https://asset.kompas.com/crops/fnTK2Wmt0cPMv1gQZAbcfVX7BxM=/0x0:5184x3456/1200x800/data/photo/2024/08/21/66c57ff12a549.jpg
beritahariini.news – Sejumlah pencari kerja tampak mengantre dalam Pameran Bursa Kerja yang diselenggarakan di Depok Town Square, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (30/7/2024). Acara ini diinisiasi oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Depok, menghadirkan 40 perusahaan dengan 2.105 Lapangan Kerja guna menekan angka pengangguran.
Target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen perlu diapresiasi dan didukung oleh seluruh pelaku ekonomi. Meskipun target ini tergolong tinggi, namun dengan kerja keras dan strategi yang tepat, pertumbuhan ekonomi sebesar itu masih realistis untuk dicapai. Jika semua elemen bangsa bersinergi, tidak menutup kemungkinan target ini dapat diraih lebih cepat dari yang diperkirakan.
Namun, guna mewujudkan target tersebut, diperlukan upaya nyata dalam menutup berbagai celah yang selama ini menghambat optimalisasi pertumbuhan ekonomi. Beberapa tantangan sosial ekonomi masih menjadi hambatan yang harus segera diatasi agar tidak menghambat pertumbuhan dan pembangunan dalam jangka panjang.
Also Read
Tiga tantangan utama yang harus menjadi perhatian adalah penciptaan lapangan kerja, kemiskinan, dan ketimpangan. Ketiga faktor ini saling berkaitan erat, sehingga solusi yang diterapkan perlu menyentuh akar masalahnya secara simultan.
Dalam hal penciptaan lapangan kerja, pemerintah telah mengambil langkah yang tepat dengan mendorong industrialisasi dan hilirisasi. Pada era Orde Baru, setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen mampu menciptakan lebih dari 250.000 lapangan pekerjaan baru. Saat ini, satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan sekitar 150.000 lapangan kerja, menunjukkan perlunya strategi lebih efektif.
Jika industrialisasi dan hilirisasi dapat berjalan optimal, sektor industri akan kembali menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan demikian, angka pengangguran, baik terbuka maupun terselubung, dapat ditekan secara signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 1,5 juta tenaga kerja baru memasuki pasar setiap tahunnya. Jika kapasitas penciptaan lapangan kerja tidak meningkat, jumlah pengangguran akan terus bertambah.
Diperlukan pertumbuhan ekonomi setidaknya enam persen untuk menyerap angkatan kerja baru yang memasuki pasar tenaga kerja setiap tahun. Oleh karena itu, fokus pada sektor industri dan inovasi menjadi kunci untuk membuka lebih banyak peluang kerja yang layak dan berkelanjutan.
Pemerintah telah berhasil menekan angka kemiskinan ekstrem hingga mendekati nol. Namun, tantangan selanjutnya adalah mengatasi kelompok rentan miskin yang jumlahnya masih mencapai 67,69 juta jiwa atau sekitar 24,23 persen dari total populasi.
BACA JUGA : Lukisan Kulit Kayu Jadi Kerajinan Unggulan Pemkab Jayapura untuk Angkat Warisan Budaya
Peningkatan pendapatan melalui penciptaan lapangan kerja yang layak (decent work) menjadi solusi utama dalam mengurangi kemiskinan. Decent work adalah pekerjaan yang memberikan penghasilan cukup, dilakukan atas kemauan sendiri, serta menjamin keamanan dan kesejahteraan pekerja. Jika lapangan kerja yang tersedia tidak memenuhi kriteria ini, maka meskipun pendapatan meningkat, jumlah masyarakat miskin dan rentan miskin tetap tidak akan berkurang.
Oleh karena itu, selain menciptakan lapangan kerja baru, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa pekerjaan yang diciptakan benar-benar layak dan memberikan kehidupan yang bermartabat bagi para pekerja dan keluarganya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin pada September 2024 tercatat sebesar 8,57 persen atau sekitar 24,06 juta orang. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan Maret 2024 yang mencapai 25,22 juta orang. Namun, meskipun angka kemiskinan menurun, indikator ketimpangan justru sedikit meningkat, terlihat dari kenaikan Rasio Gini dari 0,379 pada Maret 2024 menjadi 0,381 pada September 2024.
Untuk mengatasi ketimpangan, pemerintah perlu memastikan distribusi kekayaan dan kesempatan ekonomi yang lebih merata. Kebijakan pemerataan ekonomi, seperti akses pendidikan yang berkualitas, pelatihan vokasi, serta dukungan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perlu ditingkatkan guna menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.
Agar ketiga tantangan di atas dapat diatasi secara bersamaan, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja layak, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta menurunkan angka kemiskinan dan ketimpangan.
Keberhasilan dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkualitas memerlukan kerja sama dari seluruh elemen bangsa, termasuk pemerintah, DPR, sektor swasta, serta masyarakat. Kebijakan fiskal dan moneter harus selaras, serta sinergi antara pekerja dan pemberi kerja harus diperkuat agar dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih produktif dan inklusif.
Jika langkah-langkah ini dapat dijalankan dengan baik, maka target pertumbuhan ekonomi delapan persen bukanlah sekadar ambisi, melainkan suatu pencapaian yang dapat diwujudkan dalam waktu yang lebih cepat, sehingga Indonesia dapat bergerak lebih dekat menuju status negara maju.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…