Ekonomi

Harga Bitcoin Anjlok Usai Shutdown AS Berakhir Apa Penyebabnya

beritahariini.news – Setelah hampir enam minggu sebagian aktivitas pemerintahan di Amerika Serikat kembali normal, pasar keuangan global termasuk aset kripto berreaksi dengan cara yang mengejutkan. Bitcoin yang awalnya menembus US$104.000 tiba-tiba merosot cepat hingga berada di bawah US$100.000 dan sempat menyentuh US$96.000. Penurunan ini menjadi alarm bahwa bukan hanya faktor teknikal dalam kripto, tetapi juga kondisi makroekonomi global yang memengaruhi.

Shutdown dan Likuiditas yang Tertekan

Pemerintah AS akhirnya menandatangani undang-undang pendanaan sementara pada 13 November 2025, mengakhiri shutdown pemerintah federal terlama dalam sejarah AS. Namun yang terlihat di pasar adalah meski aktivitas publik kembali berjalan likuiditas yang selama shutdown sempat terkuras rupanya belum pulih. Data menunjukkan bahwa dana yang biasanya mengalir ke pasar risiko seperti kripto tertahan sementara di akun Kas Umum Departemen Keuangan AS (TGA). Saat likuiditas kembali muncul, investor justru menarik tenaga dari aset berisiko.

Analisis dari beberapa bank besar menunjukkan bahwa penyebab utama pelemahan Bitcoin bukan semata soal suku bunga atau Fed, tetapi lebih karena “krisis likuiditas” dalam sistem keuangan AS.

Yield Obligasi Naik, Sentimen Risiko Meningkat

Seiring berakhirnya shutdown, yield obligasi AS jangka 10 tahun melonjak ke sekitar 4,10% kenaikan yang membuat modal alih ke instrumen “aman” dan menjauh dari aset seperti Bitcoin.

Sementara itu, indeks saham AS seperti Nasdaq dan S&P 500 juga mengalami tekanan tajam pada hari yang sama. Teknologi yang selama ini menopang indeks justru melemah, menciptakan efek risk-off yang menyeret seluruh pasar termasuk kripto.

Baca Juga: Proyek Batu Bara BUMN Dapat Pendanaan Rp 3,5 Triliun

Lonjakan Jual dari Pemegang Lama dan Penurunan Permintaan

Di dalam pasar kripto sendiri, muncul data bahwa pemegang jangka panjang (long-term holders) mulai melepas sebagian aset mereka sekitar 815.000 BTC terjual dalam 30 hari terakhir, level tertinggi sejak awal 2024. Aktivitas ini memberi tekanan tambahan ke pasar.

Permintaan baru juga melemah: dana ETF Bitcoin mengalami aliran keluar, premi Coinbase menjadi negatif, dan sentimen institusional mulai redup. Tanpa pembeli besar untuk menyerap tekanan jual, harga terpaksa turun.

Efek “Berita Baik Ternyata Buruk”

Secara paradoks, berita berakhirnya shutdown yang biasanya dianggap positif ternyata menjadi katalis negatif bagi Bitcoin (dan aset berisiko) kali ini. Alasan pengakhiran shutdown menimbulkan harapan bahwa bank sentral akan menahan pemangkasan suku bunga, atau bahwa likuiditas tambahan tidak secepat yang diharapkan. Pasar kemudian memproyeksikan risiko makro lebih besar.

Dampak Teknis & Volatilitas

Dari sisi teknikal, Bitcoin gagal mempertahankan wilayah US $100.000 sebagai support psikologis. Beberapa analis menunjuk tingkat support berikutnya di kisaran US $93.000 hingga US $97.000. Jika level itu pecah, maka jalan ke bawah bisa menuju US $90.000 atau lebih rendah.

Liquidasi besar turut memicu gejolak: aset kripto lainnya seperti Ethereum dan Solana juga melemah tajam, memperlihatkan bahwa koreksi ini bukan sekadar untuk Bitcoin saja.

Mengapa Ini Penting?

Penurunan ini mengingatkan bahwa Bitcoin kini sangat terhubung dengan dinamika pasar keuangan global dan bukan lagi “bebas” dari pengaruh makroekonomi seperti yang kadangkala diyakini. Dari likuiditas sistem ke efek korelasi dengan saham dan obligasi, semua faktor ini ikut menentukan arah harga.

Untuk investor dan analis, beberapa poin penting yang bisa diambil:

  • Waktu dan sentimen makro: Meskipun Bitcoin sering dilihat sebagai alternatif, ketika investor global berpindah ke mode waspada, kripto ikut terdampak.

  • Daya tahan pemegang lama dan institusi: Jika mereka mulai menjual, maka risiko tren turun menjadi nyata.

  • Basis teknikal penting: Support kritis seperti US $100.000 harus terjaga agar bukan lalu menjadi resistance.

  • Pemicu kebijakan dan likuiditas: Kebijakan bank sentral AS, data ekonomi yang tertunda akibat shutdown, dan aliran modal menjadi variabel kunci.

Baca Juga: Indonesia dan Singapura Perkuat Kerja Sama Fintech untuk Dorong Ekonomi Digital ASEAN

Outlook ke Depan Koreksi atau Pembalikan?

Meskipun kondisi saat ini terlihat menekan, beberapa analis masih optimistis bahwa Bitcoin bisa pulih jika beberapa kondisi terpenuhi:

  • Stabilitas likuiditas di AS meningkat.

  • Kepastian kebijakan moneter (seperti pengakhiran QT atau pemangkasan suku bunga) muncul.

  • Permintaan institusi dan ritel kembali.

Contohnya, bank global memproyeksikan Bitcoin bisa mencapai US $181.000 dalam 12 – 18 bulan ke depan jika pola didukung aset dan likuiditas membaik.

Namun catatannya penurunan hingga US $90.000 tidak bisa dielakkan jika support US $95.000 – US $97.000 gagal terjaga dalam waktu dekat. Pasar saat ini lebih condong ke fase konsolidasi atau koreksi daripada naik cepat.

Ringkasnya

Penutupan shutdown pemerintah AS seharusnya menjadi “pintu” positif masalah likuiditas dan ketidakpastian namun efeknya kali ini berbeda. Bitcoin yang awalnya menguat malah tertekan, karena likuiditas belum pulih, yield obligasi naik, sentimen risiko meningkat, dan tekanan teknikal muncul bersama aksi jual besar.

Bagi investor, ini adalah pengingat bahwa kripto bukanlah alat independen dari ekonomi global justru kini semakin terintegrasi. Bagi spekulator, saat ini mungkin adalah waktu untuk amat hati-hati, memerhatikan support krusial dan kebijakan makro yang berkembang. jangka panjang, peluang masih terbuka tetapi jalan menuju sana tampaknya tidak semulus yang diharapkan.

Priscilla Austin

Recent Posts

Pemerintah Pastikan BBM Tak Naik di Tengah Isu Kenaikan Harga

beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…

6 bulan ago

Kejari Karo Bongkar Pola Dugaan Korupsi Jasa Videografi, Amsal Sitepu Jadi Tersangka

beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…

6 bulan ago

Gol yang Lama Dinanti Paul Pogba Akhiri Puasa Empat Tahun

beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…

6 bulan ago

Pejabat Tertinggi Garda Revolusi Iran Gugur dalam Serangan Israel di Bandar Abbas

beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…

6 bulan ago

Trump Manuver Diplomatik Lewat Pakistan, Dorong Gencatan Senjata dengan Iran

beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…

6 bulan ago

Sejarah Baru Moto3 Honda Team Asia Soroti Debut Fantastis Veda Ega Pratama

beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…

6 bulan ago