Sumber: https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/cgmg3eTEWBUOoRMh0OTDrMwO5Mk=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5009661/original/070662900_1731853753-WhatsApp_Image_2024-11-17_at_21.23.55_c9e96dc7.jpg
beritahariini.news, Jakarta – Debat ketiga Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2024 yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta Selatan, Minggu (17/11/2024), menghadirkan diskusi hangat mengenai solusi banjir ibu kota. Calon gubernur nomor urut 1, Ridwan Kamil, dan calon gubernur nomor urut 2, Dharma Pongrekun, saling beradu pandangan terkait efektivitas Bendungan Sukamahi dan Ciawi sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir.
Dalam sesi tanya jawab, Ridwan Kamil memaparkan analisisnya tentang tiga penyebab utama banjir di Jakarta: limpasan air dari wilayah hulu, dampak perubahan iklim yang meningkatkan permukaan air laut, serta penurunan muka tanah di kawasan pesisir utara. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan holistik, termasuk pembangunan infrastruktur besar seperti Giant Sea Wall, untuk melindungi wilayah pesisir dari risiko tenggelam.
Ridwan Kamil memulai diskusi dengan mempertanyakan efektivitas Bendungan Sukamahi dan Ciawi dalam mengurangi banjir kiriman dari wilayah hulu. Kedua bendungan ini, yang baru saja diresmikan, diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengendalikan aliran air dari kawasan Bogor dan sekitarnya menuju Jakarta.
Also Read
“Menurut Bapak, Bendungan Sukamahi dan Bendungan Ciawi itu efektif tidak dalam mengurangi banjir dari selatan? Kita tahu kan banjir itu ada tiga jenis penyebabnya: kiriman air dari selatan, perubahan iklim yang meningkatkan permukaan laut, dan penurunan tanah di utara,” tanya Ridwan Kamil.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Dharma Pongrekun memberikan pandangan bahwa meskipun Bendungan Sukamahi dan Ciawi memiliki potensi besar, dampaknya saat ini belum terasa maksimal. Menurut Dharma, pengelolaan yang belum optimal menjadi kendala utama dalam pemanfaatan bendungan tersebut.
“Waduk Sukamahi dan Waduk Ciawi baru diresmikan. Sehingga, dampaknya belum bisa dirasakan sepenuhnya karena pengelolaannya belum sesuai dengan peruntukannya,” ungkap Dharma.
Ia menyoroti perlunya tata kelola yang lebih baik agar bendungan tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain seperti penyediaan air bersih bagi warga Jakarta.
“Kalau manajemennya baik, seharusnya warga Jakarta bisa mendapatkan air minum langsung dari bendungan tanpa harus membeli galon lagi,” tambahnya.
Dharma Pongrekun juga menekankan pentingnya sinergi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah daerah di wilayah hulu. Menurutnya, kerja sama lintas wilayah sangat diperlukan untuk memastikan manfaat dari Bendungan Sukamahi dan Ciawi dapat dirasakan secara optimal.
“Pengelolaan bendungan membutuhkan koordinasi yang erat antara Pemprov DKI Jakarta dan wilayah hulu seperti Bogor. Sinergi ini harus dijalankan dengan indikator keberhasilan yang jelas, sehingga semua pihak dapat mengevaluasi pencapaiannya secara objektif,” jelasnya.
Ia juga menggarisbawahi perlunya komitmen jangka panjang dalam memperbaiki tata kelola bendungan dan mengintegrasikan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
Dalam pandangannya, Ridwan Kamil mengapresiasi pembangunan Bendungan Sukamahi dan Ciawi sebagai langkah awal yang baik. Namun, ia menilai bahwa solusi banjir di Jakarta tidak dapat hanya bergantung pada satu atau dua proyek infrastruktur. Menurutnya, diperlukan pendekatan yang lebih strategis untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan penurunan tanah yang semakin mengkhawatirkan.
Baca Juga:
Debat Pilgub: Dukungan Pramono Anung dan Rano Karno Menggandeng Pendukung Anies Baswedan
Ridwan kembali mengangkat pentingnya pembangunan Giant Sea Wall, sebuah proyek raksasa yang dirancang untuk melindungi kawasan pesisir Jakarta dari ancaman kenaikan permukaan air laut. Proyek ini, menurutnya, adalah langkah visioner yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung wilayah pesisir, tetapi juga sebagai ikon pengelolaan lingkungan modern.
Pengamat kebijakan publik, Dr. Faisal Rahman, menilai bahwa diskusi tentang efektivitas bendungan dalam debat kali ini mencerminkan perhatian serius para kandidat terhadap isu banjir, yang merupakan salah satu masalah paling mendesak di Jakarta. Namun, ia juga mengingatkan bahwa infrastruktur seperti bendungan dan tanggul harus diimbangi dengan upaya mitigasi non-struktural, seperti pengelolaan tata ruang yang lebih baik di kawasan hulu dan edukasi masyarakat.
“Bendungan Sukamahi dan Ciawi adalah langkah penting, tetapi tanpa tata kelola yang baik, manfaatnya tidak akan terasa maksimal. Sinergi antarwilayah menjadi kunci, terutama dalam mengintegrasikan kebijakan pengelolaan sumber daya air,” ujarnya.
Debat ketiga Pilgub Jakarta ini menyoroti bahwa solusi banjir tidak hanya tentang membangun infrastruktur fisik, tetapi juga melibatkan pendekatan komprehensif yang mencakup:
Dengan tantangan banjir yang semakin kompleks, diskusi antara Ridwan Kamil dan Dharma Pongrekun dalam debat Pilgub Jakarta menjadi cerminan pentingnya kolaborasi, inovasi, dan komitmen dari semua pihak. Keputusan akhir ada di tangan masyarakat Jakarta pada pemilu mendatang. Siapa pun yang terpilih, tantangan terbesar adalah mengimplementasikan solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan untuk masa depan ibu kota.
beritahariini.news - Pemerintah menyatakan bahwa tidak akan ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi…
beritahariini.news - Kejaksaan Negeri Karo memaparkan secara terbuka modus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan…
beritahariini.news - Setelah penantian panjang yang penuh liku, Paul Pogba akhirnya kembali mencatatkan namanya di…
beritahariini.news - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah seorang pejabat tinggi militer Iran…
beritahariini.news - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Presiden Amerika Serikat Donald…
beritahariini.news - Manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, memberikan pujian luar biasa kepada Veda…