beritahariini.news – Melalui sebuah rombong sederhana yang diangkut dengan sepeda jengki tua, Cak Leman atau Saliman, penjual pentol legendaris asal Sidoarjo, telah mencuri perhatian masyarakat dengan pentol kanji khasnya. Sejak tahun 1999, Cak Leman setia menjajakan dagangannya yang dikenal dengan tekstur kenyal dan rasa yang khas.
Keberadaan Pentol yang Jadi Buruan Warga
Setiap harinya, kecuali Minggu, Cak Leman berkeliling Kota Sidoarjo dengan jadwal yang cukup konsisten. Pagi hingga siang hari, ia biasanya bisa ditemukan di Jalan Kwadean Barat, dekat Apotek Mawar Farma. Setelah pukul 15.00 WIB, ia pindah ke jalan depan Makam Kwadean. Jika masih tersisa pentol dagangannya, ia akan mengayuh sepedanya menuju Bluru, tepatnya di sekitar SMK Yos Sudarso.
Waktu terbaik untuk menikmati makanan ini Cak Leman adalah pukul 10.00 hingga 13.00 WIB. Pasalnya, di sore hari, pentolnya kerap habis terjual.
Also Read
Ciri Khas Pentol Kanji “Kelet”
Pentol yang dijual Cak Leman dikenal dengan teksturnya yang lengket dan kenyal, sehingga oleh warga setempat sering disebut “pentol kelet”. Warna kecokelatan dari makanan ini semakin menggoda ketika disajikan dengan kuah berbumbu dan siraman saus kacang. Kombinasi tersebut memberikan rasa gurih yang lezat, terutama jika dinikmati dalam kondisi hangat.
“Pentol ini tidak menggunakan banyak daging, hanya sedikit saja, karena bahan utamanya adalah kanji. Kalau terlalu banyak daging, teksturnya tidak bisa lengket seperti ini,” jelas pria berusia 54 tahun tersebut.
Selain makanan ini, Cak Leman juga menawarkan tahu isi kanji. Dahulu, tahu ini digoreng, tetapi kini ia menyajikannya dalam bentuk kukus agar lebih praktis.
Harga Terjangkau untuk Semua Kalangan
Dengan harga hanya Rp 500 per biji, pentol Cak Leman menjadi pilihan camilan yang terjangkau bagi masyarakat. Dalam sehari, ia dan istrinya mampu memproduksi sekitar 12 kilogram pentol kanji dan 3,5 kilogram adonan tahu. Semua dagangannya selalu habis setiap hari, karena Cak Leman berkomitmen untuk tidak menyimpan sisa dagangan di dalam kulkas.
“Kalau pentol disimpan di kulkas, rasanya jadi berbeda. Makanya, kami lebih memilih habis setiap hari,” tuturnya.
Perjalanan Panjang Sejak 1999
Awalnya, pada tahun 1999, Cak Leman menjual gorengan tahu isi dengan adonan tepung dan mentega yang dicampur ayam. Namun, karena proses pengolahannya dirasa terlalu ribet, ia dan istrinya memutuskan untuk beralih menjual pentol kanji pada awal 2000-an.
BACA JUGA : 11 Makanan Khas Banyuwangi yang Harus Anda Cicipi
Keputusannya terbukti tepat. Pentol kanji lebih mudah dibuat dan menjadi favorit banyak orang, terutama anak-anak sekolah. Kini, setelah lebih dari dua dekade, pentol buatan Cak Leman tidak hanya diminati warga lokal, tetapi juga pelanggan dari luar daerah seperti Surabaya dan Waru.
Resep Sukses di Balik Keunikan Pentol Cak Leman
Keberhasilan Cak Leman mempertahankan bisnisnya selama lebih dari 20 tahun bukan hanya karena rasa pentolnya yang enak, tetapi juga karena dedikasinya dalam menjaga kualitas. Ia selalu menggunakan bahan-bahan segar dan memastikan setiap makanan ini yang dijual dibuat dengan cinta.
Pelanggan setia seperti Canty Nadia mengaku jatuh cinta pada makanan ini Cak Leman karena bumbu kacangnya yang khas. “Pentolnya lebih nikmat jika dimakan dengan bumbu kacang dan disantap saat masih panas. Rasanya benar-benar beda,” ujar Canty.
Inspirasi dari Cak Leman
Kisah Cak Leman adalah bukti bahwa kesederhanaan dan konsistensi dapat menciptakan kesuksesan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana seperti kanji dan tahu, ia mampu menciptakan camilan yang dicintai berbagai kalangan.
Bagi masyarakat Sidoarjo, makanan ini Cak Leman bukan sekadar camilan, tetapi juga bagian dari sejarah kuliner yang telah bertahan melintasi generasi. Jadi, jika Anda sedang berada di Sidoarjo, jangan lupa untuk mencicipi pentol legendaris ini yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita kuliner lokal.