beritahariini.news – Harga kakao di pasar global melonjak drastis sepanjang tahun 2024, menciptakan tantangan besar bagi industri olahan kakao nasional. Namun, di tengah kenaikan harga tersebut, sektor cokelat artisan berbasis “bean to bar” menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencerminkan peluang besar dalam pengembangan industri kakao Indonesia.
Pertumbuhan Industri Cokelat Artisan Terkait Harga Kakao
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat lonjakan industri cokelat artisan dari 15 unit pada 2023 menjadi 47 unit pada 2024. Direktur Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyatakan bahwa pertumbuhan ini menunjukkan daya saing tinggi sektor cokelat premium di tengah tantangan harga bahan baku yang terus meningkat. Kakao terfermentasi yang digunakan dalam cokelat artisan menawarkan kualitas rasa premium, memberikan nilai tambah pada produk lokal yang bersaing di pasar global.
Konsumen semakin menyadari pentingnya kualitas bahan baku, membuat cokelat artisan berbasis fermentasi menjadi pilihan utama. “Industri ini tumbuh di tengah kondisi sulit, membuktikan bahwa cokelat premium memiliki potensi besar untuk berkembang lebih lanjut,” ujar Putu.
Also Read
Lonjakan Harga Kakao dan Dampaknya
Harga biji kakao global melonjak dari USD 3.280 per ton pada 2023 menjadi USD 10.556 per ton pada 2024. Kenaikan ini memberikan dampak besar pada industri pengolahan kakao nasional, yang sebagian besar bahan bakunya masih bergantung pada impor. Utilisasi industri kakao turun dari 61% pada 2023 menjadi lebih rendah pada 2024 akibat lonjakan biaya produksi.
Putu menambahkan bahwa situasi ini menjadi peluang untuk memperkuat sektor hulu perkakaoan Indonesia. Dengan karakteristik rasa kakao yang unik dari berbagai daerah seperti Jembrana (honey), Nusa Tenggara Timur (nutty), dan Sulawesi (floral), Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat branding produk kakao di pasar internasional.
Upaya Pengembangan Rantai Pasok Kakao
Kementerian Perindustrian telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mendukung keberlanjutan industri kakao melalui inisiatif pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Badan ini bertujuan memperkuat hubungan hulu-hilir dalam rantai pasok kakao.
Salah satu program utama BPDP adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan cocoa doctor. Pada tahun 2024, sebanyak 37 cocoa doctor dilatih di Mars Cocoa Academy untuk memberikan pelatihan kepada lebih dari 3.700 petani kakao di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas lahan kakao hingga mencapai 1-1,5 ton per hektare per tahun melalui praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP).
BACA JUGA : Harga Cabai Melonjak Tajam hingga Rp160.000/Kg, Bapanas Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem
Selain itu, lebih dari 200 tenaga kerja terampil telah dihasilkan dari program ini sejak awal pelatihan. Mereka dibekali keterampilan mulai dari pembibitan hingga penanganan pascapanen, yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas hasil panen.
Tantangan Produksi Kakao Indonesia
Produksi kakao di Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, produksi kakao hanya mencapai 632.117 ton, turun 2,84% dibandingkan 2022. Tren penurunan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi petani kakao, mulai dari cuaca ekstrem hingga serangan penyakit seperti gugur daun Pestalotiopsis.
Luas lahan perkebunan kakao juga menyusut dari 1,42 juta hektare pada 2022 menjadi 1,39 juta hektare pada 2023. Penyusutan ini turut memengaruhi kapasitas produksi nasional dan keberlanjutan sektor kakao di Indonesia.
Namun, potensi besar masih ada. Indonesia memiliki lebih dari 600 varian rasa kakao unik yang dapat dieksplorasi untuk branding dan promosi. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor kakao dapat menjadi andalan untuk memenuhi permintaan pasar premium, baik di dalam maupun luar negeri.
Membangun Masa Depan Industri Kakao
Kenaikan harga kakao seharusnya tidak menjadi hambatan, melainkan peluang untuk mendorong inovasi dan efisiensi dalam rantai pasok. Industri cokelat artisan menjadi contoh keberhasilan, menunjukkan bahwa kualitas produk premium mampu menarik pasar yang luas meskipun di tengah kenaikan biaya bahan baku.
Kemenperin berharap, melalui pelatihan cocoa doctor, peningkatan produktivitas lahan, dan branding produk kakao premium, Indonesia dapat memanfaatkan potensi besar ini. “Dengan pendekatan berkelanjutan, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen kakao utama dunia,” tutup Putu.
Penutup
Industri kakao Indonesia menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga bahan baku dan penurunan produksi. Namun, peluang besar ada dalam pengembangan cokelat premium dan pemanfaatan keunikan cita rasa lokal. Dengan dukungan pemerintah, inovasi dalam pengolahan kakao, dan penguatan rantai pasok, sektor kakao dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan.