beritahariini.news – Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kemandirian energi, namun hingga kini masih terdapat ribuan dusun di pelosok negeri yang “Mati Lampu” belum tersentuh aliran listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sebanyak 6.700 dusun di Indonesia masih gelap gulita karena belum mendapatkan akses listrik.
Jumlah ini setara dengan sekitar 1,3 juta rumah tangga yang hidup tanpa penerangan memadai, sebuah tantangan besar bagi pemerataan pembangunan dan kedaulatan energi nasional.
Tantangan Besar: 6.700 Dusun Mati Lampu Belum Dialiri Listrik
Dalam kunjungan ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, Bahlil menyampaikan bahwa distribusi listrik di Indonesia masih jauh dari kata merata. Kondisi ini memengaruhi sekitar 340 kecamatan yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia. Menurut Bahlil, untuk memberikan akses listrik ke seluruh wilayah tersebut, pemerintah membutuhkan anggaran besar, mencapai hampir Rp50 triliun dalam kurun waktu lima tahun.
Also Read
“Terdapat 6.700 dusun atau sekitar 1,3 juta rumah tangga yang belum mendapatkan akses listrik. Ini adalah tugas berat yang membutuhkan komitmen besar dari pemerintah dan seluruh pihak terkait,” ujar Bahlil dalam siaran resmi pada Senin (20/10).
Kesenjangan Energi dan Akses BBM
Tidak hanya listrik, akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) dengan harga terjangkau juga menjadi masalah serius. Banyak wilayah pelosok yang masih harus mengandalkan BBM dengan harga jauh di atas standar nasional. Hal ini semakin memperberat beban masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil.
“Sebagian besar masyarakat yang belum dialiri listrik masih menggunakan sumber energi swadaya. Sayangnya, itu pun terbatas dan sering kali membutuhkan BBM yang harganya mahal. Ini adalah tantangan besar yang harus segera diatasi,” tambah Bahlil.
Langkah Konkret Menuju Kemandirian Energi
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah melalui PLN dan Pertamina terus menggencarkan berbagai program demi memastikan akses listrik dan energi dapat dirasakan hingga pelosok negeri. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah pembangunan pembangkit listrik berbasis energi bersih. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan.
“Kami mendukung PLN yang saat ini gencar membangun pembangkit listrik berbasis energi bersih. Selain lebih ramah lingkungan, biaya operasionalnya juga lebih murah dalam jangka panjang,” ujar Bahlil.
Baru-baru ini, pemerintah meresmikan 26 pembangkit listrik yang tersebar di 18 provinsi di Indonesia. Pembangkit-pembangkit ini memiliki total kapasitas 3,2 gigawatt (GW), di mana 89 persen di antaranya menggunakan energi bersih, termasuk PLTA Jatigede di Sumedang, Jawa Barat.
PLTA Jatigede: Solusi Energi Bersih untuk Masa Depan
PLTA Jatigede menjadi salah satu proyek andalan pemerintah dalam upaya mewujudkan kemandirian energi berbasis energi baru terbarukan (EBT). Pembangkit ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di sekitar wilayah Jawa Barat, sekaligus menjadi contoh keberhasilan pengembangan energi bersih.
BACA JUGA : Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Capai 24,06 Juta, Ini Daerah dengan Angka Tertinggi
Dengan kapasitas yang mumpuni, PLTA Jatigede tidak hanya memberikan manfaat secara ekonomi, tetapi juga menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan energi yang lebih ramah lingkungan.
“Peresmian 26 pembangkit listrik ini menandai langkah besar menuju kemandirian energi nasional. Dari total kapasitas 3,2 GW, hampir seluruhnya merupakan energi bersih yang mendukung keberlanjutan,” terang Bahlil.
Komitmen Pemerintah dan Masa Depan Energi di Indonesia dari Mati Lampu
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi tantangan distribusi energi ini. Dukungan penuh akan terus diberikan, baik melalui alokasi anggaran maupun penguatan regulasi. Pemerintah juga memastikan seluruh program yang berkaitan dengan ketahanan energi berjalan lancar dan tepat sasaran.
Namun, Bahlil juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta untuk mencapai target pemerataan energi. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendukung program ini demi menciptakan perubahan yang signifikan bagi masyarakat, terutama mereka yang berada di wilayah terpencil.
Harapan untuk Masa Depan Anti Mati Lampu
Dengan langkah-langkah strategis yang telah direncanakan, pemerintah optimistis dapat mengatasi masalah ketimpangan akses listrik di Indonesia. Pembangunan infrastruktur energi yang lebih merata tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah terpencil.
“Semua ini adalah bagian dari upaya besar kita untuk memastikan bahwa setiap sudut negeri dapat merasakan manfaat dari energi yang berkualitas dan berkelanjutan. Kami berkomitmen untuk mewujudkan Indonesia yang lebih terang, baik secara harfiah maupun metafora,” tutup Bahlil.
Melalui program dan kebijakan yang tepat sasaran, diharapkan mimpi tentang kemandirian energi di Indonesia bukan lagi sekadar wacana, melainkan menjadi kenyataan yang dirasakan oleh seluruh masyarakat, tanpa terkecuali.