beritahariini.news – Bulan Ramadan selalu identik dengan berbagai tradisi unik, mulai dari ibadah hingga sajian kuliner khas yang hanya muncul setahun sekali. Salah satu hidangan berbuka puasa yang paling dinantikan oleh masyarakat Medan adalah bubur sup pedas khas Masjid Raya Al Mashun.
Setiap tahunnya, hidangan istimewa ini selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Muslim yang ingin berbuka puasa dengan makanan yang lezat, bergizi, dan memiliki sejarah panjang dalam tradisi Ramadan di Medan.
Tradisi Berbuka Puasa dengan Bubur Sup Pedas
Masjid Raya Al Mashun, yang merupakan salah satu ikon bersejarah di Kota Medan, selalu ramai dikunjungi oleh umat Islam, terutama saat bulan Ramadan. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga terkenal dengan tradisi penyajian bubur sup pedas yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Also Read
Setiap harinya selama Ramadan, lebih dari 1.000 porsi bubur sup pedas disiapkan untuk para jamaah dan masyarakat yang datang berbuka puasa. Proses memasak dimulai sejak menjelang Zuhur, dengan bahan-bahan pilihan yang diolah dalam kancah (wajan besar dari tembaga) dan dimasak menggunakan kayu bakar, mempertahankan cita rasa tradisional yang khas.
Pengurus Masjid Raya Al Mashun, Hamdan, mengungkapkan bahwa bubur ini hanya disajikan hingga malam ke-27 Ramadan, karena setelah itu masjid mulai fokus menerima zakat fitrah dan persiapan menyambut malam-malam terakhir bulan suci.
Cita Rasa Khas dan Bahan Pilihan
Salah satu alasan mengapa bubur sup pedas ini sangat digemari adalah penggunaan bahan-bahan segar dan berkualitas tinggi.
Dalam satu kali proses memasak, sekitar 30 kilogram beras, 10 kilogram daging sapi, kentang, wortel, serta rempah-rempah khas digunakan untuk menciptakan rasa yang kaya dan beraroma menggugah selera.
Tekstur bubur yang lembut, dipadukan dengan kuah yang gurih serta sensasi pedas dari bumbu khas, membuatnya menjadi hidangan yang sempurna untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Manfaat Bubur Sup Pedas untuk Kesehatan
Selain lezat, bubur sup pedas ini juga memiliki banyak manfaat kesehatan, terutama sebagai makanan berbuka puasa.
- Mudah dicerna – Tekstur bubur yang lembut membantu perut yang kosong beradaptasi dengan makanan setelah berpuasa seharian.
- Kaya nutrisi – Mengandung protein dari daging sapi, karbohidrat dari beras, serta vitamin dan serat dari sayuran seperti kentang dan wortel.
BACA JUGA : Seblak Penyebab Kanker? 9 Makanan Populer di Indonesia yang Berisiko Memicu Kanker!q
- Menghangatkan tubuh – Kuah pedas dari bubur ini membantu meningkatkan metabolisme tubuh, terutama setelah seharian tidak makan dan minum.
Sejarah Masjid Raya Al Mashun dan Tradisi Bubur Sup Pedas
Masjid Raya Al Mashun dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Deli ke-IX, dan diresmikan pada tahun 1909. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan Islam di Medan.
Tradisi penyajian bubur sup pedas ini diyakini sudah berlangsung sejak lama, seiring dengan berdirinya masjid. Para jamaah yang berbuka puasa di sini merasakan kehangatan kebersamaan dan semangat berbagi yang diajarkan dalam Islam.
Hamdan menjelaskan bahwa penyajian bubur sup pedas ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama. Setiap harinya, para relawan masjid bekerja keras menyiapkan bubur ini untuk dibagikan kepada siapa saja yang datang, tanpa memandang latar belakang ekonomi.
Antusiasme Masyarakat: Tradisi yang Selalu Dinanti
Bagi masyarakat Medan dan sekitarnya, berbuka puasa di Masjid Raya Al Mashun dengan bubur sup pedas adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tidak hanya warga lokal, tetapi banyak juga pendatang dari luar kota yang sengaja datang ke masjid ini untuk mencicipi hidangan khas ini.
“Bubur sup pedas ini rasanya selalu bikin kangen. Setahun sekali aja bisa makan ini. Rasanya unik, beda dari bubur biasa,” ujar salah seorang pengunjung.
Bahkan, banyak warga yang datang lebih awal ke masjid agar bisa mendapatkan seporsi bubur sebelum kehabisan. Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kuliner khas Ramadan ini telah menjadi bagian dari identitas budaya Kota Medan.
Proses Pembuatan: Mempertahankan Cara Tradisional
Keistimewaan lain dari bubur sup pedas ini adalah cara memasaknya yang masih mempertahankan metode tradisional.
- Bubur dimasak dalam kancah tembaga berukuran besar, yang memungkinkan panas merata ke seluruh bagian bubur.
- Menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utama, memberikan aroma khas yang tidak bisa didapatkan jika menggunakan kompor gas.
- Bumbu-bumbu dan rempah-rempah diracik dengan takaran khusus agar rasa pedasnya pas, tidak terlalu menyengat tetapi tetap memberikan sensasi hangat.
- Setelah matang, bubur dibagikan secara gratis kepada para jamaah yang berbuka puasa di masjid.
Metode memasak tradisional ini juga membuat bubur tetap hangat lebih lama, sehingga jamaah bisa menikmatinya dengan nyaman setelah azan Magrib berkumandang.
Kegiatan Ramadan di Masjid Raya Al Mashun
Selain menjadi pusat kuliner khas Ramadan, Masjid Raya Al Mashun juga menyelenggarakan berbagai kegiatan ibadah dan sosial selama bulan suci, seperti:
- Salat Tarawih berjamaah dengan imam dari berbagai daerah.
- Kajian dan ceramah agama setiap sore sebelum berbuka.
- Pembagian sembako dan santunan bagi masyarakat kurang mampu.
- Kegiatan Itikaf pada 10 malam terakhir Ramadan.
Semua kegiatan ini menjadikan Masjid Raya Al Mashun tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan budaya yang mempererat ukhuwah Islamiyah di Kota Medan.
Kesimpulan
Bubur sup pedas khas Masjid Raya Al Mashun bukan sekadar hidangan berbuka puasa, tetapi juga bagian dari sejarah, tradisi, dan kebersamaan umat Islam di Medan.
Dari proses pembuatannya yang masih tradisional, hingga kehangatan suasana berbuka bersama di masjid, semua elemen ini menciptakan pengalaman Ramadan yang unik dan penuh berkah.
Bagi Anda yang berada di Medan selama Ramadan, sempatkanlah untuk mencicipi bubur sup pedas ini dan merasakan sendiri atmosfer spiritual serta kebersamaannya. Sebuah tradisi yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hati.