Food

Kenapa Jajanan Kaki Lima Jarang Picu Keracunan Massal, Sementara MBG Sering Bermasalah? Ahli Gizi Beberkan Penyebab

beritahariini.news – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjadi sorotan setelah kasus keracunan massal di Bandung Barat mencatat lebih dari 1.300 siswa sebagai korban. Ironisnya, banyak pihak mempertanyakan mengapa siswa yang kerap mengonsumsi jajanan kaki lima atau street food—seperti cireng, cimol, seblak, hingga cilok—justru jarang mengalami kasus keracunan dalam skala besar.

Perdebatan publik mencuat di media sosial, khususnya platform X, di mana warganet menyoroti perbedaan mencolok antara daya tahan siswa terhadap jajanan pinggir jalan dengan kerentanan terhadap menu MBG.

Salah satu akun menuliskan sindiran, “Anak-anak tumbuh besar dengan cireng dan cimol yang alot, tapi malah tumbang karena MBG. Jika 1.333 siswa bisa keracunan, ada yang salah besar dalam penyajiannya.”

Pandangan Ahli: Jajanan Kaki Lima Bukan Tanpa Risiko

Menurut dr. Tan Shot Yen, pakar gizi masyarakat, klaim bahwa jajanan kaki lima aman sepenuhnya adalah keliru. Ia menegaskan bahwa keracunan bisa saja terjadi kapan pun, hanya saja kasusnya tidak terdeteksi dalam jumlah besar.

“Kalau kita lagi kurang beruntung, makan street food pun bisa keracunan. Bedanya, pembelinya terpencar, tidak terkonsentrasi dalam satu lokasi seperti program MBG,” jelas Tan.

Dengan kata lain, keracunan akibat jajanan pinggir jalan seringkali muncul dalam bentuk kasus perorangan atau kecil-kecilan yang tidak mendapat liputan luas. Hal itu berbeda dengan MBG, di mana makanan disajikan serentak kepada ribuan siswa di satu wilayah, sehingga efeknya terlihat masif.

Faktor Suhu Panas Jadi Pembeda Utama

Perbedaan mendasar antara street food dan MBG terletak pada waktu penyajian dan suhu makanan.

  • Street food: umumnya dimasak langsung di tempat dan disajikan dalam kondisi panas. Misalnya bakso, mie ayam, hingga seblak yang disantap segera setelah matang. Kondisi panas mendidih ini membuat bakteri sulit bertahan.

  • MBG: makanan seringkali dimasak lebih awal (bahkan beberapa jam sebelum jam makan siang) dan baru dikonsumsi setelah lama disimpan. Dalam periode tersebut, makanan berada pada suhu “kritis” antara 5–60 derajat Celsius, di mana mikroba penyebab keracunan dapat tumbuh pesat.

Tan menjelaskan, “Makanan sebaiknya habis dikonsumsi dalam 2–4 jam setelah selesai dimasak. Jika melewati waktu itu, risiko pertumbuhan bakteri, kuman, dan jamur meningkat drastis.”

BACA JUGA : Deretan Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang Viral di TikTok, Disajikan Langsung oleh SPPG

SPPG Dinilai Lalai Terapkan SOP

Program MBG melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah sebagai pihak penyedia makanan. Namun, sejumlah laporan mengungkap bahwa SPPG kerap mengabaikan standar operasional prosedur (SOP).

Contohnya:

  • Bahan baku dibeli terlalu jauh dari waktu pengolahan (H-4), padahal seharusnya H-2.

  • Proses distribusi berlangsung lebih lama dari standar yang ditetapkan, yakni melebihi 6 jam.

Akibatnya, makanan yang sampai di sekolah sudah kehilangan kualitas higienisnya, rentan basi, dan berisiko tinggi menimbulkan keracunan massal.

Ahli Gizi: Street Food Minim Risiko Massal

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bandung, Prof. Ali Khomsan, menegaskan bahwa meski street food tidak selalu higienis, peluang keracunan massal relatif kecil karena makanan selalu diolah panas.

“Seblak, cimol, atau cireng biasanya langsung dimasak di tempat dan dimakan panas. Kondisi itu membuat bakteri sulit tumbuh,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan adanya risiko lain dari jajanan kaki lima, seperti penggunaan bahan tambahan berbahaya:

  • Boraks untuk mengeraskan tekstur makanan.

  • Formalin untuk mengawetkan.

  • Pewarna tekstil yang dilarang untuk pangan.

Meski jarang menimbulkan keracunan massal, konsumsi berulang dengan kandungan bahan kimia berbahaya tersebut dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan.

MBG: Risiko Mikroba Akibat Penyimpanan Lama

Program MBG sering terkendala karena rentang waktu panjang antara selesai dimasak hingga dikonsumsi. Selama proses distribusi, makanan berada dalam suhu ruang atau wadah yang tidak memenuhi standar rantai dingin (cold chain).

  • Makanan basi akibat penyimpanan lebih dari 4 jam.

  • Masakan kurang matang atau tidak higienis.

  • Peralatan distribusi tidak steril.

Hal-hal tersebut membuat MBG lebih rawan keracunan dibanding jajanan kaki lima yang langsung dihidangkan.

Kasus Bandung Barat: Gambaran Risiko Besar

Kasus keracunan massal MBG di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti nyata lemahnya pengawasan. Lebih dari 1.300 siswa dari dua kecamatan mengalami gejala mual, pusing, hingga diare setelah mengonsumsi makanan MBG.

Insiden ini mengundang sorotan publik karena dianggap mencoreng tujuan mulia program tersebut. Meski MBG dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah, lemahnya penerapan SOP justru menimbulkan masalah kesehatan serius.

BACA JUGA : Vitamin D 600–800 IU Sudah Efektif untuk Jaga Kesehatan Tulang Belakang, Ini Penjelasan Dokter Ortopedi

Solusi Ahli: Perbaikan Sistemik MBG

Para pakar gizi menilai ada beberapa langkah yang harus segera dilakukan pemerintah agar kasus serupa tidak terulang:

  1. Pengawasan ketat SOP

    • Bahan makanan wajib segar dan diproses mendekati waktu distribusi.

    • Proses masak hingga konsumsi tidak boleh melebihi 4 jam.

  2. Penggunaan teknologi rantai dingin

    • Untuk makanan yang harus didistribusikan jarak jauh, penggunaan pendingin atau insulated box mutlak diperlukan.

  3. Peningkatan kapasitas SPPG

    • Tenaga pengolah makanan perlu mendapatkan pelatihan rutin tentang higienitas dan keamanan pangan.

  4. Evaluasi sistem distribusi

    • Jalur distribusi perlu dipersingkat agar makanan sampai lebih cepat ke siswa.

  5. Penerapan sanksi

    • SPPG yang terbukti lalai harus diberi sanksi tegas, mulai dari penghentian sementara hingga pencabutan izin.

MBG Harus Menjadi Solusi, Bukan Masalah

Fenomena keracunan massal akibat program MBG menunjukkan adanya celah serius dalam sistem pengolahan dan distribusi makanan sekolah. Jika tidak segera dibenahi, program yang sejatinya dirancang untuk meningkatkan gizi siswa justru bisa merugikan kesehatan mereka.

Di sisi lain, jajanan kaki lima bukan berarti lebih aman. Hanya saja, sistem penyajiannya yang selalu panas dan langsung dimakan membuat risikonya berbeda dengan MBG.

Agar cita-cita MBG tercapai, pemerintah perlu memperkuat aspek keamanan pangan, ketepatan waktu distribusi, dan kualitas bahan baku. Dengan begitu, MBG benar-benar menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda, bukan menjadi sumber masalah kesehatan.

Priscilla Austin

Recent Posts

Pemerintah Pastikan BBM Tak Naik di Tengah Isu Kenaikan Harga

beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…

6 bulan ago

Kejari Karo Bongkar Pola Dugaan Korupsi Jasa Videografi, Amsal Sitepu Jadi Tersangka

beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…

6 bulan ago

Gol yang Lama Dinanti Paul Pogba Akhiri Puasa Empat Tahun

beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…

6 bulan ago

Pejabat Tertinggi Garda Revolusi Iran Gugur dalam Serangan Israel di Bandar Abbas

beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…

6 bulan ago

Trump Manuver Diplomatik Lewat Pakistan, Dorong Gencatan Senjata dengan Iran

beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…

6 bulan ago

Sejarah Baru Moto3 Honda Team Asia Soroti Debut Fantastis Veda Ega Pratama

beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…

6 bulan ago