https://asset.kompas.com/crops/RRLt8QcORLmOXap3B47QPNc3wf8=/0x0:1244x829/1200x800/data/photo/2025/02/26/67bf103fce1a1.jpg
beritahariini.news – Harga emas dunia naik signifikan sebesar 5,1 persen sepanjang pekan ini, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global. Lonjakan ini dipicu oleh berbagai faktor geopolitik dan ekonomi, terutama ancaman tarif tinggi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyasar Uni Eropa serta perusahaan teknologi besar seperti Apple.
Pada perdagangan hari Jumat waktu AS (Sabtu pagi WIB), harga emas di pasar spot melesat naik 2,1 persen ke level 3.362,7 dolar AS per ons. Sementara itu, harga emas berjangka di Comex New York Exchange juga mengalami kenaikan yang sama sebesar 2,1 persen, ditutup pada 3.365,8 dolar AS per ons.
Kenaikan tersebut menjadi bagian dari penguatan mingguan emas, yang tidak hanya mencerminkan lonjakan teknikal, tetapi juga menunjukkan kembali fungsinya sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global.
Also Read
BACA JUGA: Indonesia Tegaskan Kepemimpinan dalam Ekonomi Hijau pada Kongres Ekologi Nevsky XII di Rusia
Faktor dominan dalam lonjakan harga emas pekan ini datang dari retorika agresif Presiden AS Donald Trump, yang dalam waktu 24 jam terakhir mengeluarkan serangkaian pernyataan kontroversial:
Trump merekomendasikan pengenaan tarif sebesar 50 persen terhadap impor dari Uni Eropa mulai 1 Juni 2025.
Ia juga mengancam Apple akan dikenai tarif 25 persen untuk produk iPhone yang dijual di AS namun tidak diproduksi di dalam negeri.
Langkah tersebut segera mengganggu sentimen pasar dan mendorong pelaku pasar mengalihkan investasi dari pasar saham ke emas.
Menurut Tai Wong, seorang pedagang logam independen, “Trump telah mengamuk dalam 24 jam terakhir… Hal ini menyebabkan pasar saham terguncang, yang pada akhirnya menjadi berita bagus bagi emas.”
Selain ancaman tarif, faktor teknikal lainnya turut menopang kenaikan harga emas. Indeks dolar AS melemah 0,9 persen pada perdagangan terakhir. Pelemahan dolar secara historis membuat harga emas menjadi lebih murah bagi investor internasional, khususnya yang memegang mata uang selain dolar.
Efek ini memicu lonjakan permintaan terhadap logam mulia, yang sering dianggap sebagai alternatif perlindungan terhadap risiko pelemahan mata uang dan inflasi.
BACA JUGA: Tabungan Masyarakat Kelas Bawah Mulai Menguat di Mei 2025, Sinyal Pemulihan Ekonomi?
Kondisi ekonomi AS juga turut memperparah kekhawatiran pasar. Dewan Perwakilan Rakyat AS, yang dikuasai Partai Republik, baru saja meloloskan rancangan undang-undang pajak yang diperkirakan menambah beban utang negara sebesar 3,8 triliun dolar AS dalam satu dekade ke depan.
Dengan total utang yang diperkirakan meningkat menjadi 36,2 triliun dolar AS, investor semakin mempertanyakan ketahanan fiskal ekonomi AS dalam jangka panjang. Kondisi tersebut kembali memicu arus modal ke aset safe haven seperti emas, yang selama ini dipercaya sebagai pelindung nilai ketika tekanan fiskal dan inflasi meningkat.
Kenaikan harga emas saat ini membuka spekulasi baru di kalangan analis pasar. Daniel Pavilonis, seorang ahli strategi pasar senior di RJO Futures, menyatakan bahwa jika emas berhasil menembus angka psikologis $3.500 per ons, maka bukan tidak mungkin emas akan terus melonjak hingga $3.800 per ons dalam waktu dekat.
Prediksi ini berangkat dari asumsi bahwa ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar saham, dan beban fiskal AS masih akan membayangi perekonomian global, menciptakan peluang bagi harga emas untuk melanjutkan tren naiknya.
Dalam sepekan terakhir, emas kembali memperlihatkan daya tariknya sebagai aset pelindung nilai. Kenaikan 5,1 persen bukan hanya menunjukkan kekuatan teknikal dari logam mulia ini, tetapi juga mencerminkan kegelisahan pasar terhadap kebijakan ekonomi dan geopolitik global yang semakin tidak terduga.
Ancaman tarif dari Presiden Trump, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran fiskal akibat RUU pajak menjadi kombinasi sempurna yang mendorong minat investor terhadap emas. Bila tren ini berlanjut, pasar bisa menyaksikan harga emas naik hingga menyentuh rekor baru dalam waktu dekat.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…