Politik

Hari Kartini: Puan Maharani Ajak Perempuan Bangkit, Berani Bersuara dan Lawan Kekerasan

beritahariini.news – Dalam rangka memperingati Hari Kartini 2025, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (Ketua DPR RI) Puan Maharani menyampaikan pesan tegas dan menggugah kepada seluruh perempuan Indonesia. Ia mengajak perempuan untuk berani melawan kekerasan, pelecehan seksual, diskriminasi, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang masih menjadi tantangan besar di era modern ini.

Puan menegaskan bahwa keberanian untuk bersuara adalah bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki yang masih mengakar dalam berbagai aspek kehidupan. Ia mendorong agar Hari Kartini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, melainkan juga momentum untuk menyalakan semangat perubahan struktural dan sosial bagi perempuan Indonesia.

Tantangan Perempuan Modern yang Kian Kompleks

Dalam keterangannya kepada media, Puan menyoroti kenyataan bahwa tantangan yang dihadapi oleh perempuan masa kini semakin rumit. Mulai dari pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), diskriminasi gender di tempat kerja, hingga pengabaian terhadap ruang aman bagi perempuan, semuanya masih terjadi secara luas.

“Perempuan harus berani berbicara dan menolak jika ada yang mencoba merugikan atau mengancam keselamatannya. Jangan pernah merasa takut atau malu untuk melaporkan tindakan pelecehan seksual,” ujar Puan.

Ia juga menekankan pentingnya sistem perlindungan hukum dan sosial yang benar-benar berpihak kepada korban. Menurutnya, selama negara belum menghadirkan perlindungan yang konkret, upaya pemberdayaan perempuan belum akan menyentuh akar masalahnya.

Ruang Aman Bagi Perempuan Harus Jadi Prioritas

Puan menegaskan bahwa ruang aman bagi perempuan tidak hanya menyangkut aspek fisik, tetapi juga mencakup dimensi psikis dan sosial. Ia mengingatkan bahwa sering kali, pelaku kekerasan justru berasal dari lingkungan terdekat korban—keluarga, pasangan, atau kolega kerja.

“Perempuan harus diberi ruang aman. Sering kali, orang-orang terdekat justru menyalahgunakan kepercayaan dan menciptakan situasi yang membahayakan perempuan,” ucapnya.

Lebih jauh, ia menyerukan agar seluruh elemen masyarakat ikut serta menjaga dan memperjuangkan ruang aman itu, tidak hanya dengan tindakan pencegahan, tetapi juga dengan empati, solidaritas, dan dukungan nyata kepada korban kekerasan.

Data Kekerasan terhadap Perempuan Menunjukkan Alarm Bahaya

Mengutip data Komnas Perempuan, Puan menyampaikan bahwa dalam satu tahun terakhir, telah terjadi sedikitnya 459.094 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Angka tersebut mencerminkan kondisi darurat yang membutuhkan perhatian dan penanganan serius dari semua pihak.

“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah jeritan. Sistem perlindungan kita masih lemah. Budaya patriarki terlalu dalam mencengkeram ruang-ruang kehidupan perempuan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa dampak dari budaya patriarki tidak hanya terlihat dalam bentuk fisik, tetapi juga membatasi perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, pengambilan keputusan, hingga ekspresi diri di ruang publik dan digital.

Komitmen DPR untuk Mendorong Kebijakan Pro Perempuan

Sebagai Ketua DPR RI, Puan menyatakan bahwa lembaga legislatif akan terus menjadi mitra strategis dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Ia menegaskan bahwa DPR siap mendukung lahirnya kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan dan perlindungan perempuan.

“Hari Kartini harus menjadi momentum konsolidasi nasional. Bahwa perjuangan perempuan adalah perjuangan bangsa,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa perjuangan ini melibatkan banyak sektor—pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga hukum. Kebijakan-kebijakan yang dilahirkan harus memiliki keberpihakan yang jelas terhadap perempuan, khususnya mereka yang rentan terhadap kekerasan dan diskriminasi.

BACA JUGA : Indonesia dan Uzbekistan: Menjalin Persaudaraan Melalui Warisan Sejarah dan Spiritual

Kartini Sebagai Inspirasi Perjuangan Zaman Kini

Dalam pernyataannya, Puan menyampaikan bahwa peringatan Hari Kartini bukan hanya untuk mengenang sosok RA Kartini sebagai pelopor emansipasi, tetapi juga untuk menghidupkan kembali semangat perjuangannya dalam konteks kekinian. Menurutnya, semangat Kartini harus mewujud dalam tindakan nyata dan keberanian untuk mengubah sistem yang tidak adil.

“Peringatan ini bukan hanya tentang mengenang, tetapi tentang meneruskan perjuangan Ibu Kartini yang membuka jalan agar perempuan bisa berpendidikan, berpikir bebas, dan berperan aktif di ruang publik,” tuturnya.

Puan melihat bahwa perempuan Indonesia saat ini memiliki peluang lebih besar dibanding masa Kartini. Namun demikian, peluang itu harus dibarengi dengan keberanian, solidaritas, dan kesadaran kolektif untuk melawan sistem yang masih timpang.

Perempuan Indonesia dalam Peran Strategis

Puan menyoroti banyaknya perempuan Indonesia yang telah memegang posisi penting, baik di sektor publik maupun swasta. Ia menyebut bahwa hal ini membuktikan kemampuan perempuan tidak kalah dari laki-laki dalam menjalankan fungsi kepemimpinan, inovasi, dan pelayanan publik.

Namun, ia menekankan bahwa pencapaian ini tidak boleh membuat kita lengah terhadap realitas ketimpangan yang masih terjadi di banyak daerah. Perempuan di wilayah terpencil, minoritas, atau dalam kondisi ekonomi sulit sering kali masih mengalami marginalisasi dan pengabaian hak.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus mengasah kapasitas, menjaga solidaritas, dan berani bersuara dalam menghadapi ketidakadilan.

Seruan Aksi: Lawan Kekerasan, Dukung Kesetaraan

Puan menutup pernyataannya dengan seruan kepada seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Hari Kartini sebagai momen perubahan, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia mendorong masyarakat, khususnya perempuan, untuk aktif memperjuangkan keadilan sosial, kesetaraan hak, dan penghapusan segala bentuk kekerasan berbasis gender.

“Kita harus saling menjaga, saling menguatkan, dan yang terpenting berani bersuara,” tegasnya.

Ia berharap peringatan Hari Kartini 2025 ini akan menjadi tonggak baru dalam gerakan perempuan Indonesia yang lebih terorganisir, vokal, dan strategis. Melalui keberanian untuk melaporkan kekerasan dan menuntut keadilan, Puan yakin perempuan Indonesia mampu mengubah sistem yang masih menindas.

Priscilla Austin

Recent Posts

Pemerintah Pastikan BBM Tak Naik di Tengah Isu Kenaikan Harga

beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…

7 bulan ago

Kejari Karo Bongkar Pola Dugaan Korupsi Jasa Videografi, Amsal Sitepu Jadi Tersangka

beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…

7 bulan ago

Gol yang Lama Dinanti Paul Pogba Akhiri Puasa Empat Tahun

beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…

7 bulan ago

Pejabat Tertinggi Garda Revolusi Iran Gugur dalam Serangan Israel di Bandar Abbas

beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…

7 bulan ago

Trump Manuver Diplomatik Lewat Pakistan, Dorong Gencatan Senjata dengan Iran

beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…

8 bulan ago

Sejarah Baru Moto3 Honda Team Asia Soroti Debut Fantastis Veda Ega Pratama

beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…

8 bulan ago