Anggota kelompok Houthi berbaris dalam demonstrasi untuk mendukung warga Palestina di Gaza dan mengecam serangan udara Amerika Serikat di Yaman, di luar Sanaa, pada 22 Januari 2024. (Sumber: beritahariini.news)
beritahariini.news – Dalam pengumuman yang mengejutkan dunia internasional, kelompok Houthi di Yaman menyatakan bahwa Mayor Jenderal Muhammad Abdul Karim al-Ghamari, Kepala Staf Militer mereka, telah meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita dari serangan udara Israel. Pengumuman ini memicu ancaman keras dari Houthi mengenai pembalasan terhadap “musuh Zionis.”
Kelompok Houthi melalui media mereka menyebut bahwa al-Ghamari meninggal dalam “melaksanakan tugasnya” sebagai komandan militer tertinggi kelompok tersebut. Mereka juga menyampaikan bahwa ia tewas bersama putranya yang berusia sekitar 13 tahun dan sejumlah pendamping, tetapi tidak merinci waktu dan tempat serangan secara pasti.
Israel, melalui Menteri Pertahanan Israel Katz, mengonfirmasi bahwa mereka bertanggung jawab atas kematian al-Ghamari. Menurut Katz, jenderal itu meninggal karena luka-luka yang dideritanya dalam serangan terhadap kepemimpinan Houthi. Ia digambarkan sebagai pejabat paling senior dalam struktur militer Houthi yang pernah dibunuh oleh Israel sejauh ini.
Also Read
Menurut laporan Al Jazeera, al-Ghamari diyakini menjadi sasaran serangan Israel yang terjadi di Sanaa pada Agustus 2025. Israel dilaporkan melakukan beberapa serangan sebelumnya, namun waktu dan lokasi pasti al-Ghamari terluka parah belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Reuters melaporkan bahwa pengumuman kematian ini muncul sebagai bagian dari konfrontasi Israel terhadap kekuatan milisi yang didukung Iran, khususnya dalam konflik yang telah meluas dari Gaza ke Yaman. Kelompok Houthi menggambarkan al-Ghamari sebagai tokoh militer kunci yang memimpin operasi strategis. Al-Ghamari sebelumnya dijatuhi sanksi oleh PBB dan AS atas keterlibatannya dalam operasi lintas batas yang menargetkan Arab Saudi.
Sebagai penggantinya, Houthi menunjuk Mayor Jenderal Yusuf Hassan al-Madani, komandan senior dalam struktur militer kelompok, sebagai Kepala Staf baru.
Pasca pengumuman itu, Houthi menyebut bahwa konflik dengan Israel belum selesai dan menjanjikan pembalasan atas serangan yang mereka sebut sebagai agresi terhadap rakyat Yaman dan umat Islam secara umum. Dalam pernyataan resmi melalui agensi berita pro-Houthi, mereka menyebut bahwa “musuh Zionis akan menerima hukuman yang setimpal atas kejahatannya” dan mengundang para pejuang untuk tetap tetap bersikap tegar.
Namun, sejak gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, kelompok Houthi belum melancarkan serangan baru ke Israel atau kapal niaga di Laut Merah. Pemerintah Israel, sebaliknya, menyatakan bahwa operasi mereka akan terus berlanjut terhadap jaringan militan dan tokoh kunci musuh.
Analis menilai kematian al-Ghamari bisa memicu eskalasi serius bila Houthi menyerang infrastruktur pelayaran atau menargetkan Israel dengan rudal dan drone.
Konflik Israel–Houthi merupakan bagian dari dinamika lebih besar antara Israel dan kekuatan yang didukung Iran (seperti Hamas, Hezbollah, dan milisi-milisi regional). Terbunuhnya al-Ghamari dianggap pengamat sebagai bukti meningkatnya kemampuan Israel menembus jaringan intelijen serta sistem pertahanan milisi Houthi di Yaman.
Baca Juga: BGN Tegaskan Susu dalam Program Makan Bergizi Gratis Jadi Simbol Gerakan Nasional Cerdaskan Bangsa
Di satu sisi, tindakan tersebut dapat memberi tekanan pada Houthi untuk membalas. Israel berisiko menghadapi meluasnya konflik ke jalur pelayaran strategis Laut Merah, yang menjadi urat nadi logistik dan perdagangan internasional.
Konflik di Yaman sendiri sudah berlangsung sejak 2014, dengan dampak kemanusiaan besar: jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan akses terhadap kebutuhan dasar. Kematian al-Ghamari dapat memperdalam ketidakstabilan di kawasan utara Yaman dan memperburuk penderitaan warga sipil. Iran sebagai pendukung utama Houthi diperkirakan mengecam keras serangan Israel, menilainya sebagai upaya melemahkan jaringan pengaruh Teheran di kawasan.
Kematian Mayor Jenderal Muhammad al-Ghamari menandai babak baru dalam konflik antara Israel dan milisi Yaman. Bagi Israel, ini adalah pukulan terhadap struktur komando musuh. Bagi Houthi, ini bisa menjadi momen untuk menunjukkan kekuatan atau mempertimbangkan strategi baru.
Hingga saat ini, belum ada laporan jelas mengenai serangan besar-besaran balasan. Dunia menunggu apakah kelompok Houthi akan menepati ancamannya atau apakah diplomasi dan tekanan regional mampu mencegah konflik yang lebih luas. Kematian al-Ghamari berpotensi memperluas konflik Israel, bukan hanya di Gaza, tetapi juga ke negara-negara tetangga dengan dampak besar.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…