke Asia. Perubahan inilah yang menurutnya wajib dibaca dengan tajam agar Indonesia tidak tertinggal dalam kompetisi global yang semakin kompleks.
Dunia Bergerak dari Unipolar ke Multipolar
Dalam konteks geopolitik, Bima Arya mengutip teori Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations. Huntington menilai bahwa dunia kini bergerak dari tatanan unipolar (yang dikuasai satu kekuatan besar) menuju era multipolar, di mana kekuatan global terbagi ke beberapa blok besar dengan nilai dan kepentingan yang berbeda-beda.
“Hari ini kita menyaksikan bagaimana tatanan dunia bergeser. Jika dulu Amerika menjadi episentrum tunggal, kini muncul kekuatan baru dari China, India, Timur Tengah, bahkan Asia Tenggara. Ini adalah realitas baru yang harus kita pahami bersama,” terang Bima.
Menurutnya, fenomena multipolar ini menuntut negara-negara, termasuk Indonesia, untuk lebih adaptif, inovatif, dan tangguh secara diplomatik. Kebijakan luar negeri, ekonomi, dan pembangunan harus selaras dengan perubahan dinamika global agar bangsa tetap berdiri kuat di tengah gelombang disrupsi.
Pelajaran dari China: Inovasi dan Pemerintahan Efektif
Sebagai contoh keberhasilan membaca perubahan zaman, Bima Arya menyoroti model pembangunan China. Dalam kurun waktu 40 tahun, negeri tersebut berhasil mengangkat lebih dari 800 juta penduduk dari kemiskinan, melalui kombinasi antara inovasi teknologi dan pemerintahan yang efektif.
China berhasil membangun ekonomi kreatif dan teknologi tinggi tanpa meninggalkan jati diri budayanya.
“Inovasi di China selalu dikaitkan dengan karakternya sendiri — innovation with China’s characteristics. Mereka membuktikan bahwa modernisasi tidak harus menghapus identitas budaya,” tutur Bima.
Bima menilai, keberhasilan semacam itu patut menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk membangun inovasi yang sesuai dengan nilai dan karakter bangsa. Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat sipil harus bersinergi menciptakan inovasi yang membumi dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Membaca Zaman, Mempersiapkan Generasi
Selain berbicara tentang pergeseran global, Wamendagri juga menekankan pentingnya menyiapkan generasi muda Indonesia untuk mampu beradaptasi di era perubahan yang cepat. Ia menilai, pendidikan di Indonesia harus melampaui sekadar transfer ilmu — namun juga menanamkan kepekaan terhadap tanda-tanda zaman, kemampuan berpikir kritis, serta semangat kepemimpinan berbasis nilai.
“Kita tidak boleh hanya mencetak pekerja, tapi juga pencipta. Tidak cukup hanya mendidik cendekiawan, tetapi harus menumbuhkan pemimpin-pemimpin transformatif,” tegasnya.
Bima mengingatkan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kemampuan generasi muda dalam menyikapi disrupsi teknologi, perubahan iklim, serta tantangan etika di dunia digital. Ia menilai bahwa tanggung jawab moral dan spiritual harus menjadi landasan setiap langkah pembangunan.
Pemimpin Transformatif: Berjuang dengan Nilai, Bukan Kepentingan
Menutup pidatonya, Bima Arya menyampaikan seruan moral kepada seluruh kader KAHMI dan masyarakat luas agar terus melahirkan tokoh-tokoh transformatif — mereka yang berjuang karena nilai, bukan kepentingan pribadi atau golongan.
“Negara ini harus dijaga oleh pemimpin-pemimpin yang memimpin dengan nilai, bukan dengan ambisi pribadi. Mari kita ajak generasi muda untuk menjadi sosok yang berjuang karena idealisme, bukan karena kepentingan,” ujarnya.
Bima menilai, krisis global saat ini bukan hanya soal ekonomi atau teknologi, tetapi juga krisis kepemimpinan moral. Oleh sebab itu, ia menekankan perlunya membangun generasi yang tidak sekadar cerdas, tetapi juga berintegritas dan berkarakter.
Refleksi untuk Bangsa
Pesan “membaca tanda zaman” yang disampaikan Bima Arya sesungguhnya merupakan panggilan reflektif bagi seluruh elemen bangsa. Di tengah kemajuan teknologi, disrupsi sosial, dan perubahan geopolitik dunia, Indonesia dituntut untuk membangun visi jangka panjang yang berakar pada nilai budaya dan spiritual bangsa.
Kesiapan menghadapi era multipolar menuntut sinergi antara inovasi dan kebijaksanaan, antara teknologi dan moralitas. Sebagaimana diungkapkan Bima, bangsa yang gagal membaca arah angin perubahan akan tertinggal dalam sejarah, sedangkan mereka yang peka terhadap tanda-tanda zaman akan menulis sejarah baru bagi dunia.
“Kita tidak boleh takut pada gelombang besar. Yang penting, kita tahu ke mana arah perahu ini berlayar,” pungkasnya.
Pidato Wamendagri Bima Arya Sugiarto menjadi pengingat bahwa membaca tanda-tanda zaman bukan sekadar kemampuan intelektual, melainkan kecakapan strategis yang menentukan arah bangsa. Dunia tengah memasuki era disrupsi radikal, dengan pergeseran kekuatan global dari Barat ke Timur. Dalam situasi seperti ini, Indonesia harus mempersiapkan diri dengan inovasi, kepemimpinan nilai, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Sebagaimana filosofi “The Great Wave”, bangsa yang siap menghadapi badai dengan kebijaksanaan dan keberanian akan selalu menemukan jalannya menuju pantai kemenangan.