Ekonomi

Harga Emas Dunia Naik 5,1 Persen dalam Sepekan Akibat Ancaman Tarif Trump

beritahariini.news – Harga emas dunia naik signifikan sebesar 5,1 persen sepanjang pekan ini, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global. Lonjakan ini dipicu oleh berbagai faktor geopolitik dan ekonomi, terutama ancaman tarif tinggi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyasar Uni Eropa serta perusahaan teknologi besar seperti Apple.

Emas Melonjak ke Level Tertinggi Baru

Pada perdagangan hari Jumat waktu AS (Sabtu pagi WIB), harga emas di pasar spot melesat naik 2,1 persen ke level 3.362,7 dolar AS per ons. Sementara itu, harga emas berjangka di Comex New York Exchange juga mengalami kenaikan yang sama sebesar 2,1 persen, ditutup pada 3.365,8 dolar AS per ons.

Kenaikan tersebut menjadi bagian dari penguatan mingguan emas, yang tidak hanya mencerminkan lonjakan teknikal, tetapi juga menunjukkan kembali fungsinya sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global.

Ancaman Tarif Trump Jadi Pemicu Utama

BACA JUGA: Indonesia Tegaskan Kepemimpinan dalam Ekonomi Hijau pada Kongres Ekologi Nevsky XII di Rusia

Faktor dominan dalam lonjakan harga emas pekan ini datang dari retorika agresif Presiden AS Donald Trump, yang dalam waktu 24 jam terakhir mengeluarkan serangkaian pernyataan kontroversial:

  • Trump merekomendasikan pengenaan tarif sebesar 50 persen terhadap impor dari Uni Eropa mulai 1 Juni 2025.

  • Ia juga mengancam Apple akan dikenai tarif 25 persen untuk produk iPhone yang dijual di AS namun tidak diproduksi di dalam negeri.

Langkah tersebut segera mengganggu sentimen pasar dan mendorong pelaku pasar mengalihkan investasi dari pasar saham ke emas.

Menurut Tai Wong, seorang pedagang logam independen, “Trump telah mengamuk dalam 24 jam terakhir… Hal ini menyebabkan pasar saham terguncang, yang pada akhirnya menjadi berita bagus bagi emas.”

Indeks Dolar Melemah, Emas Semakin Menarik

Selain ancaman tarif, faktor teknikal lainnya turut menopang kenaikan harga emas. Indeks dolar AS melemah 0,9 persen pada perdagangan terakhir. Pelemahan dolar secara historis membuat harga emas menjadi lebih murah bagi investor internasional, khususnya yang memegang mata uang selain dolar.

Efek ini memicu lonjakan permintaan terhadap logam mulia, yang sering dianggap sebagai alternatif perlindungan terhadap risiko pelemahan mata uang dan inflasi.

Kekhawatiran Tambahan dari RUU Pajak AS

BACA JUGA: Tabungan Masyarakat Kelas Bawah Mulai Menguat di Mei 2025, Sinyal Pemulihan Ekonomi?

Kondisi ekonomi AS juga turut memperparah kekhawatiran pasar. Dewan Perwakilan Rakyat AS, yang dikuasai Partai Republik, baru saja meloloskan rancangan undang-undang pajak yang diperkirakan menambah beban utang negara sebesar 3,8 triliun dolar AS dalam satu dekade ke depan.

Dengan total utang yang diperkirakan meningkat menjadi 36,2 triliun dolar AS, investor semakin mempertanyakan ketahanan fiskal ekonomi AS dalam jangka panjang. Kondisi tersebut kembali memicu arus modal ke aset safe haven seperti emas, yang selama ini dipercaya sebagai pelindung nilai ketika tekanan fiskal dan inflasi meningkat.

Potensi Kenaikan Emas Menuju $3.800?

Kenaikan harga emas saat ini membuka spekulasi baru di kalangan analis pasar. Daniel Pavilonis, seorang ahli strategi pasar senior di RJO Futures, menyatakan bahwa jika emas berhasil menembus angka psikologis $3.500 per ons, maka bukan tidak mungkin emas akan terus melonjak hingga $3.800 per ons dalam waktu dekat.

Prediksi ini berangkat dari asumsi bahwa ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar saham, dan beban fiskal AS masih akan membayangi perekonomian global, menciptakan peluang bagi harga emas untuk melanjutkan tren naiknya.

Emas Kembali Jadi Aset Primadona

Dalam sepekan terakhir, emas kembali memperlihatkan daya tariknya sebagai aset pelindung nilai. Kenaikan 5,1 persen bukan hanya menunjukkan kekuatan teknikal dari logam mulia ini, tetapi juga mencerminkan kegelisahan pasar terhadap kebijakan ekonomi dan geopolitik global yang semakin tidak terduga.

Ancaman tarif dari Presiden Trump, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran fiskal akibat RUU pajak menjadi kombinasi sempurna yang mendorong minat investor terhadap emas. Bila tren ini berlanjut, pasar bisa menyaksikan harga emas naik hingga menyentuh rekor baru dalam waktu dekat.

Priscilla Austin

Recent Posts

Pemerintah Pastikan BBM Tak Naik di Tengah Isu Kenaikan Harga

beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…

6 bulan ago

Kejari Karo Bongkar Pola Dugaan Korupsi Jasa Videografi, Amsal Sitepu Jadi Tersangka

beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…

6 bulan ago

Gol yang Lama Dinanti Paul Pogba Akhiri Puasa Empat Tahun

beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…

6 bulan ago

Pejabat Tertinggi Garda Revolusi Iran Gugur dalam Serangan Israel di Bandar Abbas

beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…

6 bulan ago

Trump Manuver Diplomatik Lewat Pakistan, Dorong Gencatan Senjata dengan Iran

beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…

6 bulan ago

Sejarah Baru Moto3 Honda Team Asia Soroti Debut Fantastis Veda Ega Pratama

beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…

6 bulan ago